GIRIMU.COM — Ahad, 25 Januari 2026 di sebuah aula kebanggaan PDM Gresik di Gedung Dakwah Muhammadiyah (GDM) yang suhunya terjaga ketat, kepulan asap kopi dan aroma kertas baru bertemu dengan deru mesin industri yang mengepung Gresik dari segala penjuru.
Pagi itu, wajah-wajah serius para pimpinan dan kader Muhammadiyah Gresik berkumpul. Mereka bukan hendak membahas fikih klasik yang berdebu, melainkan sedang merajut peta jalan (road map) untuk sebuah organisasi yang usianya jauh lebih tua dari republik ini.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Rapat Kerja Daerah (Rakerda) PDM Gresik kali ini bukan sekadar seremoni penggugur kewajiban organisasi. Di tengah lanskap Gresik yang berubah dari kota santri menjadi raksasa industri Muhammadiyah sedang diuji: sejauh mana kredo Islam Berkemajuan bisa selaras dengan deru investasi dan marginalisasi sosial di akar rumput.
Bukan Sekadar Papan Nama
Keberadaan Muhammadiyah di Gresik bisa dibilang lumayan besar. Sekolah, rumah sakit, pesantren, kampus, hingga panti asuhan berdiri kokoh dengan papan nama cat biru-putih yang khas.
Namun, dalam “diskusi pinggiran” yang berkembang di sela-sela raker, ada kegelisahan yang menyelinap. Para peserta sadar, bahwa kejayaan infrastruktur fisik tidak boleh melupakan “ruh” gerakan.
Jika dulu Muhammadiyah dikenal karena ijtihad pendidikannya, kini tantangannya adalah bagaimana amal usaha tersebut tidak terjebak dalam birokrasi yang kaku. Rakerda ini menjadi momentum untuk melakukan otokritik. Ada upaya nyata dari para pimpinan untuk menggeser paradigma dari sekadar “menjaga aset” menjadi “menggerakkan manfaat.” Dan, ijtihad ekonomi menjadi hal yang diseriusi untuk mengoptimalkan peran persyarikatan di masyarakat.
Menyentuh Sektor Riil
Salah satu sorotan menarik dalam perhelatan ini adalah keberanian PDM Gresik untuk mulai melirik sektor ekonomi riil secara lebih agresif. Di kota di mana cerobong asap sejumlah pabrik menjadi pemandangan harian, Muhammadiyah mencoba masuk ke celah-celah pemberdayaan ekonomi umat yang lebih membumi.
Ini adalah politik dakwah yang cerdas. Muhammadiyah tidak lagi hanya bicara tentang cara salat yang benar, tapi juga tentang bagaimana memastikan jamaahnya punya kedaulatan pangan dan akses ekonomi yang adil. Rakerda ini mencatat “ambisi-ambisi” itu dalam poin-poin program kerja yang progresif, meski tentu saja, ujian sesungguhnya ada pada eksekusi, bukan pada diksi di atas kertas.
Oksigen Baru untuk Kaderisasi
Di sudut lain ruangan, nampak wajah-wajah muda dari jajaran Ortom (Organisasi Otonom) dan Unsur Pembantu Pimpinan ( UPP) PDM yang dipenuhi para generasi muda muhammadiyah. Kehadiran mereka adalah oksigen bagi organisasi yang terkadang rentan mengalami penuaan dini secara ideologis. Rakerda ini nampak memberikan ruang bagi regenerasi, meskipun gesekan antara semangat puritan angkatan tua dan progresivitas angkatan muda tetap menjadi bumbu yang tak terhindarkan.
Namun, di situlah letak kekuatannya. Muhammadiyah Gresik menunjukkan, bahwa perbedaan pendapat dalam sebuah rapat adalah “laboratorium” akal sehat. Tidak ada instruksi buta; yang ada adalah adu argumentasi demi kemaslahatan.
Epilog
Ketika palu sidang diketuk menandai berakhirnya raker, para peserta keluar ruangan dengan membawa tumpukan berkas. Namun, yang lebih penting dari berkas itu adalah beban moral untuk membuktikan, bahwa Muhammadiyah Gresik tetap menjadi suluh peradaban di tengah redupnya nilai-nilai kemanusiaan akibat gesekan industrialisasi.
Gresik bukan hanya butuh gedung beton baru, tetapi juga perlu gerakan yang mampu menyentuh sisi paling sunyi dari kemiskinan dan ketidakadilan. Dan, Rakerda ini, setidaknya telah meletakkan fondasi harapan baru untuk mengembangkan peran konkret untuk kemaslahatan danpergerakan persyarikatan. (*)
Penulis: M. Islahuddin, Kader Muda Muhammadiyah Gresik.
Post Views: 4












