Dari Sampah Jadi Cuan, Warga Wringinanom Olah Limbah Jadi Kompos

- Editorial Team

Sabtu, 8 November 2025 - 00:25 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Di tangan Achmad Taufik, tumpukan daun kering dan sisa dapur yang biasa dianggap tak berguna justru jadi sumber penghidupan. Warga Desa Wringinanom, Kecamatan Wringinanom, Kabupaten Gresik itu sukses mengubah limbah organik menjadi pupuk kompos bernilai jual tinggi.

Berbekal pengalaman bekerja di Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R), Taufik kini mengelola usaha rumahan pengomposan di halaman rumahnya. Setiap hari, ia telaten mengaduk daun kering dan sisa makanan yang telah difermentasi.

“Kalau orang lain pusing sama sampah, saya justru senang lihat daun kering dan kulit pisang. Itu bukan sampah, itu duit,” ujarnya sambil tersenyum.

Usaha yang dirintis lima tahun lalu itu kini berkembang pesat. Dengan lahan terbatas, Taufik mampu mengolah hingga dua ton sampah organik setiap kali produksi. Hasilnya berupa kompos berwarna gelap dan bertekstur halus yang bisa dipanen setiap dua hingga tiga minggu.

“Prosesnya sederhana tapi harus telaten. Kalau benar, hasilnya berkualitas dan banyak yang cari,” tuturnya.

Taufik kini memasarkan kompos dalam kemasan besar seberat 20 kilogram. Menurutnya, pembeli lebih menyukai ukuran besar karena lebih ekonomis.

“Dulu sempat jual ukuran kecil, tapi yang laku justru yang besar. Jadi sekarang fokus di 20 kilo,” jelasnya.

Pembelinya datang dari berbagai kalangan, mulai dari kelompok PKK, sekolah adiwiyata, hingga penghobi tanaman dari Wringinanom, Benjeng, Balongpanggang, dan Gresik kota.

Baca Juga :  Karyawan New Era Mengadu Ke Dewan

“Lumayan buat tambahan. Sebulannya antara Rp800 ribu sampai Rp1,3 juta,” kata Taufik.

Sebagian produknya ia jual langsung, sebagian lagi lewat mitra yang membantu distribusi. Tanpa logo megah atau promosi daring, usaha Taufik berjalan berkat kualitas dan kepercayaan pelanggan.

Bagi Taufik, setiap karung kompos yang ia hasilkan bukan sekadar produk, melainkan bentuk nyata kepedulian terhadap lingkungan.

“Setiap karung yang terjual bukan cuma menambah uang di kantong, tapi juga mengurangi beban TPA. Kita cuma perlu melakukan aksi nyata,” pungkasnya.

Editor : Rizkie Andrie

Follow WhatsApp Channel www.kabargresik.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

PetroNite Fest 2026 Putar Uang Rp14,4 Miliar
SIG Pasok Beton Ramah Lingkungan untuk Sekolah Rakyat
JIIPE Dorong Industri Berkelanjutan di Gresik
Foto kepala Gajah Melayang Curi Perhatian di Petronite Fest 2026
Tumpeng Nasi Krawu Gresik Habiskan 210 Kg Daging
Rektor UMG Dorong Kurikulum Baru untuk Tenaga Kerja Lokal Gresik
Investasi KEK Gresik Tembus Rp113,4 Triliun, Pemerintah Dukung Perluasan Kawasan
Program Lontar Petrokimia Gresik Dongkrak UMKM Afidah
Berita ini 31 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 13 Juli 2026 - 21:42 WIB

PetroNite Fest 2026 Putar Uang Rp14,4 Miliar

Kamis, 2 Juli 2026 - 19:02 WIB

SIG Pasok Beton Ramah Lingkungan untuk Sekolah Rakyat

Selasa, 30 Juni 2026 - 18:11 WIB

JIIPE Dorong Industri Berkelanjutan di Gresik

Minggu, 28 Juni 2026 - 00:09 WIB

Foto kepala Gajah Melayang Curi Perhatian di Petronite Fest 2026

Sabtu, 27 Juni 2026 - 18:45 WIB

Tumpeng Nasi Krawu Gresik Habiskan 210 Kg Daging

Berita Terbaru

Muhammadiyah Gresik

MI Mulia Gembleng Murid Baru: Lima Hari Membentuk Karakter Dan Menjelajah Asa

Minggu, 19 Jul 2026 - 23:53 WIB