Di depan gawang, jarak sebelas meter terasa jauh sekaligus dekat. Waktu seakan berhenti. Ribuan pasang mata menunggu satu sentuhan kaki. Tendangan penalti, hari ini, adalah momen paling sunyi sekaligus paling bising dalam sepak bola.
Namun penalti tidak lahir sebagai drama. Ia muncul dari kegelisahan.
Ketika Pelanggaran Menjadi Taktik
Pada akhir abad ke-19, sepak bola masih mencari bentuknya. Aturan belum tegas membedakan pelanggaran biasa dan pelanggaran yang merampas peluang gol. Di depan gawang, menjatuhkan lawan justru menjadi pilihan rasional. Hukuman ringan. Risiko kecil. Gol bisa digagalkan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Permainan berjalan, tapi keadilan tertinggal.
Pelanggaran yang seharusnya memalukan justru menjelma taktik bertahan. Wasit tak punya banyak pilihan. Penonton menggerutu. Sepak bola butuh koreksi.
Seorang Kiper dan Sebuah Gagasan
William McCrum bukan penyerang, bukan pula pembuat gol. Ia seorang kiper asal Irlandia—posisi yang paling memahami arti peluang emas. Pada 1890, McCrum mengajukan usulan yang radikal untuk zamannya: hukuman langsung berupa tendangan bebas dari jarak dekat bagi pelanggaran yang disengaja di area gawang.
Usulan itu ditertawakan. Penalti dianggap tidak ksatria. Menyerang rasa percaya pada sportivitas pemain bertahan. Sepak bola, kala itu, masih ingin percaya pada moral.
Namun pelanggaran terus terjadi.
Keadilan yang Disahkan
Setahun berselang, 1891, International Football Association Board (IFAB) mengesahkan tendangan penalti. Bukan sebagai hukuman balas dendam, melainkan sebagai alat koreksi. Jarak sebelas meter dipilih agar peluang mencetak gol sepadan dengan peluang yang dirampas secara tidak sah.
Pada 1902, garis kotak penalti diperkenalkan. Lapangan diberi batas moral: di sinilah kesalahan dibayar mahal.
Sejak itu, sepak bola tak lagi sama.
Dari Aturan Menjadi Psikologi
Penalti perlahan berubah fungsi. Ia tak hanya menghukum pelanggaran, tapi juga menguji mental. Ketika adu penalti diperkenalkan pada 1970-an untuk menentukan pemenang, drama mencapai puncaknya.
Di titik ini, penalti bukan lagi tentang wasit atau aturan. Ia tentang keberanian. Tentang ketenangan di bawah tekanan. Tentang sejarah yang ditentukan oleh satu tendangan.
Warisan yang Tak Pernah Sepi Perdebatan
Lebih dari seabad kemudian, penalti tetap memantik kontroversi. Soal handball. Soal VAR. Soal niat dan ketidaksengajaan. Namun satu hal tak berubah: penalti adalah upaya sepak bola menjaga keseimbangan antara permainan dan keadilan.
Ia lahir dari ketidakadilan, tumbuh dalam perdebatan, dan bertahan sebagai bagian paling manusiawi dari sepak bola—tempat kesalahan, keberanian, dan harapan bertemu di satu titik putih.
Editor : Akhmad Sutikhon











