Gus Yani : Sang Maestro Sakit “Never On Sunday” Absen di Jl Wahid Hasyim

- Editorial Team

Rabu, 1 Juli 2020 - 15:24 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kring… Kring.. Kring.. “HALLO PAK KETUA,”. Terdengar suara lirih dari depan kantor DPRD Gresik saat saya keluar dari kantor. Adalah mbah Amang Genggong. Sudah menjadi kebiasaannya setiap kali melintas di depan gedung DPRD Gresik. Siapapun yang berjumpa dengannya. Di mana saja. Kapan saja. Kalau berjumpa. Akan selalu di sapa. Termasuk saya.

Mayoritas warga Gresik mengenalnya. Terutama kemampuannya yang lihai dalam memainkan harmonika. Umurnya sudah menginjak kepala delapan. Tapi semangatnya itu loh. Tak mau kalah dengan yang muda-muda. Terus mengayuh sepeda onthel kesayangannya. Berkeliling setiap hari. Dari warung ke warung. Sekedar ingin bercengkrama. Bersama orang-orang yang dikenalnya. Dengan minuman favoritnya. kopi hitam pekat. “Srupuuut….”

Tetapi sejak sebulan ini. Tak terdengar lagi suara khas itu. Di sudut kota pudak. Di tepi jalan protokol. Di keramaian warkop.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Jenengan ten pundi mbah Amang kok boten ketingal blas” tanya saya dalam hati.

Salah seorang anggota dewan memberitahu saya jika pak Amang sedang sakit karena terjatuh dari sepeda onthelnya itu. Ya Allah.. Ya Karim.. Benar saja. Suasana di kota santri itu lain. Tak seperti biasanya. Rupanya sang maestro harmonika kebanggaan kita itu tengah tak berdaya. Tubuhnya terbaring lemas.

Kemarin malam, saya bergegas menuju jalan Nyai Ageng Arem-arem. Tepat di belakang rumah Gajah Mungkur. Saya berjalan memasuki lorong kecil. Disitulah Pak Amang menghabiskan hidupnya seorang diri. Sehari-hari. Hanya ditemani sunyi. Di rumah yang berukuran mini. Namun sumbernya inspirasi. Sampai-sampai beliau berhasil menyabet piagam penghargaan dari rekor muri.

Baca Juga :  Wabup Gresik Buka Musyda XI PD Aisyiyah Kab Gresik

Di atas kasurnya yang tipis dengan spreinya yang lusuh itu. Pak Amang nampak menikmati tidurnya. Meski saya sendiri sebenarnya tidak tega. Saya menawarinya kasur yang lebih layak. Tapi beliau lebih menikmati kasur tipisnya itu.

“Pripun kondisine Mbah,” tanya saya.

“Durung iso sepeda’an gus,” jawab mbah Amang.

“Ayo mbah kulo betoh ten rumah sakit mawon nggeh ben cepet waras,” tawar saya.

“Gak usah gus, tak istirahat nak omah wae” jelas mbah Amang.

Semangat kemerdekaannya itu loh. Nampak jelas. Mengalir deras dalam darah seni mbah Amang. Di saat tubuhnya terbaring lemas, tangannya mencoba menggapai sebuah buku. Semacam antologi. Kumpulan eksistensi (foto-foto pentasnya, red) di dunia musik dari era orde lama hingga era reformasi (digital). Foto-foto itu terbingkai rapi. Seraya bercerita. Buku itu ditunjukkan ke saya. Lembar demi lembar saya buka. Sembari saya mensupportnya untuk doyan makan. Agar sehat. Supaya bisa beraktifitas kembali. Meramaikan suasana kota industri. Dengan alunan harmonikanya yang merdu itu. Serta lagu andalannya ‘Never On Sunday”.

Melihat perjuangan hidup Lelaki kelahiran Gresik 21 Juli 1940 itu. Membuat saya tersadar bahwa para seniman di Gresik merupakan aset penting yang tidak boleh diabaikan begitu saja. Seperti mbah Amang. Ia sendiri ternyata mampu memainkan tiga alat musik sekaligus, bahkan sambil main silat. Ini belum ada sebelumnya di Gresik. Hanya satu-satunya di Gresik. Sampai detik ini. Pun masih mbah Amang yang bisa melakukan itu.

Baca Juga :  Wow Ratusan Buruh Antri Donor Darah KWG

Puluhan lagu bisa dimainkannya dengan mahir. Baik itu lagu bahasa Inggris, Jepang, Mandain maupun lagu-lagu daerah. Kepiawaiannya memainkan harmonika itu tlah diakui banyak orang. Deretan piala dalam ajang festival yang pernah diikutinya juga menghiasi dinding-dinding rumahnya. Bahkan, kehebatannya memainkan harmonika dalam tiga suara sekaligus itu membuatnya masuk dalam salah satu dari enam pemain harmonika fenomenal di dunia.

Nama mbah Amang sendiri disejajarkan dengan Hermine Deurloo (pemain harmonika asal Amsterdam), Jason Ricci (asal Amerika), Toots Thielemans (asal Belgia), dan Jean-Jacques Milteau (asal Prancis), Hari Pochang atau Hari Krishnadi, asal bandung sahabat Alm. Harry Roesli. Maka tidak heran kalau mbah Amang disebut sebagai Maestro Harmonika yang sangat unik.

Mbah Amang Genggong mugi sehat njeh. Kulo kangen munine suoro harmonika lan sepedae jenengan ten dalan. Mohon doanya warga Gresik untuk kesembuhan beliau!

(Fandi Ahmad Yani, Rumah Amang Genggong, 30 Juni 2020)

Follow WhatsApp Channel www.kabargresik.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Biennale Jatim XI Angkat Isu Hantu Laut di Gresik
Memaknai 80 tahun Kemerdekaan RI bagi kader Partai Golkar Gresik
Meriah! Lomba Dayung Kapolres Cup 2025 di Gredek
Mayat Gantung Ditemukan di Masjid Yosowilangun
LPMK Lumpur Santuni 49 Anak Yatim di Muharram
Pawai Ta’aruf TPQ Nurussalam Meriahkan Sidayu
Kejari Usut Dugaan Penyimpangan Dana Pilkada Gresik
14 Tahun Berkarya, Gresik Movie Gelar Pameran Layar Berkembang Sebulan Penuh
Berita ini 7 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 25 Agustus 2025 - 13:00 WIB

Biennale Jatim XI Angkat Isu Hantu Laut di Gresik

Jumat, 15 Agustus 2025 - 14:36 WIB

Memaknai 80 tahun Kemerdekaan RI bagi kader Partai Golkar Gresik

Minggu, 10 Agustus 2025 - 01:51 WIB

Meriah! Lomba Dayung Kapolres Cup 2025 di Gredek

Minggu, 27 Juli 2025 - 13:52 WIB

Mayat Gantung Ditemukan di Masjid Yosowilangun

Sabtu, 26 Juli 2025 - 20:20 WIB

LPMK Lumpur Santuni 49 Anak Yatim di Muharram

Berita Terbaru

NU Gresik

Haul KH Sabiq Abdullah di Ponpes Alkarimi berlangsung Hikmat

Senin, 1 Sep 2025 - 00:05 WIB

Muhammadiyah Gresik

Siswa Spemutu Belajar P3K dengan Hasduk HW

Minggu, 31 Agu 2025 - 14:35 WIB

Muhammadiyah Gresik

150 Pesilat Tapak Suci Gresik Ikuti UKT Pimda 25

Minggu, 31 Agu 2025 - 05:34 WIB

Muhammadiyah Gresik

SMK Muhammadiyah 5 Gresik Perkuat Sinergi Agribisnis

Sabtu, 30 Agu 2025 - 20:32 WIB