Oktober Bulan Prestasi Bagi SDIT Al Ibrah

Peringatan Bulan Bahasa pada Oktober 2021 memberikan berkah tersendiri bagi Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Al Ibrah Gresik. Sekolah berlokasi di kawasan Gresik Kota Baru (GKB) ini menempatkan tujuh siswa sekaligus sebagai juara tingkat nasional dalam beberapa lomba terkait literasi.


Ketujuh siswa yang kelas 4 dan 5 itu, berhasil menjuarai beberapa lomba, yakni hafalan (tahfidz) Quran, menulis esai, pidato, cipta cerpen, dan baca puisi. Pada lomba tahfidz Quran se-Jawa-Bali yang diselenggarakan Pondok Pesantren (Ponpes) Firdaus Jembrana, Bali, SDIT Al Ibrah menyabet juara I dan juara III, masing-masing atas nama Hafidzatun Najwa dan Hanun Adlyn Khairunnisa. Sementara pada lomba tahfidz Quran se-Indonesia di SMPIT Insan Kamil Sidoarjo, sekolah ini menampatkan Khansa Zahirah Najla sebagai juara II.
Siswa fullday school dan boarding school ini lagi-lagi menempatkan siswanya sebagai juara.

Masih dalam rangka memeringati Bulan Bahasa 2021 yang digelar SMPIT Insan Kamil, siswa SDIT Al Ibrah memboyong juara I pada lomba menulis esai dan pidato. Juara I menulis esai diraih oleh Qoyyuma Shabira Aufa. Sementara juara I pada lomba pidato direbut oleh Janeeta Malilah.


Tak hanya di situ, SD Al Ibrah juga menempatkan dua siswanya lagi pada lomba cipta cerpen dan baca puisi. Pada kedua lomba ini, masing-masing meraih juara III atas nama Nahla ‘Ain Al Halwa (cipta cerpen) dan Amrina Rosyada pada lomba baca puisi.


Dihubungi di ruang kerjanya, Selasa (16/11/2021), Kepala SDIT Al Ibrah, M. Musyafak, mengaku surprise dengan pretasi yang diraih anak didiknya. Ini disampaikan, karena pihaknya tidak pernah memasang target terhadap para siswa yang mengikuti lomba. Bahkan, menjelang berlangsungnya lomba, pertengahan Oktober 2021 lalu, ia berpesan agar, baik siswa maupun guru pembimbing dan pendamping tidak menjadikan juara sebagai tujuan.


“Saat menghadap menjelang pelaksanaan lomba, saya berpesan, jangan berorientasi pada kemenangan atau juara. Tetapi, tampilkan kemampuan secara maksimal. Perkara menang atau kalah, tidak usah terlalu dipikirkan, karena justru menjadi beban. Tampil saja seperti tanpa beban apa pun,” ujar Musyafak yang mengaku menerima kabar prestasi anak didiknya itu pekan lalu.
Anak-anak, kata Musyafak, pada dasarnya sudah memiliki potensi masing-masing yang bisa dikembangkan. Karena itu, sejak kelas 1, sekolah telah melakukan pemetaan atas potensi yang dimiliki siswa berdasarkan bakat dan minat mereka. Karena itu, sekolah melakukan bina prestasi, sekaligus menyiapkan sejumlah guru khusus untuk melakukan pendampingan.


“Ketekunan dan kesabaran para guru pembimbing dan pendamping ini juga punya andil dalam mengantarkan anak-anak yang punya bakat khusus ini dalam berprestasi,” katanya seraya menambahkan, atas sukses itu, sekolah tengah menyiapkan apresiasi khusus, baik bagi siswa maupun guru pembimbing dan pendamping.


Dihubungi secara terpisah, Diah, guru pembimbing dan pendamping untuk lomba menulis esai, mengatakan, persiapan yang dilakukan relatif singkat, hanya seminggu menjelang lomba berlangsung. Namun ia mengaku, Qoyyuma Shabira Aufa memang memiliki talenta di bidang literasi, khususnya menulis. Hal itu, katanya, sudah terlihat ketika putri pasangan Ferry Andian Sumirat dan Auditya Purwandini Sutarto itu diajak ngobrol santai untuk menggali ide yang akan jadikan detil topik tulisan.


“Dari segi genre tulisan, esai itu terbilang cukup berat untuk anak usia SD. Yang umum, anak seusia dia kan sukanya bikin puisi atau cerpen. Tapi saya cermati ananda Qoyyum (sapaan akrab Qoyyuma Shabira Aufa, Red) memang memiliki talenta menulis cukup kuat. Ini pula yang memudahkan saat membuat kerangka tulisan. Semua ide juga kerangka tulisan dari dia, saya cuma mengarahkan saja,” ujarnya.


Tentang talenta menulis yang dimiliki Qoyyum, juga dibenarkan ibunya, Auditya Purwandini Sutarto. Bahkan, lanjutnya, bakat menulis itu sudah kelihatan sejak kecil. Bakat itu kemudian kerap diasah lewat berbagai diskusi dengan orang tuanya tentang berbagai masalah yang terjadi di masyarakat.
“Anaknya memang suka diskusi, baik dengan saya maupun ayahnya. Ada saja yang dibahas. Untuk menulis, selama ini lebih banyak berupa karya fiksi, khususnya puisi. Untuk esai ini, buat kami benar-benar surprise. Kami nggak nyangka kalau bisa juara,” ujar dosen ASN yang diperbantukan di salah satu perguruan tinggi swasta di Gresik ini.


Persiapan lebih singkat dilakukan Janeeta Malilah. Peraih juara I lomba pidato ini, seperti diakui guru pembiming dan pendampingnya, Ustadzah Alma, butuh waktu praktis cuma tiga hari untuk mempersiapkan diri. Waktu tiga hari itu, katanya, dimanfaatkan untuk tiga hal. Ketiganya terkait membangun dan membangkitkan rasa percaya diri, pemahaman teks, dan Teknik hafalan.


“Kebetulan, pada ketiga aspek itu dia sudah bagus, sehingga tinggal berlatih dan moles saja. Dan, sejak kelas 2 bakatnya memang sudah kelihatan. Ditunjang, anaknya memang nurut kalau dibimbing. Apalagi orang tuanya juga sangat mendukung,” ujarnya seraya mengisahkan, saat berlatih, ia kerap melakukan secara online via zoom bertiga dengan Janeeta dan ibunya. (Rad)

About Editor02

Check Also

Jum’at Berkah : Partai Ummat Bagikan Makan Siang Gratis Di Sidayu

Partai Ummat Pantura Gresik mulai bergerak, kali ini membagikan makan siang bagi jamaah sholat Jumat …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *