Oleh Dewi Musdalifah
Sidik jari itu sepele. Baru mengingatnya ketika layar ponsel tak mau terbuka.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Padahal di ujung jari ada sesuatu yang tidak pernah bisa digandakan.
Garisnya rumit dan hanya untuk satu jiwa, otentik tubuh.
Aku sering berpikir, mungkin di sanalah manusia dijaga. Bukan pada wajah yang bisa berubah atau nama yang mudah dipalsukan, tetapi pada jejak yang tak bisa dipertukarkan.
Itulah otentisitas di tengah algoritma.
Sidik jari menjadi pengingat tentang sesuatu yang tidak bisa direplikasi bahkan dipindahkan ke tubuh lain. Tidak pula dapat dirata-ratakan.
Sementara mesin bekerja dengan cara berbeda. Ia membaca kebiasaan, menyusun pola, menghitung kemungkinan, lalu menebak langkah berikutnya.
Tegangan itu ada di sana.
Bukan pada kecerdasannya.
Melainkan pada saat aku mulai nyaman ditebak.ketika pilihan terasa tepat hanya karena direkomendasikan.
Belajar karena sudah disodorkan.
Dan saat persetujuan lahir dari rasa familiar.
Di situlah pergeseran itu terjadi,
ketika aku memilih
menjadi yang diprediksi.
Algoritma tidak mencabut kebebasan.
Ia hanya merapikan pilihan hingga tampak mudah.
Yang berbahaya bukan sistemnya,
melainkan ketika aku berhenti menguji keputusanku sendiri dan menerima saran sebagai keputusan akhir.
Padahal menjadi manusia itu tidak selalu rapi. Kadang memilih yang tidak populer. Sering berubah arah tanpa alasan yang bisa dihitung.
Bahkan melakukan sesuatu yang tak masuk statistik, tapi masuk akal bagi hati.
Mesin tidak salah. Ia hanya bekerja sebagaimana dirancang. Yang harus tetap sadar adalah aku.
Sidik jari seperti mengingatkan: aku tidak diciptakan untuk menjadi versi rata-rata.
Bukan angka kemungkinan terbesar.
Aku satu.
Maka perlawanan bukan penolakan terhadap teknologi. Perlawanan itu terjadi ketika manusia tidak menyerahkan keputusan terakhirnya pada sistem.
Ketika tetap berpikir, menimbang dan bertanggung jawab.
Jika suatu hari semua bisa diprediksi kecuali keberanian manusia untuk memilih dengan sadar, di situlah sidik jari menemukan maknanya.
Bukan sebagai alat membuka layar, tetapi sebagai tanda bahwa manusia tidak boleh hidup sebagai hasil perhitungan.
Di era digital, sidik jari memang dipindai, dan mungkin diterjemahkan menjadi kode.
menjadi kunci akses.
Namun justru di situlah pesan itu terasa semakin jelas. Seolah Tuhan sejak awal sudah meletakkan di ujung tangan kita sebuah pengingat: bahwa di tengah dunia yang bisa disalin dan disebarkan tanpa batas, ada sesuatu dalam diri manusia yang tidak pernah menjadi massal.
Sidik jari bukan sekadar mekanisme biologis. Penanda bahwa manusia diciptakan secara personal.
Bahwa setiap orang dipanggil dengan cara yang tidak bisa diwakilkan.
Era digital bisa membuat identitas cair. Profil bisa diganti. Suara dapat ditiru.
Tetapi sidik jari tetap berkata: aku satu.
Mungkin inilah cara kesadaran bertumbuh, bukan dengan memusuhi teknologi, melainkan dengan mengingat kembali sumber penciptaan diri.
Bahwa sebelum ada algoritma, server dan jaringan global, manusia sudah lebih dulu diberi tanda keunikan yang tidak tunduk pada statistik.
Selama manusia kembali pada kesadaran itu, era digital tidak akan menghapus kemanusiaan. (*)
Post Views: 1












