Menghafal Al-Qur’an atau Memahami Al-Qur’an, Mana yang Lebih Baik?

- Editorial Team

Jumat, 8 Maret 2024 - 14:17 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Beberapa tahun terakhir, program atau kegiatan menghafal (tahfidz) Al-Qur’an menjadi fenomena yang terkesan baru hingga menjadi trend di tengah masyarakat Islam Indonesia. Pesantren tahfidz, rumah tahfidz, dauroh (pelatihan) tahfidz, program tahfidz, hingga beasiswa bagi penghafal (hafidz) Al-Qur’an cukup banyak dan berkembang di berbagai tempat di tanah air.

Memang salah satu metode mempelajari Al-Qur’an yang efektif adalah dengan menghafalnya. Akan tetapi, beberapa pihak yang sebagian di antaranya adalah para akademisi dan pakar pendidikan memandang bahwa kegiatan memahami Al-Qur’an lebih diperlukan dalam konteks keindonesiaan. Lalu bagaimana memandang keduanya ?

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Memang terdapat banyak dalil dalam Al-Quran maupun As-Sunnah yang menunjukkan keutamaan menghafal Al-Qur’an, baik yang didapat di dunia maupun di akhirat. Di sisi lain dalam perspektif neurosains, kegiatan menghafal Al-Qur’an dan mengulang hafalannya (muroja’ah) juga merangsang proses mielinisasi.

Mielinisasi adalah proses pembentukan mielin sebagai selubung dalam syaraf otak manusia yang berfungsi sebagai penghantar impuls (rangsangan) dalam otak yang bertugas mempercepat arus informasi di otak. Sehingga menjadikan informasi lebih mudah dimunculkan, sehingga menjadikan seseorang lebih cerdas dan memiliki memori kuat.

Baca Juga :  Penguatan Moderasi Beragama Menciptakan Beragama yang Damai dan Toleran

Akan tetapi menghafal Al-Qur’an tanpa memahami ayat-ayatnya secara terjemah juga dinilai kurang memberikan manfaat, baik bagi dirinya maupun bagi orang lain. Karena dalam konteks di Indonesia, memahami Al-Qur’an dinilai lebih dibutuhkan dan lebih diperlukan. Itu disebabkan karena perbedaan bahasa dan latar belakang kondisi sosial masyarakat.

Memahami Al-Qur’an dengan terjemah tekstual juga sering menimbulkan pemaknaan yang keliru, begitu juga prakteknya. Sehingga untuk memperdalam pemahaman Al-Qur’an tersebut dibutuhkan pengkajian lain yang lebih mendalam. Baik itu tafsir, tadabbur, dan tentu saja dikaitkan dengan ilmu pengetahuan lainnya, termasuk di luar lingkup pengetahuan agama Islam. Sehingga mengkaji Al-Qur’an tidak hanya memberikan informasi tentangnya dan peningkatan spiritual seseorang saja, tetapi juga menghadirkan inspirasi untuk kemajuan umat Islam.

Di sisi lain, Al-Qur’an harus dipahami dan dikaji secara utuh. Karena ayat-ayat Al-Qur’an memiliki keterhubungan dan menafsirkan satu sama lain. Maka untuk menghadirkan pemahaman yang lebih sempurna, ayat-ayat Al-Qur’an memang perlu untuk dihafalkan dan setidaknya diingat dengan baik.

Baca Juga :  Kerjasama Peningkatan Kwalitas Personil Polres Gresik MoU Dengan Fak Hukum UMG

Solusi

Pada dasarnya, antara kegiatan menghafal atau memahami keduanya tidak bertentangan dan saling melengkapi serta saling mendukung satu sama lain. Keduanya sama-sama merupakan interaksi umat Islam kepada Al-Qur’an yang bisa dilakukan oleh umat Islam selain membacanya.

Akan tetapi dalam konteks kebutuhan umat Islam di Indonesia,  pemahaman Al-Qur’an yang baik lebih dibutuhkan dalam menjelaskan Islam kepada semua orang dan tentunya agar umat Islam sendiri tidak sekedar membacanya, melainkan juga mengamalkannya dalam keseharian sebagaimana yang dilakukan oleh Kyai Haji Ahmad Dahlan yang tampak dalam Teologi Al-Ashr dan Teologi Al-Ma’un.

Menghafal Al-Qur’an mungkin perlu, akan tetapi tidak kemudian menjadi kewajiban yang harus diamalkan seluruh umat Islam karena kondisi masing-masing juga tidak menuntut semua orang menghafalkan 30 juz secara utuh. Tentunya dengan tidak meninggalkan kegiatan memahami Al-Qur’an agar dalam pengamalannya juga sesuai dengan pemahaman yang benar dan kontekstual.  (Muhammad Utama Al Faruqi)





Sumber berita ini dari girimu.com

Follow WhatsApp Channel www.kabargresik.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Becak Rodhane Telu – Girimu
Teladani Jejak Rasul, Kelas IX Spemdalas Dalami Sirah Nabawi
Kajian Jelang Berbuka di Masjid At-Taqwa Giri, Tekankan Istiqamah di Jalan yang Benar
Melek Teknologi Modern, SMK Muhammadiyah 5 Gresik Manfaatkan Drone untuk Pemberian Nutrisi Tanaman
Jadi Pemuda Kahfi Modern, Siswa Spemdalas Gali Potensi Diri di ‘Ramadan Staycation’
Surat Terpendek untuk Luka Terlebar: Menggapai Telaga Surga di Balik Sebuah Kehilangan
Lomba Mewarnai Damar Kurung, Cara SD Almadany Ajak Generasi Muda Berbudaya
MUI Gelar Safari Romadhan Perdana
Berita ini 21 kali dibaca
Tag :

Berita Terkait

Jumat, 27 Februari 2026 - 23:09 WIB

Becak Rodhane Telu – Girimu

Jumat, 27 Februari 2026 - 14:09 WIB

Teladani Jejak Rasul, Kelas IX Spemdalas Dalami Sirah Nabawi

Jumat, 27 Februari 2026 - 05:06 WIB

Kajian Jelang Berbuka di Masjid At-Taqwa Giri, Tekankan Istiqamah di Jalan yang Benar

Kamis, 26 Februari 2026 - 11:05 WIB

Jadi Pemuda Kahfi Modern, Siswa Spemdalas Gali Potensi Diri di ‘Ramadan Staycation’

Kamis, 26 Februari 2026 - 02:03 WIB

Surat Terpendek untuk Luka Terlebar: Menggapai Telaga Surga di Balik Sebuah Kehilangan

Berita Terbaru

Muhammadiyah Gresik

Becak Rodhane Telu – Girimu

Jumat, 27 Feb 2026 - 23:09 WIB

Kriminal

Patroli Sahur Berujung Tawuran di Gresik, 2 Pemuda Terluka

Jumat, 27 Feb 2026 - 18:36 WIB

Advertorial

DPRD Gresik Sahkan Tiga Perda Baru: Optimalisasi Aset & Layanan

Jumat, 27 Feb 2026 - 15:35 WIB

Muhammadiyah Gresik

Teladani Jejak Rasul, Kelas IX Spemdalas Dalami Sirah Nabawi

Jumat, 27 Feb 2026 - 14:09 WIB