Girimu.com — Pendidikan syahwat antara orang tua dan anak menjadi topik menarik dalam School Parents Gathering yang dihelat SMP Muhammadiyah 12 GKB (Dpemdalas) Gresik. Kegiatan yang bertema Growing More, Caring More berlangsung di Hotel Horison GKB Gresik, Ahad (5/7/26).
Sebagai pemateri, Heru Kusumahadi, Lc, MPdI, membuka sesi parenting dengan memberikan apresiasi khusus kepada para ayah yang hadir. Ia meminta para ayah memilih pernyataan yang paling mewakili perasaan mereka. Dari sekian jawaban yang tersedia, pilihan istri minta maaf duluan adalah pilihan yang dapat menghidupkan suasana. Sontak nampak tawa kecil dari ratusan wali siswa kelas VII Spemdalas yang pekan depan akan mulai memasuki pembelajaran.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam pemaparannya, Heru menganalogikan lembaga pendidikan seperti Spemdalas dengan dua tempat: bengkel atau restoran. “Kalau bengkel, anak masuk untuk diperbaiki dan dikuatkan. Kalau restoran, anak hanya dilayani sesuai pesanan. Kita ingin jadi bengkel,” ujarnya memberikan semangat.
Ia mengingatkan orang tua agar tidak cepat bangga ketika memiliki anak yang salih. “Jangan terlalu bangga memiliki anak sholeh saat orang tua tidak memiliki kontribusi akan kesalehan anak,” tegas Heru.
Hal yang sama berlaku untuk capaian hafalan Al-Quran. “Jika anak hafal Al-Quran, sudah seharusnya orang tua memiliki peran yang besar dalam mencapai hafalan tersebut,” katanya.
Heru juga menyoroti pentingnya komunikasi terbuka, termasuk tentang kematian. Menurutnya, obrolan tentang kematian bisa menjadi efek yang luar biasa kepada anak karena mengingatkan pada tujuan hidup. Ia mengutip momen menjelang wafatnya Nabi Yaqub yang bertanya kepada anak-anaknya, sebagaimana terekam di Surat Al-Baqarah.
Dalam pandangan Heru, anak bukan sekadar titipan. “Anak adalah hak pakai. Doa untuk orang tua pun ada syaratnya: sebagaimana keduanya menyayangiku di waktu kecil,” tandas Heru.
Ia menyebut hal tersebut sebagai sunatullah, karena pada usia kecil anak memang lebih mudah disayangi dan menerima kasih sayang. Namun ia mengakui, pada usia antara 12-15 tahun adalah masa ketika membangun kedekatan tidak mudah.
“Masa ini adalah masa yang sulit melakukan hal tersebut,” katanya.
Untuk itu Heru memperkenalkan konsep leveling cinta. Level suka: cinta yang bersyarat dan ada dalam kriteria. Level kagum: ketakjuban terhadap pasangan atau anak bukan berdasarkan kriteria. Level sayang: cinta tanpa syarat yang tumbuh dari kebiasaan merawat.
“Harapannya adalah adalah, bahwa kita semua pada level sayang. Namun, perlu digarisbawahi, sayang itu adalah merawat menjadi lebih baik. Jadi jangan sampai karena terlalu sayang, jadinya malah merusak,” tandasnya.
Anak yang Selamat
Di tengah tuntutan prestasi, Heru mengajak orang tua mengubah fokus doa. “Saat ini jangan hanya meminta anak untuk sukses, namun mohonlah atasnya keselamatan,” pesannya.
Lulusan Universitas Kairo ini menekankan, anak yang sukses belum tentu selamat, sedangkan yang selamat akan sukses. Ia menilai, saat ini lembaga pendidikan Islam adalah lembaga terbaik untuk membentuk tidak hanya kesuksesan, namun juga keselamatan bagi para murid.
Materi lain yang disorot adalah keberanian orang tua untuk berdiskusi secara terbuka dan pendiikan syahwat. Heru menjelaskan, saat anak memasuki usia baligh, syahwat sudah otomatis “terinstal”. Karena itu, orang tua perlu menyiapkan bimbingan sejak dini.
Ia lalu membagi pola kedekatan ideal berdasarkan usia. Usia 0-2 tahun, anak harus dekat dengan ibu. Usia 3-6 tahun dekat dengan bapak dan ibu agar mengenal perbedaan antara keduanya. Sedangkan usia 7-10 tahun anak dekat dengan sesama gender.
“Saat anak laki-laki dekat dengan ayah, di sinilah ditumbuhkan sisi maskulinitas. Sebaliknya, seorang putri yang dekat dengan ibu akan memunculkan sisi feminin,” jelasnya.
Heru juga menjelaskan saat prabaligh, yaitu ukur 11-14 yang dinilai sebagai masa yang penting.
“Nah, masa ini adalah masa SMP ya. Seorang laki-laki yang dekat dengan ibu akan tahu bagaimana melindungi perempuan. Sebaliknya, anak putri yang dekat dengan ayah akan merasakan kasih sayang laki-laki, sehingga tidak mudah hanyut saat menerima rayuan laki-laki,” jelasnya.
Yang tak kalah penting, menurut Heru, adalah perlu negosiasi dalam pembagian peran ayah dan ibu.
“Hal ini penting agar anak tidak mengalami kebingungan dalam pengajaran nilai-nilai utama,” jelas Heru.
Di akhir sesi, Heru mengajak seluruh ayah bunda membangun sinergi. Growing more berarti terus bertumbuh sebagai orang tua, dan caring more berarti merawat lebih dalam, bukan hanya prestasi tetapi juga iman, akhlak, dan keselamatan anak. (*)
Post Views: 29












