Green Ramadan 1447 H, Waktunya Mengurangi Sampah dengan 7R

- Editorial Team

Selasa, 17 Februari 2026 - 19:42 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

banner 468x60

Oleh Mochammad Nor Qomari

Bulan suci Ramadan 1447 H yang oleh Muhammadiyah ditetapkan mulai berlangsung pada Rabu, 18 Februari 2026, bukan hanya momentum memperkuat hubungan dengan Sang Pencipta dan mempererat ukhuwah antarsesama, tetapi juga saat yang tepat untuk memperbaiki relasi kita dengan alam. Islam mengajarkan keseimbangan (mīzān) dan melarang perilaku berlebih-lebihan (isrāf). Karena itu, mengonsumsi makanan secukupnya, mengurangi penggunaan plastik, serta mengelola sampah dengan benar adalah bagian dari ibadah dan wujud tanggung jawab sebagai khalifah di bumi.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Realitas di lapangan menunjukkan tantangan yang serius. Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Gresik, volume sampah selama Ramadan 1446 H (2025) meningkat signifikan. Puncak lonjakan terjadi pada 20 Maret 2025 dengan volume mencapai 296.420 kilogram atau lebih dari 296 ton per hari. Sampah plastik meningkat hingga 20 persen dibandingkan hari biasa, terutama akibat aktivitas pedagang takjil dan budaya konsumsi berbuka yang cenderung berlebihan. Menjelang Idulfitri, lonjakan kembali terjadi sebelum akhirnya berangsur normal pascaperayaan lebaran.

Pemerintah Kabupaten Gresik sebenarnya telah memiliki landasan hukum melalui Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2021 tentang Pengurangan Penggunaan Plastik Sekali Pakai (PSP). Regulasi ini membatasi penggunaan kantong plastik, styrofoam, dan sedotan plastik, sekaligus mendorong penggunaan kemasan ramah lingkungan. DLH Gresik juga menggencarkan kampanye “Eco-Takjil” sebagai upaya edukasi publik. Namun, kebijakan ini tidak akan efektif tanpa partisipasi aktif masyarakat.

Karena itu, Green Ramadan 1447 H harus menjadi gerakan kolektif. Prinsip 7R (Rethink, Refuse, Reduce, Reuse, Repair, Recycle, Rot) dapat menjadi panduan konkret untuk menekan volume sampah selama Ramadan 2026.

Baca Juga :  Pertajam Program Kerja, PD Aisyiyah Gresik Gelar Rakerpim di Batu

Pertama, Rethink (Pikirkan Ulang). Pribadi dan keluarga perlu membiasakan bertanya sebelum membeli: apakah benar-benar perlu? Hindari membeli takjil berlebihan hanya karena lapar mata. Apakah ada pilihan yang lebih ramah lingkungan? Kesadaran ini dapat menekan konsumsi berlebihan yang sering terjadi saat berbuka.

Kedua, Refuse (Menolak). Masyarakat dapat menolak plastik sekali pakai. Pedagang dan produsen diimbau tidak lagi menggunakan styrofoam, serta menyediakan opsi kemasan ramah lingkungan. Jamaah dapat membawa wadah sendiri saat membeli takjil. Berani menolak kantong plastik, styrofoam, dan sedotan sekali pakai. Jamaah dapat membawa wadah sendiri saat membeli takjil. Masjid dan musholla dapat mengimbau penggunaan kemasan ramah lingkungan.

Ketiga, Reduce (Mengurangi). Masjid, musala, dan institusi penyelenggara buka bersama perlu mengatur porsi secukupnya. Pemerintah dapat mengedukasi pengurangan konsumsi berlebihan melalui kampanye publik.

Keempat, Reuse (Menggunakan Kembali). Gunakan peralatan makan yang dapat dipakai ulang saat kegiatan keagamaan. Rumah tangga dapat memanfaatkan kembali wadah atau toples bekas. Hindari budaya sekali pakai dalam kegiatan keagamaan.

Kelima, Repair (Memperbaiki). Alih-alih mengganti, tapi perbaiki peralatan masjid atau rumah yang rusak. Prinsip ini juga mendukung ekonomi lokal melalui jasa reparasi.

Keenam, Recycle (Daur Ulang). Pilah sampah dari sumbernya. Institusi, sekolah, dan masjid dapat bekerja sama dengan bank sampah. Pemerintah perlu memastikan fasilitas pemilahan tersedia dan mudah diakses.

Ketujuh, Rot (Mengomposkan). Sampah organik dari dapur dan sisa berbuka dapat diolah menjadi kompos. Selain mengurangi bau dan gas metana di TPA, kompos bermanfaat bagi ketahanan pangan keluarga.

Baca Juga :  Malam Abata SD Almadany: Libatkan Allah dalam Setiap Urusan

Implementasi 7R harus melibatkan seluruh elemen:
• Pribadi dan keluarga sebagai fondasi perubahan perilaku. membiasakan konsumsi bijak dan memilah sampah.
• Pedagang dan produsen sebagai pihak yang menentukan jenis kemasan.
• Masjid dan musala sebagai pusat keteladanan umat. Kiai, ustadz, pendakwah mengajak tidak berlebihan dan mengurangi produksi sampah
• Institusi pendidikan dan organisasi masyarakat sebagai agen edukasi. mengedukasi jamaah dan siswa tentang eco-lifestyle.
• Pemerintah Kabupaten Gresik sebagai penguat regulasi dan penyedia infrastruktur pendukung. memperkuat regulasi, pengawasan, dan fasilitas pendukung seperti bank sampah dan TPS terpilah.

Green Ramadan bukan sekadar slogan musiman. Ia adalah gerakan kesadaran ekologis yang menyatu dengan nilai-nilai keislaman. Jika Ramadan adalah bulan menahan diri, maka inilah saatnya kita menahan diri dari konsumsi berlebihan dan produksi sampah yang tidak perlu.

Ramadan 1447 H harus menjadi titik balik. Kesalehan spiritual harus berjalan beriringan dengan kesalehan sosial dan ekologis. Dengan menerapkan 7R, kita tidak hanya membersihkan hati, tetapi juga membersihkan bumi. Dan dari Gresik, semoga lahir teladan bahwa ibadah yang paripurna adalah ibadah yang membawa rahmat bagi semesta alam. (*)

*) Mochammad Nor Qomari, Sekretaris Majelis Lingkungan Hidup Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Gresik.


Post Views: 4

sumber berita dari girimu.com

Follow WhatsApp Channel www.kabargresik.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Ryamizard Ryacudu Wafat, Haedar Nashir Berduka
Air Mata Perpisahan, Janji Tak Ada Mantan Guru: MTs Muhammadiyah 7 Pantenan Lepas Angkatan 2025/2026
Daun Jati Pengganti Plastik: Idul Adha ‘Hijau’ Muhammadiyah Dan Aisyiyah Mojopetung Memikat Warga
Sabar Menanti, Panitia Kurban Masjid Al Iman Qonaah Mojosarirejo Gresik Sambut Kehadiran Hewan Qurban hingga Malam
Iduladha di SMK Muhammadiyah 5 Gresik: Meneguhkan Iman, Menguatkan Pengorbanan, dan Menumbuhkan Kepedulian Sosial
Spemdalas Peduli, Salurkan 2 Sapi Kurban kei Mengare
Luar Biasa, Siswa SDMM Muhammad Rafa Raih Nilai 100 TKA 2026
Elus Sapi Kurban, Siswa KB Aisyiyah 49 Griya Kencana Ini Ikut Rayakan Iduladha 1447 H
Berita ini 18 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 1 Juni 2026 - 03:27 WIB

Ryamizard Ryacudu Wafat, Haedar Nashir Berduka

Sabtu, 30 Mei 2026 - 15:23 WIB

Air Mata Perpisahan, Janji Tak Ada Mantan Guru: MTs Muhammadiyah 7 Pantenan Lepas Angkatan 2025/2026

Jumat, 29 Mei 2026 - 21:21 WIB

Sabar Menanti, Panitia Kurban Masjid Al Iman Qonaah Mojosarirejo Gresik Sambut Kehadiran Hewan Qurban hingga Malam

Jumat, 29 Mei 2026 - 12:20 WIB

Iduladha di SMK Muhammadiyah 5 Gresik: Meneguhkan Iman, Menguatkan Pengorbanan, dan Menumbuhkan Kepedulian Sosial

Jumat, 29 Mei 2026 - 03:19 WIB

Spemdalas Peduli, Salurkan 2 Sapi Kurban kei Mengare

Berita Terbaru

10 pejabat Pemkab Gresik Terkaya

PEMERINTAHAN

Pejabat Eselon 2 Gresik Terkaya, Hartanya Capai Rp20 Miliar

Senin, 1 Jun 2026 - 12:03 WIB

Muhammadiyah Gresik

Ryamizard Ryacudu Wafat, Haedar Nashir Berduka

Senin, 1 Jun 2026 - 03:27 WIB

PEMERINTAHAN

APBD Gresik 2026 Susut Rp539 M, Proyek Fisik Terancam

Minggu, 31 Mei 2026 - 01:19 WIB

komunitas

KWGe Bagikan Daging Kurban ke Warga Gresik

Sabtu, 30 Mei 2026 - 17:01 WIB