Diplomasi Sate Laler Ala Calon Bupati Gresik 2020

banner 468x60

Senin Sore itu (23/9/2019) di dusun Srembi Kebomas cuacanya sangat cerah. Beberapa orang bergerombol di teras rumah besar nan asri. Mereka menunggu sang tuan rumah yang belum juga datang. Ditemani beberapa penghuni rumah mereka ngobrol sekenanya.

Tepat pukul 16.40 sang tuan rumah datang dan acara langsung dimulai.
Sore itu Fandi Ahmad Yani ketua DPRD Kab Gresik yang baru saja di lantik mengundang teman-teman wartawan untu tasyakuran di rumahnya.

Tidak ada yang istimewah dalam acara tersebut, salain ngobrol santai dan makan bareng dengan menu sate laler (Sate kambing yang dipotong kecil-kecil) tiba-tiba datang wakil ketua DPRD Kab Gresik Asluchul Alif Maslichan datang, sontak teman-teman wartawan mengalihkan pandangan.

Setelah bersalaman dengan wartawan yang hadir. Alif berbaur dengan undangan ngobrol dan bercanda santai.
Sambil mencicipi hidangan, saya menghampiri kedua tokoh mudah Gresik ini.

Saya beranikan diri untuk bertanya kedua pimpinan DPRD Kab Gresik yang sama-sama keder NU.

“Apa ada Agenda lobi Pilkada 2020”
Fandi Ahmad Yani hanya tertawa tanpa keluar sepatah kata.
Namun Asluchul Alif Maslichan punya jawaban mencengangkan. Politisi Gerindra ini mejawab dengan lugas. “ya kita lagi mendiskusikan masalah-masalah Gresik termasuk Pilkada”

Dua Politisi muda ini memang bukan kenal kemarin sore, keduanya merupakan teman nyantri di Gus Ali (KH Agus Ali Masyhuri) Tulangan Sidoarjo.

Asluchul Alif Maslichan adalah Dokter yang kini terjun di dunia Politik dan sekarang wakil ketua DPRD Kab Gresik. Dia merupakan kandidat calon bupati dari Partai Gerindra.

Sementara Fandi Ahmad Yani merupakan pengusaha transportasi yang sukses di Gresik yang saat Pemilu Legeslatif lalu merupakan Calon Anggota DPRD dari Partai PKB yang mempunyai suara terbanyak dan kini menjabat Ketua DPRD Gresik.

Kedua Pimpinan dewan ini merupakan pimpinan pembelajar, mereka tidak ingin ketinggalan dengan para politikus senior yang dipimpinnya. Keduanya tidak malu untuk bertanya kepada siapa saja atas tugas-tugas yang diemban sebagai Pimpinan dewan.

Mereka maraton belajar membedah anggaran, berdiskusi terkait Ranperda yang masih belum kelar, bertanya pada Organisasi Perangkat Daerah (OPD).
Asluchul Alif Maslichan malah mengaku harus belajar dengan keras dan cerdas guna menutupi kekurangan yang ada.

Sementar itu Pasangan Politisi muda yang maju dikontestasi Pilkada dan skses sudah banyak contohnya. Di Trenggalek misalnya ada Emil Elestianto Dardak dengan Mochammad Nur Arifin yang sukses mengangkat Trenggalek menjadi Kabupaten yang diperhitungkan di tingkat nasional lewat upaya pengentasan kemiskinannya yang melibatkan partisipasi warganya. Kini Emil naik tahta menjadi wakil Guburnur Jawa Timur mendampingi Khofofah Indar Parawansa.

Ada juga Taj Yasin Maimoen, politisi muda usia 34 Th yang sukses mendampingi Ganjar Pranowo untuk membangun Jawa tengah.

Dr. K.H. TGH. Muhammad Zainul Majdi, M.A atau yang akrab disapa Tuan Guru Bajang adalah Gubernur Nusa Tenggara Barat 2 periode, masa jabatan 2008-2013 dan 2013-2018. Pada saat dilantik sebagai Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) pada tanggal 17 September 2008, usianya 36 tahun.

Muhammad Ridho Ficardo, S.Pi, M.Si adalah Gubernur Lampung yang menjabat pada periode 2014-2019. Ia bersama wakilnya Bachtiar Basri dilantik pada 2 Juni 2014 di gedung DPRD Lampung. Ia merupakan gubernur termuda saat dilantik yang dipilih oleh rakyat, ia dilantik pada usia 33 tahun.

Rekor kepala daerah termuda di Indonesia jatuh pada Bupati Bangkalan, Jawa Timur, Mohammad Makmun Ibnu Fuad. Dia dilantik sebagai bupati oleh Gubernur Jatim, Soekarwo waktu itu di usianya yang masih 26 tahun. Makmun menang telak dalam perhelatan Pemilihan Bupati Bangkalan pada Desember 2012

Mardani H. Maming, yang biasa dipanggil Mardani, adalah Bupati Kabupaten Tanah Bumbu masa jabatan 2010-2015 yang lahir di Batulicin, 17 September 1981.

Yopie Arianto, dilantik menjadi Bupati Indragiri Hulu pada 3 Agustus 2010. Saat itu umurnya baru menginjak 30 tahun.

Muhammad Syahrial menjadi pusat perhatian karena menjadi kepala daerah termuda di Indonesia. Dia dilantik sebagai wali kota Tanjung Balai, Sumatera Utara, di usia 26 tahun.

Airin Rachmi Diany lahir di Banjar pada 28 Agustus 1976. Di usianya yang ke 35 tahun, Airin menjabat posisi sebagai Walikota Tanggerang selama periode tahun 2011 sampai tahun 2016.

Apakah dua politisi mudah Gresik ini cocok maju berpasangan dalam Pilkada 2020 mendatang. Warga Gresik lah yang akan menilai dan pimpinan di DPP Partai masing-masinglah yang mampu menyandingkannya.

Kalau melihat kebutuhan pembangunan Gresik kedepan yang banyak melibatkan kaum millenial maka pasangan muda yang smart dan mau terus belajar akan banyak menarik perhatian pemilih.

Gresik kedepan dibutuhkan pemipin yang smart dalam mengemban amanah, tidak hanya pandai memperbanyak tetenger kota, tapi mampu berinovasi, mampu membahagiakan warganya tanpa harus menyusahkan warga yang lain.

* Akhmad Sutikhon Pemimpin Redaksi kabargresik.com

Tags: