Di sebuah lingkungan kecil di Perumahan Permata Sidayu Residence, Desa Ngawen, Kecamatan Sidayu, Kabupaten Gresik, roda kehidupan warga berjalan sederhana. Hanya dua gang, dengan jumlah warga yang tidak banyak. Namun dari ruang kecil itulah lahir sebuah gagasan besar yang perlahan mengubah cara warga memandang iuran dan kebersamaan.
Imam Arifin tak pernah membayangkan bahwa keputusannya menerima amanah sebagai Ketua RT 003 RW 003 akan membawanya pada ide yang tak lazim bagi ukuran lembaga paling bawah pemerintahan. Ia resmi menjabat sejak 1 Januari 2026, dengan masa bakti lima tahun ke depan. Sejak awal, ia sudah memiliki satu tekad: jangan sampai operasional RT menjadi beban berat bagi warga.
“Jumlah warga kami sedikit. Kalau iuran terus dinaikkan, rasanya tidak adil,” ujarnya suatu sore.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dari kegelisahan itu, Imam mulai memutar otak. Ia menyadari bahwa zaman telah berubah, begitu pula cara mencari sumber dana.
Berbekal pengalaman pribadi dan kegemarannya mengikuti perkembangan digital, muncul satu ide yang sempat terdengar aneh bagi sebagian orang: RT Affiliate. Bukan proposal bantuan, bukan pula penarikan iuran tambahan, melainkan memanfaatkan program affiliate marketplace.
Keputusan itu tidak datang tanpa pengorbanan. Imam merelakan akun affiliate milik pribadinya—yang sebelumnya ia kelola sendiri—untuk dihibahkan kepada RT. Baginya, akun itu bukan sekadar alat mencari tambahan uang, melainkan peluang untuk menciptakan manfaat yang lebih luas.
“Awalnya akun itu milik saya. Tapi kalau bisa dipakai untuk kepentingan bersama, kenapa tidak?” katanya singkat.
Program tersebut kemudian disosialisasikan kepada warga. Tidak ada paksaan, tidak pula kewajiban belanja. Warga hanya diminta, jika berkenan berbelanja daring, menggunakan tautan affiliate yang dibagikan oleh pengurus RT. Selebihnya, semua berjalan alami.
Respons warga ternyata di luar dugaan. Dalam waktu satu minggu sejak diluncurkan, transaksi mulai masuk. Nominalnya memang tidak besar, tetapi cukup untuk menumbuhkan rasa percaya.
“Begitu ada hasil, kami langsung laporkan di grup RT. Biar warga tahu, ini nyata,” tutur Imam.
Perlahan, kepercayaan itu tumbuh. Kurang dari satu bulan, kas RT mulai terisi dari sumber yang sebelumnya tak pernah terpikirkan. Berdasarkan catatan pada dashboard affiliate per 6 Februari 2026, dana yang terkumpul mencapai Rp409.973. Angka yang mungkin kecil bagi sebagian orang, tetapi sangat berarti bagi sebuah RT kecil dengan dua gang.
Dampaknya pun terasa langsung. Iuran bulanan warga yang semula Rp65.000 kini bisa ditekan menjadi Rp55.000 per bulan. Bukan sekadar penghematan, melainkan simbol bahwa gotong royong bisa hadir dalam bentuk baru.
Imam memahami, menjalankan program tanpa contoh sebelumnya bukan hal mudah. Ia harus sabar menjelaskan, terbuka pada kritik, dan konsisten membangun kepercayaan. Namun baginya, semua itu sepadan dengan senyum warga yang merasa lebih ringan.
Kini, Imam tidak menyimpan gagasan itu untuk dirinya sendiri. Ia justru membuka pintu bagi RT lain yang ingin belajar dan meniru.
“Monggo, kalau ada RT lain yang mau mengadopsi. Kita diskusi, kita sharing. Tidak ada yang ditutup-tutupi,” ujarnya.
Sebelum RT 003 melangkah, program serupa sebenarnya sudah dikenal di lingkungan lembaga keagamaan, seperti masjid. Namun bagi sebuah RT, langkah ini menjadi sesuatu yang baru—sebuah bukti bahwa inovasi tidak selalu lahir dari tempat besar, tetapi bisa tumbuh dari dua gang kecil, selama ada kepedulian dan keberanian untuk mencoba.
Editor : Akhmad Sutikhon











