PKL Kapten Dulasim Dipersoalkan Warga

Kabargresik_ Sentra pedagang kaki lima (PKL) Jalan Kapten Dulasim yang diresmikan 1 Maret 2014 menjadi bom waktu. Pasalnya, warga dari empat kelurahan terdampak akibat penutupan jalur Kapten Duasim mulai keberatan.

 

Empat kelurahan di Kebomas dan Gresik terdampak atas penutupan Jalan Kapten Dulasim yaitu Kelurahan Indro, Karang Kering, Sidorukun dan Kelurahan Keramat. Keempat kelurahan ini kini  membentuk paguyuban berupa penolakan sentra PKL Kapten Dulasim. Surat tersebut dikirim ke pimpinan DPRD Gresik.

 

“Kami sudah layangkan surat keberatan ke dewan. Kami juga melayangkan surat ke Bupati Gresik tapi tidak ada tindak lanjut,” kata Irwan, warga Kelurahan Indro, Kecamatan Kebomas.

 

Kebratan mereka memang beralasan, sebab Jalan Kapten Dulasim merupakan akses utama warga Indro, Karang Kering, Sidorukun dan Keramat. Bila jalur padat tersebut ditutup mulai pukul 17.00 hingga 24.00 WIB, maka warga harus berputar untuk keluar masuk ke ke kawasan kota. Bisa lewat jalur Jalan Darmo Soegondo atau jalur Jalan Agus Salim.

 

Tidak hanya warga yang merasa dirugikan saat penutupan program PKL Kapten Dulasim, namun ratusan karyawan juga. Mengingat, di kawasan Kapten Darmo Soegondo merupakan kawasan industri, dainatarnya PT Wilmar, PT PHE dan PT Nusantara Plywood.

 

“Kami keluar dari pabrik (Wilmar, red) pukul 17.00 WIB, tapi Kapten Dulasim sudah ditutup, kami terpaksa berputar jauh. Belum lagi yang kena giliran masuk malam, terpaksa berputar,” aku Arief, 37, warga Jalan Perum Pondok Permata Suci (PPS) yang menjadi subkon di PT Wilmar Nabati Indonesia.

 

Selain warga dan pekerja, para pemilik warung kopi sepanjang Jalan Kapten Dulasim juga merasa dirugikan. Sebab, dagangan mereka tertutup dengan tenda-tenda PKL. Bahkan, biasanya pembeli ramai saat pulang kerja, sejak ditutup menjadi sepi, karena tidak ada pembeli.

 

“Kami tidak masalah dengan program sentra PKL, tapi harusnya warga aseli bukan pendatang. Kami yang warga aseli menjadi korban para pendatang,” ujar Wahab, 36, pemilik salah satu warkop asal kecamatan Dukun.

 

Karena itu, warga, pekerja maupun pemilik usaha di Jalan Kapten Dulasim mendesak Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM Gresik untuk merubah konsep sentra PKL Kapten Dulasim yang menutup jalur utam dari 17.00 WIB hingga 24.00 WIB setiap harinya.

 

“Kesannya ini dipaksakan. Kami melihat lebih kental nuansa politisnya,” kata Wahab.

 

Menyikapi hal itu, Kadisperindagkop dan UKM Gresik M Najikh menyatakan, pada dasaranya tidak ada persoalan denhan warga. Karena sudah tuntas perundingannya dengan warga. Kalaupun ada protes sedikit itu dinilainya wajar.

 

“Sudah selesai. Cuman memang kami tinggal menyesuaikan kondisi, sambil melihat perkembangan yang ada di lapangan,” tukasnya.(mik)

 

editor: zumrotus

Rate this article!
Tags: