Oleh Abdul Rokhim Ashari
GIRIMU.COM — Ramadan selalu datang dengan suasana yang berbeda. Fajar terasa lebih sunyi. Azan Maghrib terdengar lebih dinanti. Masjid kembali penuh oleh langkah-langkah yang biasanya jarang terlihat di bulan lain. Tetapi di balik semua itu, Ramadan bukan sekadar perubahan jadwal makan. Ia adalah perubahan irama hidup.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam sebuah hadis sahih, Rasulullah ﷺ bersabda:
إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ، فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ، وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ
(HR. Bukhari dan Muslim)
“Apabila bulan Ramadan datang, maka pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu.”
Pesan itu seakan-akan langit memberikan ruang lebih luas bagi manusia untuk memperbaiki diri. Godaan diperingan. Kesempatan berbuat baik diperbanyak. Tinggal satu yang diuji: kemauan!
Puasa menjadi inti dari semuanya. Ia adalah rukun Islam, fondasi yang menopang bangunan iman. Namun berbeda dari ibadah lain, puasa berlangsung dalam senyap. Tidak ada yang benar-benar tahu apakah seseorang menahan diri atau tidak, kecuali Allah. Karena itu, dalam hadis qudsi disebutkan:
الصَّوْمُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ
(HR. Bukhari dan Muslim)
“Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.”
Di situlah puasa mengajarkan kejujuran. Ia melatih kita kuat dalam kesendirian.
Tujuan akhirnya jelas: la’allakum tattaqun, agar menjadi bertakwa. Takwa bukan hanya rasa takut, tetapi kesadaran yang hidup. Kesadaran, bahwa setiap kata, setiap pilihan, ada nilainya di hadapan Allah. Rasulullah ﷺ mengingatkan:
لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الأَكْلِ وَالشُّرْبِ، إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ
(HR. Ibnu Hibban)
“Puasa bukan hanya menahan makan dan minum, tetapi menahan diri dari perkataan sia-sia dan perbuatan buruk.”
Di sini Ramadan melatih disiplin. Disiplin waktu saat sahur dan berbuka. Disiplin lisan agar tidak melukai. Disiplin emosi agar tidak mudah meledak. Kita menahan yang halal pada waktunya; mestinya kita lebih mampu meninggalkan yang haram selamanya.
Ramadhan juga membawa kabar yang menenangkan. Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
(HR. Bukhari dan Muslim)
“Barang siapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
Ada harapan di sana. Ada kesempatan untuk memulai kembali untuk menjadi lebih baik untuk meraih derajat takwa.
Pada akhirnya, Ramadan adalah madrasah singkat yang intens. Ia tidak hanya mengubah jam makan, tetapi menguji karakter. Ia mengajarkan, bahwa kita sebenarnya mampu: mampu sabar, mampu jujur, juga mampu tertib.
Pertanyaannya sederhana: setelah Ramadan berlalu, apakah takwa dan disiplin itu ikut pergi, atau justru tinggal dan tumbuh pesat? Di situlah makna sesungguhnya diuji. (*)
*) Abdul Rokhim Ashari, Guru SD Muhammadiyah 1 Kebomas, Gresik, Jawa Timur.
Post Views: 4












