Stesia Ajari IKM Gresik Kelola Keuangan Dengan Tepat

kabargresik.com Penyakit dari pelaku usaha kecil adalah tidak tertib dalam administrasi, inilah yang menjadi fokus pelatihan bagi pelaku usaha kecil di Gresik.
Dinas Koperasi, Usaha Mikro Dan Perindag (Diskoperindag) Kabupaten Gresik menggandeng Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia (STIESIA) Surabaya untuk melakukan pembinaan bagi Pelaku Industri Kecil Menengah (IKM) di Gresik,

Ada 50 orang pelaku Industri Kecil Menengah (IKM) yang ikut pembinaan yang berlangsung di Ruang Rapat Diskoperindag Gresik, Jum’at (11/5/2018). Pada Pembinaan yang dilakukan oleh LPPM Stiesia kali ini yaitu tentang pengawetan makanan dan minuman serta pembuatan neraca keuangan.

Hal ini senada keinginan pihak Diskoperindag Gresik yang disampaikan oleh Kepala Dinasnya Agus Budiono. Katanya, agar produk para IKM Gresik bisa diterima masyarakat. Maka perlu kiranya menggunakan bahan bahan terbaik.

“Jangan sekali-kali menggunakan pengawet, pewarna, dan pemanis yang tidak aman. Gunakan yang alami atau yang sudah direkomendasikan oleh Pihak Dinas/Departemen Kesehatan atau BP. POM. Hal ini penting, apalagi ada produk yang penjualannya sampai ke luar negeri” katanya.

Agus Budiono juga menyampaikan kepada para pelaku IKM yang hadir untuk segera mengurus hak patent. Menurut Agus Budiono jumlah IKM Gresik yang punya merek dan hak patent hanya sekitar 4%.

“Manfaatkan kesempatan ini terutama bagi mereka yang sudah punya merek agar mengurus hak patentnya. Daripada mengurus sendiri dengan biaya jutaan, lebih baik memanfaatkan kesempatan ini mengurus hak patent gratis melalui Diskoperindag” harapnya.

Sementara Ketua LPPM STIESIA Surabaya. Prof. Ir. Hening Widi Oetomo mengatakan, selain peningkatan kinerja LPPM dalam pengabdian masyarakat, kegiatan ini untuk meningkatkan kemampuan dan kualitas IKM di daerah.

“Kami sadar, materi yang kami berikan ini sangat dibutuhkan oleh para pelaku IKM. Kami menggandeng Universitas WR Supratman Surabaya untuk materi pengawetan makanan dan minuman. Sementara pihak Universitas Stiesia memberikan materi pembuatan neraca keuangan” katanya.

Masih menurut Hening Widi Oetomo, pihaknya melihat selama ini para pelaku IKM jarang membukukan keuangannya dengan baik. Sehingga antara modal dan keuntungan tidak termonitor dengan baik.

Disinilah kami melatih pembuatan neraca keuangan. Tentunya kedepan agar usaha mereka lebih akuntabilitas. Ketika Neraca keuangannya sudah baik, tentu mereka lebih optimis dalam pengembangan usaha. Dari segi permodalan akan lebih mendapat kepercayaan dari Bank dan pemasaran akan semakin baik. (Tik)

Tags: