Terminal Kargo Peluang Bisnis Baru Di Gresik

peti-kemaskabargresik_ Adanya 1.400 industri berdiri di Kab Gresik menjadi peluas tersendiri bagi usaha terminal Kargo. Sayangnya, hingga kini belum ada investor yang melirik bsnis tersebut. padahal infrastruktur yang ada di Gresik sangat menunjang.

Sejumlah kalangan menilai ini sebagai peluang. Jika dibangun pemerintah dalam bentuk Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) diyakini akan menyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD) cukup besar. Dan jika dibangun swasta, dapat mendulang untung.

“Selama ini kita memang belum memiliki terminal kargo. Jadi truk-truk parkir di mana saja, asal tidak di tempat yang dilarang dan tidak mengganggu lalu lintas,” ujar Andhy Hendro Wijaya, Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gresik saat berbincang dengan wartawan di kantornya beberapa waktu lalu.

Sebenarnya, pembangunan terminal kargo ini menjadi progran usulannya. “Sebenarnya, jika Klinik Konsultasi Bisnis (KKB) tidak lebih dulu diminta untuk Pasar Ikan Modern, pasti sudah kami minta untuk pembangunan terminal kargo,” terangnya.

Menurut dia, KKB sebenarnya sangat potensial untuk terminal kargo. Lokasinya di Jalan Raya Ambeng-ambeng, berada di dekat terminal bus, tidak jauh dari pintu tol Bunder, dan di jalur utama jalan nasional.

“Terminal kargo memang sangat potensial untuk menyumbang PAD,” imbuhnya.

Lebih lanjut dia mengungkapkan, pembangunan terminal kargo memang paling potensial berada di daerah Bunder, atau sepanjang jalan hingga Duduksampeyan yang berbatasan langsung dengan Lamongan. “Ini merupakan jalur utama truk. Menurut pantauan kami, truk dari arah Semarang ataupun Jakarta lebih banyak melintas di kawasan Bunder daripada di Kecamatan Manyar (Pantai Utara/Pantura),” ungkapnya.

Hal senada juga disampaikan Tarso Sagito, mantan Kepala Dishub Pemkab Gresik. “Membangun terminal kargo di Gresik memang sangat potensial,” ujar Tarso yang saat ini menjabat sebagai Asisten III (Administrasi Umum) Sekretariat Daerah Gresik.

“Kalau hanya untuk menambah PAD Rp10 juta per hari, pasti bisa dari terminal kargo,” imbuhnya.

Dia bercerita, ada kejadian yang tak terlupakan saat dia menjabat sebagai Kepala Dishub Gresik beberapa waktu lalu. “Saya pernah melakukan operasi, melarang truk untuk masuk ke kota di jam tertentu. Si sopir truk cukup cerdas, dia bilang: Saya harus parkir di mana? Bapak melarang saya masuk kota dan juga parkir di pinggir jalan, dengan alasa¬† macet. Tapi pemerintah Bapak tidak menyediakan terminal kargo,” ujar Tarso menirukan sang sopir truk.
“Apa yang disampaikan sopir itu benar,” imbuhnya.

Dari kejadian itu, lanjut Tarso, sebenarnya sudah dapat dilihat betapa potensialnya membangun terminal kargo di Gresik. “Kalau saat ini saya punya duit besar, pasti saya akan membangun terminal kargo yang akan dikelola dengan sistem swasta. Jelas akan untung besar, karena Pemkab Gresik sendiri sampai sekarang belum memiliki terminal kargo,” ujarnya.

Sedikit berbeda dengan Andhy, Tarso berpendapat jika terminal kargo potensial tidak hanya dibangun di daerah Bunder-Duduksampean, tapi juga di sepanjang jalan Pantura Kecamatan Manyar. “Dua jalan itu adalah jalan nasional, dan pasti dilalui truk besar,” tandasnya.

Untuk membangun terminal kargo di daerah Bunder hingga Duduksampean memang membutuhkan biaya yang tidak murah. “Tapi jika sehari bisa mendapatkan Rp10 juta, dalam setahun bisa dapat Rp3,65 miliar. Tapi kalau masalah tanah, itu kan bisa dihitung investasi. Hampir tidak mungkin tanah harganya turun,” pungkasnya.

Sementara itu Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bapelitbangda) Kabupaten Gresik, Tugas Husni Syarwanto juga menilai, pembangunan terminal kargo di Gresik sangat potensial. Tahun ini pihaknya akan melelang kajiannya.

“Memang sangat potensial. Kita tahun ini akan melakukan kajian, terkait kelayakannya. Saya lupa besar anggarannya, pastinya akan dilelang tahun ini. Untuk jasa konsultasi senilai Rp 50 juta sudah harus dilelang,” ujarnya, Selasa (19/1/2016).

Kajian itu, tambah mantan Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kabupaten Gresik itu, akan menilai sejauh mana kelayakan terminal kargo itu dibangun. “Jika layak, maka akan dibangun dimana, berapa potensi pendapatan yang akan didapat, bahkan sampai rincian berapa biaya investasinya,” terangnya.

Tapi dari perkiraan awal, diungkapkan Tugas, terminal kargo sangat potensial dibangun di antara Bunder sampai Duduksampean, Manyar, dan Driyorejo. “Tapi mungkin kami akan fokus di dekat kota dulu, ini juga terkait penataan kota. Untuk Driyorejo tahapan selanjutnya,” katanya.

Lebih lanjut Tugas menerangkan, terkait investasi memang membutuhkan biaya yang tidak murah untuk membangun terminal kargo. Menurutnya, untuk membangun terminal kargo membutuhkan luas lahan minimal 10 hektare, jika harga tanah di antara Bunder sampai Duduksampean sudah menyentuh angka Rp 2,5 juta, maka butuh dana minimal Rp 250 miliar hanya untuk pengadaan lahan. “Tapi lahan itu kan sudah menjadi aset yang harganya tidak mungkin turun,” tutup Tugas. (tik/K2)

About Editor02

Check Also

Urusan Permodalan Petani Petro Punya Solusi Tepat

Petrokimia Gresik,  menggandeng Bank BRI Kantor Wilayah (Kanwil) Surabaya untuk menjamin akses permodalan petani di …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *