Seragam Gratis Guncang Pasar Seragam Gresik

- Editorial Team

Kamis, 17 Juli 2025 - 16:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kabar Gresik – Program seragam sekolah gratis dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gresik tetap berlanjut di tahun ajaran 2025/2026, meski sempat muncul wacana penghapusan. Namun, di balik kelanjutan program ini, para pedagang dan penjahit seragam sekolah di Pasar Gresik justru terpukul.

Pemkab Gresik mengalokasikan anggaran sekitar Rp 5,5 miliar dalam APBD 2025. Dana itu digunakan untuk membagikan seragam kepada 21.444 siswa SD dan 15.378 siswa SMP, baik negeri maupun swasta. Seragam yang diberikan berupa kain putih-merah dan pramuka untuk siswa SD serta putih-biru dan pramuka untuk siswa SMP.

Namun, program tersebut berdampak besar terhadap pelaku usaha seragam. Penjualan seragam sekolah di Pasar Gresik anjlok hingga 80 persen dibanding sebelum pandemi.

“Pendapatan saat tahun ajaran baru dulu bisa sampai Rp 10-15 juta per hari. Sekarang sudah di bawah Rp 10 juta,” kata Nifa Finnur, pemilik toko seragam Ni’mah, Kamis (17/7).

Menurutnya, tren belanja masyarakat sudah turun sejak pandemi. Namun, pembagian seragam gratis semakin memperdalam penurunan permintaan seragam di pasar.

Untuk menyiasatinya, Nifa mulai menjual baju kerja dan seragam guru secara daring. “Awalnya ramai, saya jual lewat Facebook dengan sistem COD. Tapi sekarang juga mulai sepi,” ujarnya.

Nasib serupa juga dirasakan para penjahit. Umi Zaini, pemilik toko jahit Restu Bunda, mengaku jumlah pelanggan yang menjahitkan seragam semakin menurun.

Baca Juga :  Mencari Rezeki Yang berkah Dari Air TDS

“Garapannya ramai kemarin. Mungkin karena sudah banyak yang dikasih seragam jadi,” tuturnya.

Menurut Umi, tantangan lain adalah waktu pengerjaan yang sangat singkat.

“Kalau menjahit dari awal sampai pasang bet, satu stel Rp 200 ribu. Tapi kainnya datang mendadak, kadang hanya 10 hari sebelum sekolah dimulai. Jadi kami kewalahan, banyak yang terpaksa saya tolak,” jelasnya.

Dalam sehari, ia hanya mampu menyelesaikan dua stel seragam. Ketika pesanan datang bersamaan dari berbagai sekolah, banyak penjahit memilih menolak pesanan demi menjaga kualitas dan ketepatan waktu.

“Kalau numpuk, tidak enak juga sama pelanggan. Kami tidak bisa terima semua,” pungkasnya.

Penulis : Daniel Andayawan

Editor : Tiko

Follow WhatsApp Channel www.kabargresik.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Damar Kurung Food Festival Kembali Dibuka, Hadirkan Kuliner hingga Lomba Anak
RUU Migas 2026: Pertamina Didesak Jadi BUK Migas Nasional
Kelangkaan BBM Di Bali, FSPPB Minta Tata Kelola Migas Dirombak
RUU Migas Kritis: BUK Tanpa Usaha Dinilai Ganti Baju
Media Lokal Khawatir Wacana Link Tax Ancam Trafik dan Pendapatan
Petrokimia Gresik Salurkan Rp100 Juta untuk Nelayan Lumpur
Harga BBM Rp5.000/Liter dan Problem Panjang Rantai Migas Indonesia
RUU Migas 2026 Beri Solusi Piutang dan Kedaulatan Energi
Berita ini 285 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 19 Oktober 2026 - 16:32 WIB

Damar Kurung Food Festival Kembali Dibuka, Hadirkan Kuliner hingga Lomba Anak

Kamis, 15 Oktober 2026 - 18:26 WIB

RUU Migas 2026: Pertamina Didesak Jadi BUK Migas Nasional

Rabu, 14 Oktober 2026 - 00:57 WIB

Kelangkaan BBM Di Bali, FSPPB Minta Tata Kelola Migas Dirombak

Jumat, 9 Oktober 2026 - 22:48 WIB

Media Lokal Khawatir Wacana Link Tax Ancam Trafik dan Pendapatan

Kamis, 8 Oktober 2026 - 14:04 WIB

Petrokimia Gresik Salurkan Rp100 Juta untuk Nelayan Lumpur

Berita Terbaru

BISNIS

RUU Migas 2026: Pertamina Didesak Jadi BUK Migas Nasional

Kamis, 15 Okt 2026 - 18:26 WIB

Keluarga

Ta’arufMU Aisyiyah Jatim Diikuti 78 Peserta

Senin, 12 Okt 2026 - 01:48 WIB