Menembus Batas Panggung The Jumping City

- Editorial Team

Selasa, 18 Maret 2025 - 13:35 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ketika kita membayangkan sebuah pertunjukan teater, barangkali yang pertama terlintas dalam benak kita adalah panggung yang megah, pencahayaan dramatis, serta aktor-aktor yang tampil dengan penuh penghayatan di depan penonton yang duduk rapi dalam auditorium tertutup.

Teater telah lama identik dengan ruang yang memberi jarak interaksi antara pemain dan penonton, di mana keduanya dipisahkan oleh batas panggung dan kursi.

Namun, bagaimana jadinya jika batasan itu dihilangkan? Jika sebuah pertunjukan teater tidak lagi dibatasi oleh ruang panggung, melainkan dipentaskan di tempat yang terbuka, di bawah langit luas dengan pemandangan malam kota yang terbentang?

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sesuatu yang berbeda ini dihadirkan oleh Kendati Chaos, kelompok yang menampilkan teater dalam rangkaian program pameran “The Jumping City” yang diselenggarahkan oleh Yayasan Gang Sebelah.

Sebuah pengalaman berbeda bagi pecinta seni pertunjukan, yakni menonton teater di atas sebuah rooftop bangunan tua berusia lebih dari 120 tahun, milik Sualoka.Hub yang berara di kampung kemasan.

Rooftop yang umumnya dikenal sebagai tempat bersantai, menikmati pemandangan kota, atau bahkan sekadar melepas penat, disulap menjadi panggung hidup yang menghadirkan cerita, emosi, dan eksplorasi artistik yang unik.

Untuk pertama kalinya di Gresik, sebuah pertunjukan teater digelar di atas rooftop, menghadirkan sensasi baru dalam menikmati seni pertunjukan.

Dalam kesempatan ini, kelompok teater Kendati Chaos, yang disutradarai oleh Choiruz Zaman, menampilkan naskah berjudul “Aku Ingin Menyebut Laut dengan Huruf Kapital di Depannya”, sebuah naskah karya dari Shohifur Ridho’i.

Pertunjukan ini merupakan Sebuah eksplorasi tentang ingatan, laut, dan kehidupan yang terus bergulir di tengah kegelisahan. Membicarakan laut yang tinggal ingatan laut yang lungkrah, tak lagi asin, hanya pahit.

Baca Juga :  Paripurna DPR Gresik, 3 Fraksi Walk Out

Pertunjukan ini juga menghadirkan pendekatan yang unik dalam penempatan penonton duduk di kursi layaknya cafe atau warung kopi yang berada di tengah, sementara para aktor-aktornya bergerak dan beraksi mengelilingi mereka.

Seperti Damar kurung, cerita yang membingkai cahaya. Dengan konsep ini, pertunjukan seperti membongkar batas antara pemain dan penonton, menciptakan pengalaman yang lebih dekat dan intim. Setiap ekspresi wajah, gerakan tubuh, hingga perubahan nada suara para aktor dapat dirasakan lebih intens oleh penonton, seolah-olah mereka bukan hanya menyaksikan, tetapi juga menjadi bagian dari cerita yang sedang berlangsung.

Satu hal lagi yang menarik, penonton melihat gambar yang disorot ke arah atap rumah tua yang ada di dalam kampung Kemasan, sambil menikmati pemandangan pabrik-pabrik kota industri di malam hari.

Ditambah lagi, pertunjukan tetap berlangsung setelah ditunda beberapa jam meskipun hujan mengguyur Gresik. Penonton bersedia menyaksikan pementasan teater dengan menggunakan jas hujan yang disediakan oleh panitia, bertahan lebih dari tiga puluh menit dengan tenang.

Seperti ada rasa saling percaya antara pemain dan penonton. Atau pertunjukan ini menjadi sesuatu yang penting dan sayang sekali jika dilewatkan. Maka, meskipun dalam keadaan basah, pementasan teater tetap berlangsung khusuk.

Setelah pertunjukan teater usai, acara dilanjutkan dengan sesi diskusi. Diskusi diawali dengan pertanyaan kepada sutradara mengenai gagasan yang ingin disampaikan kepada penonton melalui pertunjukan ini.

Baca Juga :  Malam Tahun Baru Pertigaan Pasar Dukun Bakal Ramai

Choiruz Zaman, Sutradara teater, menuturkan, bahwa teater ini merupakan refleksi dari realitas di Gresik serta aktifitas yang kita jalani sehari-hari.

“Teater ini merupakan refleksi bagaimana Gresik itu dalam sehari-harinya sehingga penonton dapat merasakan luapan emosi dari pertunjukan teater ini yang menyiratkan suatu pesan,” jelasnya.

Pertunjukan ini pun mendapat respon baik dari penonton, Harry Koko Priutama mengatakan bahwa pertunjukan ini mengambarkan bagaimana Gresik itu sehingga dirinya mendapatkan luapan emosi dari dalam diri.

“Dari pertunjukan ini saya merasakan adanya luapan emosi seperti amarah dan kekecewaan, serta menangkap gambaran hiruk-pikuk kehidupan di Gresik yang tergambarkan dalam pementasan. Hal ini dianggap sebagai bentuk kritik tersirat terhadap kondisi lingkungan, khususnya terkait alam dan laut di kota ini,” ungkapnya.

Para aktor pun mengungkapkan pendapat mereka tentang apa yang mereka rasakan saat berperan, ada yang merasa bahwa sangat relate dangan apa yang ia rasakan di Gresik ini dan ada yang merasa bahwa pertunjukan ini mencerminkan kondisi Gresik yang penuh dengan polusi dan suhu yang panas, sehingga mereka merasa sangat terhubung dengan cerita yang disampaikan.

Melalui pertunjukan ini, Yayasan Gang Sebelah tidak hanya mendistribusikan hiburan semata, tetapi juga sebuah tawaran ruang yang membuka kemungkinan baru dalam seni pertunjukan di Indonesia.

“Teater di atas rooftop bukan hanya tentang lokasi yang tidak biasa, tetapi juga tentang bagaimana ruang dapat mempengaruhi pengalaman, makna, dan resonansi sebuah cerita,” pungkas salah satu anggota Yayasan Gang Sebelah.

Penulis : Daniel Andayawan

Editor : Tiko

Follow WhatsApp Channel www.kabargresik.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

GOR Kromo Widjojo Sidayu Ternoda : Aksi mesum Dibelakang gedung
JIIPE Salurkan 8 Sapi dan 36 Kambing Kurban di Gresik
Kurban Runner 1K Gresik, Ratusan Kambing Diarak Keliling Bandar Grisse
Damar Kurung Tak Padam: Anak-anak Benjeng bercerita di Atas Kertas
Kolaborasi Siswa Kelas 5-6 SD Negeri 94 Gresik di Upacara
Muscab PKB Gresik Tanpa Pemilihan, Ketua Ditentukan DPP
Kompak Berbusana Hitam, SDN 94 Gresik Gelar Halalbihalal
BIP Janji Serap 60% Tenaga Kerja Lokal Bungah
Berita ini 52 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 1 Juni 2026 - 18:19 WIB

GOR Kromo Widjojo Sidayu Ternoda : Aksi mesum Dibelakang gedung

Rabu, 27 Mei 2026 - 13:57 WIB

JIIPE Salurkan 8 Sapi dan 36 Kambing Kurban di Gresik

Rabu, 27 Mei 2026 - 01:33 WIB

Kurban Runner 1K Gresik, Ratusan Kambing Diarak Keliling Bandar Grisse

Sabtu, 23 Mei 2026 - 14:56 WIB

Damar Kurung Tak Padam: Anak-anak Benjeng bercerita di Atas Kertas

Senin, 6 April 2026 - 14:15 WIB

Kolaborasi Siswa Kelas 5-6 SD Negeri 94 Gresik di Upacara

Berita Terbaru

Muhammadiyah Gresik

International Dance Tampil Memukau di Special Moment #12 SD Muhammadiyah GKB 2

Selasa, 9 Jun 2026 - 00:49 WIB