Oleh Mahfudz Efendi
GIRIMU.COM – Ramadan selalu punya pelajaran sederhana, tetapi sarat makna. Saat sahur, umat Muslim yang siap menjalani ibadah puasa diajarkan untuk senantiasa bersyukur. Ketika menjalani puasa, hamba Allah juga ditempa untuk selalu bersabar. Dan, di waktu berbuka, mereka diajarkan nikmatnya menunggu, sebuah latihan sunyi yang menumbuhkan kedewasaan ruhani.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Materi kultum ini disampaikan saat kuliah Tarawih malam ke-20 Ramadan 1447 H di Musholla Al-Jihad Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Giri Gajah, Kebomas, Gresik, Ahad (8/3/2026).
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al-Buchari dan Muslim, Rosulullah bersabda: “Barang siapa menghidupkan Lailatul Qadar dengan iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
Kita sepatutnya bersyukur ke hadirat ilahi atas limpahan karunia dan nikmat-Nya. Kita telah menyelesaikan puasa di hari ke-20 dan malam hari ini kita jalankan qiyamul lail yang ke-20, besok malam kita akan masuk malam ke-21, saatnya kita kencangkan semangat dan usaha untuk berburu malam kemuliaan, Lailatul Qodar yang dicari atas keridhoan dan biidznillah
Rojali-Rohana dalam kultum ini bukanlah nama orang. Bukan pula pasangan suami-istri. Rojali-Rohana hanyalah akronim. Dalam kehidupan sehari-hari kita dikenalkan Rojali singkatan dari Rombongan Jarang beLi dan Rohana merupakan akronim dari Rombongan Hanya Nanya.
Akronim Rojali-Rohana merupakan satire atau kritik sosial seputar kecenderungan sebagian masyarakat yang datang ke mal, hanya untuk jalan-jalan, melihat-lihat berbagai produk tapi tidak membeli.
Para pengamat ekonomi menyebut fenomena Rojali-Rohana terjadi karena dua hal. Pertama, lemahnya kondisi ekonomi, sehingga masyarakat memilih hidup hemat, berhati-hati, tidak membeli sesuatu kecuali benar-benar perlu. Dan yang kedua dampak bisnis online.
Rojali-Rohana melakukan survei produk sebagai referensi, perbandingan harga, atau kualitas barang. Berdasarkan survei tersebut mereka membeli produk secara online yang harganya lebih murah. Sebagian, ujung-ujungnya tidak membeli.
Lantas adakah hubungan Rojali-Rohana dengan puasa? Jawabannya tidak ada. Rojali-Rohana hanya metafora bagaimana perilaku manusia di bulan Ramadan. Sebagaimana disebutkan di dalam Hadits, Ramadan adalah bulan puasa, bulan dimana kaum beriman diwajibkan berpuasa.
Ramadan dinamakan pula bulan sedekah, yang di dalamnya umat Islam memperbanyak sedekah. Ia dinamai pula bulan ampunan, karena Allah membukakan pintu ampunan dan surga bagi hamba-Nya.
Ramadan juga disebut bulan Al-Quran. Ada dua makna, pertama, secara historis, Ramadan adalah bulan diturunkan Al-Qu’an , yakni surat Al-Alaq ayat 1-5 saat berada di Gua Hira pada tahun 610 M sebagai wahyu pertama dan pengangkatan Muhammad sebagai Rasul. Yang kedua, bulan yang di dalamnya Muslim tadarus Al-Quran. Ramadan adalah bulan mulia dan penuh kemuliaan.
Akan tetapi, kemuliaan bulan Ramadan tidak akan diperoleh apabila manusia tidak mengisi dan mengamalkan. Keutamaan dan pahala puasa Ramadan tidak diperoleh bagi yang tidak menjalankan. Pahala sedekah yang berlimpah tidak diraih mereka yang tidak berbagi kepada sesama.
Ampunan Allah diberikan bagi yang meminta. Petunjuk Al-Quran diperoleh bagi yang membaca, memahami, dan mengamalkan. Ramadan tidak bermakna apapun bagi manusia yang tidak mengamalkan puasa dan ibadah sunah yang sangat dianjurkan seperti salat Tarawih, beritikaf, tilawah Alquran, bersedekah, dan ibadah lainnya.
Manusia yang demikian disindir dalam hadits yang diriwayatkan Ibnu Khuzaimah yang dikisahkan Jabir Radiallahuanhu, bahwa ada tiga kelompok orang yang didoakan dengan kejelekan oleh Jibril dan diaminkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka itu adalah:
Orang yang mendapati bulan Ramadan, tetapi dia tidak diampuni (setelah keluar dari Ramadan). Kedua, orang yang mendapati kedua orang tuanya masih hidup atau salah satunya, tetapi ia justru masuk ke dalam neraka. Ketiga, orang yang disebutkan di hadapannya nama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi ia tidak bersalawat kepadanya.
“Barang siapa berpuasa dengan penuh iman dan ikhlas mengharap ridla Allah, niscaya Allah mengampuni dosa-dosa-dosanya di masa lalu.” (HR. Bukhari dari Abu Hurairah RA).
Mari tunaikan puasa Rojali-Rohana dengan amalan yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. Kita balik maknanya menjadi Rojali adalah Rombongan salat beramaah dan mengaji serta Rohana adalah Rombongan bersedekah, berderma untuk sesama. (*)
*) Mahfudz Efendi, Guru SD Alam Muhammadiyah Kedanyang (SD Almadany), Kebomas, Gresik.
Post Views: 1












