Banjir Benjeng Masih Bertahan

Banjir akibat luapan Kali Lamong belum juga surut, Sabtu (26/3) siang ini banjir di tiga Kecamatan di Kabupaten Gresik masih bertahan, ketinggiannya mencapai lebih dari 1 meter. Diperkirakan banjir ini akan berlangsung cukup lama, karena selain curah hujan yang tinggi, air laut saat ini dalam posisi pasang.

“Pagi ini ketinggian air bertambah. Kali Lamong terus meluap karena mendapat kiriman dari hulu seperti Jombang, Mojokerto, dan Lamongan. Selain itu, hujan lokal juga tidak kunjung reda. Ditambah lagi, air laut saat ini sedang pasang. Tanggul Kali Lamong di Desa Pandu saat ini sudah jebol,” kata Kapolsek Cerme, AKP Udin Syafrudin.

Saat ini ada 13 desa di Kecamatan Cerme yang terendam banjir, yaitu Desa Morowudi, Iker-Iker Geger, Dungus, Dadapkuning, Dampaan, Ngembung, Cermekidul, Lengkong, Dooro, Sukoanyar, Guranganyar, Jono, dan Pandu. Sedikitnya 1.192 rumah serta 811 hektare sawah dan tambak terendam.

Lebih lanjut dia menjelaskan jika akses di Jalan Raya Cerme lumpuh total. “Arus air semakin deras, beberapa ruas jalan rusak tergerus arus, sekarang lalu lintas total kami tutup,” ujar Kapolsek.

Kondisi hampir sama terjadi di Kecamatan Benjeng. Jika Jumat kemarin banjir yang menggenangi 9 desa di kecamatan ini sudah mulai surut, Sabtu pagi tadi sekitar pukul 05.00 kiriman air dari hulu Kali Lamong datang lebih besar.

“Berdasarkan informasi yang dan data yang kami peroleh di lapangan, kondisi banjir pagi ini lebih besar dibandingkan dengan banjir-banjir sebelumnya. Jika hujan di daerah Jombang, Mojokerto, dan Lamongan tidak reda, banjir akan berlangsung cukup lama. Apalagi air laut sedang pasang,” kata Kapolsek Benjeng, AKP Imam Syafi’i.

Sembilan desa di Kecamatan Benjeng yang tergenang banjir, yaitu Desa Munggugianti, Sedapurklagen, Kedungrukem, Deliksumber, Kalipadang, Lundo, Sirnoboyo, Bulangkulon, dan Bulurejo.

Di Kecamatan Balongpanggang banjir juga belum surut. Ada delapan desa di Balongpanggang yang masih terendam banjir, antara lain Desa Ngampel, Dampet, Tanah Landean, Sekar Putih, Wotansari, Banjar Agung, Pucung, dan Kedungpring.

Sementara itu,Dua jembatan di Desa Bengkelolor dan Bulangkulon Kecamatan Benjeng Kabupaten Gresik nyaris ambrol akibat banjir. Dua jembatan kayu ini sama sekali belum pernah tersentuh perbaikan selama puluhan tahun. Jembatan di Kali Lamong ini pasti terendam saat Kali Lamong meluap seperti sekarang ini. Padahal jembatan yang menghubungkan antar desa di Kecamatan Benjeng ini terbilang padat volume kendaraannya.

“Pengguna jembatan, baik kendaraan roda empat dan dua terbilang ramai melintas. Karena memang jembatan ini adalah akses utama penghubung antardesa di sini. Pada saat banjir seperti sekarang ini, otomatis aktivitas warga tertunda karena jembatan pasti terendam. Warga takut melintas, karena kondisi jembatan kayu ini memang sangat mengkhawatirkan, meliuk-liuk dan nyaris ambrol,” kata Khusnan, warga Desa Benkelolor, kemarin.

Kondisi ini sudah berlangsung sejak 15 tahun lalu, tapi sama sekali belum ada upaya dari pemerintah kabupaten untuk memperbaikinya. “Jembatan ini sudah berusia 60 tahun, dan 15 tahun ini kondisinya sudah mebahayakan, tapi hingga sekarang belum ada perbaikan, dan sekarang kondisinya semakin parah,” terangnya.

Koordinator Tanggap Siaga Bencana (Tagana) Kabupaten Gresik, Abdul Muchid, menambahkan, jembatan akan semakin melengkung jika tidak segera diperbaiki. Selalu terendam minimal 15 centimeter pada saat Kali Lamong meluap. “Kami berharap pemerintah segera memperbaikinya, kekuatan jembatan semakin membahayakan jika dibiarkan begitu saja. Terlebih pada saat Kali Lamong meluap, arus sungai yang deras juga membuat jembatan yang menghubungkan Desa Bengkelolor dan Bulurejo semakin ambles,” terangnya.

Akses perekonomian setempat, imbuhnya, selalu terputus pada saat Kali Lamong meluap, karena jembatan yang panjangnya sekitar 60 meter dan lebar tiga meter ini tertutup air. “Pada saat banjir, semua kegiatan warga di sini tertunda,” tandas Muchid.

Kondisi yang sama juga terjadi di jembatan Desa Bulangkulon, ambles hingga nyaris ambrol. Empat desa di Kecamatan Benjeng ini yang akses utamanya melalui jembatan Bulangkulon ini terisolir, antara lain Bulangkulon, Lundo, Balungrejo, dan Balungtanjung.

“Kami dari dulu dan sudah berkali-kali mengajukan usulan perbaikan ke pemerintah kabupaten, tapi hingga sekarang belum ada respon sama sekali. Kami harap jembatan ini segera diperbaiki, karena kondisinya sudah membahayakan, dan selalu mengganggu aktivitas warga saat Kali Lamong meluap. Saat normal saja, pengguna jembatan harus hati-hati melintas, apalagi saat ruas jembatan tertutup air seperti sekarang,” kata Bani Iswanto, Kepala Desa Bulangkulon.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kabupaten Gresik Tugas Husni Syarwanto membenarkan jika pihaknya telah menerima laporan amblesnya kedua jembatan kayu tersebut sejak lama. Tapi hingga saat ini dia mengaku tidak bisa berbuat banyak karena tidak tersedianya anggaran perbaikan. “Betul, jembatan tersebut sudah tidak layak. Perbaikannya memerlukan anggaran yang sangat banyak. APBD tahun ini juga tidak menganggarkan dana, karena jembatan itu merupakan jembatan desa. Warga sekitar bisa berputar melewati Jembatan Kacangan,” terang Tugas.

Lebih lanjut dia mengungkapkan jika perbaikan dua jembatan tersebut masing-masing mencapai Rp 25 miliar, karena keduanya memiliki bentang 100 meter melintasi Kali Lamong. “Anggaran perbaikan yang sangat besar inilah yang menjadi masalah,” ujarnya.

Rate this article!