Pasca-Ujian Nasional Dihapus, Menakar Arah Baru Pendidikan melalui TKA di SMA Muhammadiyah 1 Gresik

- Editorial Team

Selasa, 4 November 2025 - 05:41 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

banner 468x60

Oleh M. Islahuddin

GIRIMU.COM — Penghapusan Ujian Nasional (UN) beberapa tahun lalu menjadi tonggak penting dalam sejarah pendidikan Indonesia. Keputusan ini disambut dengan beragam tanggapan. Ada yang menilai langkah tersebut sebagai bentuk kemerdekaan belajar, namun tak sedikit yang menganggapnya meninggalkan kekosongan dalam sistem evaluasi nasional.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tanpa UN, sekolah kini memiliki kewenangan lebih luas untuk menilai capaian siswanya. Namun, di sisi lain, absennya standar nasional menimbulkan tantangan baru. Setiap sekolah menetapkan ukuran keberhasilan yang berbeda-beda, sehingga hasilnya sering tidak seimbang.

Hal ini juga berdampak secara internasional. Beberapa universitas di luar negeri, seperti di Belanda dan Jerman, mengaku kesulitan menilai kemampuan akademik siswa Indonesia, karena ketiadaan tolok ukur yang seragam. Alhasil, banyak lulusan SMA dari Indonesia harus mengikuti kelas persiapan tambahan sebelum diterima di perguruan tinggi luar negeri.

“Bukan karena siswa kita kurang pintar, tetapi karena sistem kita belum memiliki ukuran yang benar-benar bisa dipercaya,” ujar salah satu pengamat pendidikan yang penulis kutip dari Malaka Projek.

Tes Kemampuan Akademik: Upaya Menata Ukuran Baru

Untuk menjawab kebutuhan tersebut, pemerintah berencana menerapkan Tes Kemampuan Akademik (TKA) sebagai salah satu syarat dalam Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) mulai tahun 2026. TKA diharapkan menjadi instrumen baru yang lebih adil dan kredibel dalam menilai kemampuan siswa secara nasional.

Baca Juga :  Menguatkan Tradisi Literasi dan Peran Media

Ide dasarnya sederhana: seleksi masuk perguruan tinggi tidak lagi semata bergantung pada nilai rapor, yang belum tentu sebanding antarsekolah. Dengan TKA, siswa dinilai berdasarkan kemampuan berpikir kritis, penalaran, dan literasi yang lebih objektif.

Namun, sebagaimana diingatkan banyak praktisi pendidikan, pembenahan sistem tidak cukup berhenti pada penambahan tes baru. Yang perlu dibenahi bukan hanya cara menguji, tetapi juga cara belajar dan cara mendidik.

SMA Muhammadiyah 1 Gresik Adaptif Menyambut TKA

Menyikapi arah kebijakan baru ini, SMA Muhammadiyah 1 Gresik (Smamsatu) menunjukkan langkah proaktif dengan mengintegrasikan Tes Kemampuan Akademik internal dalam sistem evaluasinya.

Pelaksanaan TKA di Smamsatu tidak hanya bertujuan mengukur kemampuan akademik siswa, tetapi juga membentuk pola pikir analitis dan kritis. Soal-soal yang digunakan menuntut penalaran, pemahaman konsep, serta kemampuan memecahkan masalah kontekstual sejalan dengan semangat Merdeka Belajar yang digagas pemerintah.

Kepala Sekolah Smamsatu, Nurul Ilmiyah, dalam wawancaranya, menyampaikan, Tes Kemampuan Akademik ini bukan sekadar ujian. Ia adalah bagian dari pembiasaan berpikir logis dan kreatif.

“Kami ingin murid tidak hanya siap menghadapi TKA nasional, tetapi juga siap menghadapi tantangan zaman dengan akhlak dan kecerdasan,” ujarnya.

Baca Juga :  Smala Expo, Gebrakan Baru Alumni untuk Menembus Perguruan Tinggi

Selain aspek akademik, Smamsatu tetap menekankan pembinaan spiritual dan karakter melalui kegiatan sholat Dhuha berjamaah sebelum mengerjakan TKA, mentoring, serta penguatan nilai-nilai Al-Islam dan Ke-Muhammadiyahan. Dengan demikian, pendidikan di Smamsatu tidak hanya melahirkan siswa cerdas secara intelektual, tetapi juga tangguh secara moral dan sosial.

Pendidikan Berkemajuan: Antara Ukuran dan Nilai

Ketiadaan Ujian Nasional sesungguhnya membuka peluang baru untuk menciptakan sistem pendidikan yang lebih manusiawi dan adaptif. Namun, keadilan pendidikan tidak akan tercapai hanya dengan mengganti sistem ujian. Ia memerlukan perubahan paradigma: dari sekadar mengukur hasil belajar menuju menumbuhkan cara berpikir dan karakter belajar yang berkelanjutan.

Apa yang dilakukan SMA Muhammadiyah 1 Gresik menjadi contoh nyata semangat pendidikan berkemajuan yang diusung Muhammadiyah yakni pendidikan yang memadukan ilmu, iman, dan amal.

“Pendidikan tidak hanya soal skor, tapi soal membentuk manusia yang berilmu dan berakhlak,” tutup Kepala Sekolah Smamsatu.

Dengan hadirnya TKA sebagai ukuran baru, dan dengan kesiapan sekolah-sekolah seperti Smamsatu yang berinovasi, harapan untuk membangun pendidikan nasional yang adil, kredibel, dan berkarakter semakin terbuka lebar. (*)

*) M. Islahuddin, Guru di SMA Muhammadiyah 1 Gresik.


Post Views: 3

sumber berita dari girimu.com

Follow WhatsApp Channel www.kabargresik.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Depp Fake – Media Palsu
IGABA Bungah Semarakkan Baksos bersama Kak Rita dan Boneka Martin
Spirit Optimalkan Ibadah Semangati Siswa Spemdalas Awali Iktikaf Ramadan
TK ABA 41 Menganti Gelar Simulasi Salat Idulfitri
105 Siswa Kelas XI SMAMDELA Ikuti Darul Arqam 1447 H
Pondok Ramadan MI Mutwo Tanamkan Semangat Belajar
Pawai Payung Meriahkan Pembagian Zakat PAUD Aisyiyah Bungah
Sikapi Pengobatan Alternatif, Ustadz Anas Thohir: Jangan Hanya Andalkan Logika, Perkuat Ruhiyah
Berita ini 12 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 13 Maret 2026 - 11:46 WIB

Depp Fake – Media Palsu

Jumat, 13 Maret 2026 - 02:46 WIB

IGABA Bungah Semarakkan Baksos bersama Kak Rita dan Boneka Martin

Kamis, 12 Maret 2026 - 08:44 WIB

TK ABA 41 Menganti Gelar Simulasi Salat Idulfitri

Rabu, 11 Maret 2026 - 23:43 WIB

105 Siswa Kelas XI SMAMDELA Ikuti Darul Arqam 1447 H

Rabu, 11 Maret 2026 - 14:41 WIB

Pondok Ramadan MI Mutwo Tanamkan Semangat Belajar

Berita Terbaru

PENDIDIKAN

Guru SDN 94 Gresik Tukar Hampers Lebaran

Jumat, 13 Mar 2026 - 18:02 WIB

PENDIDIKAN

SDN 94 Gresik Tutup Pondok Ramadan dengan Santunan

Jumat, 13 Mar 2026 - 17:04 WIB

Muhammadiyah Gresik

Depp Fake – Media Palsu

Jumat, 13 Mar 2026 - 11:46 WIB

Muhammadiyah Gresik

IGABA Bungah Semarakkan Baksos bersama Kak Rita dan Boneka Martin

Jumat, 13 Mar 2026 - 02:46 WIB