Warga Gresik sedang asik berswafoto dengan latar Klenteng Kim Hin Kiong di Jl Setia budi dalam festival kampung Pecinan, Sabtu (11/6/2022).

Festival kampung Pecinan : Upaya Menjaga Nyala Lilin

#

Warga Pulopancikan Gresik menyelenggarakan festival kampung Pecinan, festival ini sebagai upaya untuk melestarikan kawasan kota tua Gresik. Festival dibuka oleh Bupati Gresik Fandi Ahmad Yani.

Acara yang baru pertama kali digelar ini terlihat meriah namun sangat sederhana dan kurang persiapan.

Stan-stan UMKM yang meramaikan acara tersebut juga tidak banyak dari warga keturunan Cina yang berjualan dan makanan khas Pecinan juga tidak tampak.

Ian Ianah warga perumahan BP Kulon yang menyempatkan hadir dalam festival kampung Pecinan tersebut berpendapat “Acara semalam untuk memperkenalkan kampung pecinan cukup berhasil, dengan membludaknya pengunjung yang sudah mulai berdatangan sejak sore.” Ujar Ian, Sabtu (11/6/2022).

Menurut Ian panitia atau penyelenggara harus menata ulang baik acara maupun stan-stan yang ada.

“Mungkin kedepannya jika memang disediakan tempat untuk UMKM, harus lebih tertata rapi lagi, dengan tetap menjaga kebersihan menjadi poin yang utama.” Pintanya.

Ian yang juga juragan kuliner ini menyayangkan terkait tempat parkir yang minim.

“Dari acara semalam cukup disayangkan mengenai tempat parkir, kekurangan tempat parkir sehingga banyak parkir yang sembarangan di jalan setia budi dan Kh zubair.” Kata Ian.

Wakil ketua pengurus klenteng Kim Hin Kiong Gresik. Tung Yang Tik (54) atau biasa disapa Yanto mengaku senang dengan festival tersebut karena bisa meramaikan kampung Pecinan yang masuk dalam zona kota tua.

“Dengan festival ini warga Pecinan senang, masyarakat bisa tahu klenteng yang kita punya” ujar Yanto.

Yanto mempersilahkan pemerintah untuk mempercantik wilayah kampung Pecinan dan dengan adanya festival kampung Pecinan masyarakat keturunan Tionghoa yang ada di kampung tersebut semakin mantap untuk beribadah.

“Dengan festival ini secara tidak langsung bisa mendekatkan sesama atau berlainan etnis, sehingga saling memahami ter tercipta toleransi.

Warga Tionghoa Yang Beribadah Mulai Menurun

Yanto menguraikan bahwa saat ini warga Tionghoa yang beribadah di kelenteng nya mulai berkurang dalam sepuluh tahun terakhir, hal ini dikarenakan warga Tionghoa tidak mempunyai kurikulum khusus terutama kurikulum tri darma.

“Warga yang beribadah disini mulai menurun, terutama 10 tahun terakhir, banyak generasi mudanya yang makin jauh dari kelenteng, dulu sepuluh tahun yang lalu 400 orang sekarang tinggal 200 orang,” terang Yanto.

Fastival Kampung Pecinan Dibutuhkan

Sementara itu pengamat budaya Gresik Muhammad Toha yang juga hadir saat festival kampung kemasan menyatakan bahwa festival tersebut sebagai bukti bahwa masyarakat etnis apapun di Gresik selalu guyub rukun dalam bermasyarakat.

“Di dekat klenteng ini juga ada masjid juga ada gereja dan mereka saling beribadah di tempat masing-masing dan tidak ada yang merasa terganggu inilah bukti bahwa Gresik adalah tempat bagi semua etnis dan semua orang yang beragama tanpa harus ada gesekan dan ini patut kita syukuri,” ujar Toha.

Muhammad Toha juga berharap setelah adanya festival kampung Pecinan nanti juga akan muncul festival-festival kampung yang lain sehingga makin semarak Dan makin variatif.

Festival kampung etnis bagi Toha merupakan alat untuk pembauran antar etnis yang ada di Gresik dan ini patut diacungi jempol. (Tik)

About Editor02

Check Also

Kasus Manusia Menikah Dengan kambing: Pelapor Belum Menerima Salinan SPDP

# Para pelapor dugaan penistaan agama dalam pernikahan manusia dengan¬† kambing di Desa Jogodalu, Kec. …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.