Kunci yang Tak Lagi Dipakai

- Editorial Team

Selasa, 26 Mei 2026 - 12:11 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

banner 468x60

Hujan turun rintik-rintik malam itu, cukup untuk membuat aspal depan gang mengkilap seperti cermin retak. Aku berhenti di depan pagar besi yang catnya sudah mengelupas, tempat dulu aku biasa melompatinya setiap pulang sekolah biar nggak ketahuan telat.

Alamatnya sama. Nomor rumahnya sama. Tapi nama di papan kecil dekat bel sudah berganti.
Keluarga Pratama.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tangan yang menggenggam kunci tua di sakuku jadi dingin. Kunci itu sudah menguning di pinggirnya, aus karena terlalu sering dipakai. Ibuku dulu bilang, “Jangan hilangin kunci ini ya. Itu satu-satunya yang nyambungin kamu ke rumah.”

Aku tertawa kecil waktu itu.
Sekarang aku ngerti maksudnya.

Pot bunga melati di sudut pagar masih ada, tapi melatinya sudah mati. Yang tersisa cuma tanah kering dan pot tanah liat yang retak di tengah. Di bawahnya, seperti sepuluh tahun lalu, ada kunci cadangan yang kubiarkan di sana. Seolah waktu belum pernah bergerak.

Aku memutarnya perlahan. Suara gesekan besi di lubang kunci itu familier, tapi ketika pintu terbuka, yang menyambutku bukan bau rendang ibu dan suara TV berita jam enam sore. Yang ada hanya bau cat baru dan suara anak kecil yang manggil seseorang bukan aku, “Mama, lihat ini!”

Aku berdiri di ambang pintu rumahku sendiri, dan tiba-tiba nggak tahu harus melangkah masuk atau pergi.

“Eh, mau cari siapa ya?”
Seorang perempuan muda muncul dari dapur, tangannya belepotan tepung. Dia tersenyum sopan, nggak curiga sama sekali.

“Aku… dulu tinggal di sini,” jawabku pelan.
“Oh! Rumah ini ya? Katanya dulu punya keluarga besar. Sekarang kami beli dua tahun lalu.”

Dia ngajakin masuk. Aku ngikut, kaki rasanya berat. Dinding ruang tamu yang dulu penuh foto keluarga sekarang kosong, cuma ada lukisan abstrak warna biru. Meja kayu di sudut itu masih ada, tapi permukaannya udah diampelas halus. Hilang goresan nama ‘Rani’ yang kubuat pakai paku waktu kelas 5 SD.

“Kamarnya masih di belakang ya? Boleh aku lihat sebentar?”
Perempuan itu mengangguk. “Silakan. Tapi udah dijadiin kamar anakku.”

Pintu kamar itu catnya biru muda sekarang. Nggak ada lagi poster band Korea yang setengah lepas. Nggak ada coretan di dinding tentang cita-cita jadi penulis. Di atas ranjang ada boneka kelinci besar, dan di meja belajar ada buku gambar anak usia 5 tahun.

Aku duduk di pinggir ranjang itu cuma semenit. Rasanya aneh. Ini kamarku, tapi bukan kamarku lagi. Semua kenangan masih nempel di kepalaku, tapi tempatnya udah jadi milik orang lain.

Baca Juga :  Allamah Al Alusy Terpilih sebagai Ketua Umum IKAPSI UMG, Alumni Psikologi Siap Bersinergi

Tiba-tiba kepalaku dipenuhi suara Ibu.
“Rani, jangan coret-coret dinding! Nanti kalau mau jadi penulis, tulisnya di buku, bukan di tembok!”

Aku dulu cuma ngedumel, tapi sekarang kalimat itu muter-muter di kepala kayak kaset rusak. Ibu selalu marah-marah kecil, tapi malamnya pasti nyiapin susu hangat buat aku.

Waktu mau pulang, anak kecil itu lari ke arahku sambil bawa gambar.
“Ini gambar rumahku! Bagus kan?”

Aku jongkok, ngeliat gambar rumah dengan atap merah, pohon mangga, dan empat orang lagi pegangan tangan di depan pintu.
“Bagus banget,” kataku. “Jaga baik-baik ya rumahnya.”

Di perjalanan pulang, aku baru ngerti. Rumah itu nggak hilang. Dia cuma pindah bentuk. Dulu rumah itu tempat aku tumbuh, sekarang jadi tempat orang lain mulai tumbuh.

Mungkin yang hilang bukan rumahnya. Yang hilang itu versi diriku yang dulu tinggal di sana.

Aku nggak langsung pulang.
Kaki ini malah bawa aku ke warung bakso langganan dulu, yang ada di ujung gang. Warungnya masih ada. Spanduknya udah pudar, tapi aroma kuahnya masih sama.

“Mas, bakso biasa satu ya. Pake sambel banyak,” kataku ke tukang bakso yang sekarang udah beruban.

Dia i muka, ngeliatin aku, lama.
“Lho, Rani? Kamu anaknya Bu Sari ya? Kok baru kelihatan lagi?”

Aku kaget. Ternyata wajah ini masih diingat.
“Iya Pak. Baru pulang kampung.”

Sambil nunggu pesanan, aku cerita dikit. Tentang rumah yang udah ganti pemilik, tentang kamar biru muda, tentang anak kecil yang nunjukin gambar rumahnya. Pak tukang bakso cuma manggut-manggut, terus nyodorin semangkok bakso yang uapnya panas.

“Dulu ibumu suka nitip bakso buat kamu kalau kamu demam,” katanya pelan. “Katanya biar cepet sembuh.”

Kalimat itu nyesek di dada.
Aku makan bakso itu pelan-pelan. Rasanya nggak berubah. Masih asin, masih hangat, masih bikin inget dapur rumah yang sekarang udah bukan dapurku lagi.

Aku inget waktu kelas 3 SMP, aku demam tinggi sampai nggak bisa sekolah seminggu. Ibu nggak ke mana-mana. Dia duduk di samping ranjang, ngelap dahiku pakai handuk basah, terus tiap jam nanya, “Mau makan nggak? Mau minum nggak?”
Aku nolak terus, tapi dia tetap maksa aku makan bakso. Katanya, “Makan dikit aja. Biar ada tenaga buat ngelawan demamnya.”

Aku nggak pernah bilang makasih waktu itu.

Pas mau bayar, aku nanya, “Pak, Ibu saya… dimakamkan di mana ya?”

Pak tukang bakso terdiam sebentar.
“Di TPU dekat stasiun. Makamnya masih sering dibersihin sama anak tetangga sebelah. Katanya dia janji sama ibumu.”

Malam itu aku nggak tidur di hotel. Aku tidur di mushola dekat TPU. Nggak ada yang nanyain. Cuma suara azan Subuh dan angin yang lewat sela jendela.

Baca Juga :  Lazismu Gresik Optimistis Realisasikan Target Penghimpunan Kurban

Pagi harinya aku ke makam Ibu.
Bunganya masih segar. Di nisannya ada tulisan kecil pakai spidol: “Bu Sari, kami kangen baksonya.”

Aku duduk di depan nisan itu, cukup lama. Cerita banyak hal yang nggak sempet aku bilang dulu. Tentang kerjaanku di kota, tentang capeknya, tentang rasa bersalah karena udah lama nggak pulang.

“Ma, aku udah ke rumah kita. Udah nggak ada lagi,” kataku pelan.
“Tapi aku ketemu pak tukang bakso. Katanya, iIbu suka nitip bakso buat aku waktu aku sakit.”

Angin sore lewat. Daun mahoni di atas makam berdesir pelan.
Aku nggak nangis. Tapi ada sesuatu di dada yang rasanya kayak akhirnya bisa dilepas pelan-pelan.

Aku pulang sore itu. Bukan ke rumah lama. Tapi ke rumah kontrakanku di kota, yang dindingnya masih kosong dan mejanya masih berantakan.

Lampu kamarku mati. Aku duduk di lantai, nyender ke kasur tipis. Kunci tua itu masih di sakuku. Dingin.

Aku keluarkan. Kuliatin lama-lama. Goresan di giginya udah tumpul, warnanya kusam. Dulu aku simpan ini kayak harta. Sekarang aku ngerti, yang bikin rumah itu hidup bukan kuncinya. Tapi orang-orang yang dulu ada di dalamnya.

Aku taruh kunci itu di laci meja. Nggak di gantungan, nggak di tempat yang kelihatan. Cuma di laci, di antara buku-buku lama dan surat-surat yang belum sempat kubalas.

Nggak kepakai lagi. Tapi aku nggak buang.
Kayak bagian dari diriku yang dulu, yang sekarang udah bisa aku taruh di tempatnya tanpa harus pura-pura lupa.

Malam itu aku nggak mimpi buruk.
Aku mimpi dapur rumah lama. Bau rendang, suara TV, dan ibu yang duduk di meja sambil ngupas bawang. Dia nggak ngomong apa-apa. Cuma senyum, terus nunjuk ke kursi kosong di depannya.

Aku duduk.
Dan untuk pertama kali setelah sepuluh tahun, rasanya kayak pulang beneran.

Mungkin rumah itu memang udah pindah.
Pindah ke orang-orang yang masih inget.
Pindah ke tempat-tempat yang masih i nama ibu.
Dan pindah ke dadaku, yang akhirnya berani balik lagi meskipun pelan, dan nggak sepenuhnya sembuh.

Tapi cukup.
Cukup buat aku mulai nulis lagi di buku, bukan di tembok, mulai sekarang. (*)

*) Sherley Ana Azzahra, Siswa kelas VII SMP Muhammadiyah 1 Gresik, Jawa Timur.

 


Post Views: 154

sumber berita dari girimu.com

Follow WhatsApp Channel www.kabargresik.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Dari Kelas ke Meja Bisnis, Siswa Kelas 9 Spemupat Asah Jiwa Wirausaha Lewat Praktik Jualan Kreatif
TK ‘Aisyiyah 09 Sidayu Borong Dua Juara di FABA 2026, Juara Pildacil Melaju ke Tingkat Jawa Timur
Gelombang Oranye : Baitul Arqom Bakar Semangat Puluhan Guru Muhammadiyah Gresik
Training Camp Futsal SMAMDELA Bangun Kekompakan Pemain
Program Partnership SDMM Bawa Dampak Besar bagi Kemajuan SD Mutu Bawean
Baitul Arqam Spemdalas: Membingkai Kecantikan Batin Muslimah di Era Digital
Sehat Bareng, Makin Kompak: Teachers Gathering Spemdalas Hadirkan Senam dan Sarapan Bersama
Perjalanan Panjang Kinas: Dari Rasa Grogi Jadi Atlet Renang Berprestasi
Berita ini 2 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 26 Mei 2026 - 12:11 WIB

Kunci yang Tak Lagi Dipakai

Selasa, 26 Mei 2026 - 03:10 WIB

Dari Kelas ke Meja Bisnis, Siswa Kelas 9 Spemupat Asah Jiwa Wirausaha Lewat Praktik Jualan Kreatif

Senin, 25 Mei 2026 - 18:09 WIB

TK ‘Aisyiyah 09 Sidayu Borong Dua Juara di FABA 2026, Juara Pildacil Melaju ke Tingkat Jawa Timur

Senin, 25 Mei 2026 - 09:08 WIB

Gelombang Oranye : Baitul Arqom Bakar Semangat Puluhan Guru Muhammadiyah Gresik

Senin, 25 Mei 2026 - 00:07 WIB

Training Camp Futsal SMAMDELA Bangun Kekompakan Pemain

Berita Terbaru

Muhammadiyah Gresik

Kunci yang Tak Lagi Dipakai

Selasa, 26 Mei 2026 - 12:11 WIB

Muhammadiyah Gresik

Training Camp Futsal SMAMDELA Bangun Kekompakan Pemain

Senin, 25 Mei 2026 - 00:07 WIB