GIRIMU.COM — SMK Nurul Islam (Nuris) Gresik menggelar pelatihan penguatan karakter kewirausahaan, Kamis (23/4/2026). Hadir sebagai narasumber salam pelatihan ini: Dr Moh. Agung Surianto, MSM, CSRS, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG) sebagai narasumber.
Kepala SMK Nuris M. Eko Nurul Ashidiq, MPd, dalam sambutan pembukaan pelatihan mengatakan, pelatihan ini menjadi salah satu rangkaian pembekalan yang berharga bagi siswanya, khususnya kelas XII yang tak lama lagi menjadi alumni yang akan menjalani tahapan hidup berikutnya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Karena itu, perlu penguatan karakter wirausaha kepada mereka di tengah persaingan mencari kerja yang sangat kompetitif,” kata Kepala SMK Nuris yang berlokasi di Jl. KH Syafiꞌi 21 Sukomulyo, Kecamatan Manyar, Gresik ini.
Dalam pelaksanaan materi pelatihan yang dihadiri 141 siswa kelas XII tersebut, Agung memaparkan data demografi yang dirilis BPS Tahun 2025 khususnya potret yang menunjukkan tentang tingginya angka pengangguran terbuka per November 2025. Lebih lanjut Agung menyatakan, merujuk data BPS tersebut tercatat, angka pengangguran terbuka sebanyak 7,35 juta (Per November 2025).
“Jumlah itu didominasi oleh pencari kerja dengan tingkat pendidikan, khususnya setingkat SMK menyumbang tingkat pengangguran terbanyak dengan 8,45 persen, disusul jenjang SMA 6,55 persen,” ujarnya.
Dengan data tersebut, lanjut Agung, penguatan karakter kewirausahaan menjadi faktor fundamental, terlebih di Gresik yang merupakan destinasi investasi dan menjadi daerah industri dengan tingkat UMK Tahun 2026 tetap tertinggi kedua di Jawa Timur setelah Surabaya. Dikatakam, UMK Gresik tahun ini sebesar Rp 5.195.401.
“Dengan pengali jumlah ribuan pekerja yang ada di Gresik, maka angka tersebut tentu saja akan sangat besar dan akan dibelanjakan. Dengan demikian, ini menjadi peluang bagi lulusan SMK yang sudah memiliki hard skill untuk menangkap peluang wirausaha. Modal utama yang harus dimiliki adalah mindset dan karakter wirausaha, bukan semata modal,” jelas Agung.
Di tengah acara tersebut, para siswa diberi simulasi untuk merumuskan ide wirausaha yang mereka impikan dan bagaimana cara merealisasikannya. Salah satu peserta, Dita, mengaku, bahwa cita-citanya terjun ke bisnis kuliner.
“Saya melihat di Gresik banyak karyawan perusahaan atau kantor dan setiap pagi banyak yang beli nasi bungkus sambil berangkat kerja. Ini peluang tentunya. Ke depan saya ingin bisnis kuliner, setidaknya berjualan nasi bungkus dengan harga murah untuk para karyawan tersebut,” katanya.
Peserta lainnya, Rere dan Galih bercerita, mereka juga ingin melanjutkan mengembangkan bisnis orang tua masing-masing. Rere menyatakan ingin bikin cookies dan bakery seperti keluarganya. Sementara Galih ingin melanjutkan bisnis repair motor dan mobil yang dikembangkan ayahnya.
Selama pelatihan, para peserta nampak sangat antusias merumuskan ide-ide bisnis. Untuk itu, mereka juga mendapat tugas di akhir pelatihan untuk merumus detil bisnis yang ingin mereka lakukan. Pelatihan diakhiri dengan foto bersama dengan mengepalkan tangan sebagai simbol semangat berwirausaha. (*)
Post Views: 1,496












