Angin tanggal 23 Mei 2026 tak hanya membawa sejuk di Benjeng, Gresik. Di halaman eks UPT Dinas Pendidikan Kecamatan Benjeng, gemuruh tawa dan semangat ratusan siswa Sekolah Dasar (SD) dari berbagai penjuru kecamatan itu berpadu, merayakan Festival Damar Kurung. Bukan sekadar ajang adu gengsi memburu piala, festival ini adalah panggung pembuktian. Di tangan mungil anak-anak itulah, tradisi adiluhung kota pudak yang nyaris redup, kembali dinyalakan dengan riang gembira.
Di balik megahnya acara, ada jemari para guru pembina yang tak lelah mengarahkan. Ketua Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) Kecamatan Benjeng, Dwi Rakhmad Fierdiansyah, di atas podium tak mampu menyembunyikan binar bangganya. Suaranya bergetar penuh apresiasi saat menyapa para pendidik yang hadir. “Apresiasi setinggi-tingginya dan rasa hormat saya haturkan kepada seluruh Bapak/Ibu guru pendamping serta pembina. Tanpa limpahan keringat dan kreativitas panjenengan semua, festival semeriah ini tidak akan pernah terwujud. Hari ini kita saksikan bersama, sinergi pendidikan Benjeng begitu luar biasa,” tutur Dwi, disambut gemuruh tepuk tangan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ketegangan yang sempat menyelimuti wajah-wajah mungil para peserta seketika runtuh saat Pengawas Pendidikan Kecamatan Benjeng, Zainuddin, mengambil alih mikrofon. Pria yang akrab disapa Udin ini langsung mengocok perut hadirin lewat rentetan pantun jenaka yang segar.
Namun, setelah tawa mereda, Udin menitipkan sebuah pesan mendalam yang menyentuh hati para siswa. Baginya, kompetisi ini bukan soal menyingkirkan lawan. “Anak-anakku, dengarkan Pak Udin. Kalian bisa berdiri di sini, membawa nama baik sekolah kalian masing-masing, itu sudah membuktikan bahwa kalian adalah anak-anak hebat yang terpilih! Menang atau kalah nanti, itu hanyalah bonus kecil dari sebuah proses. Yang paling mahal adalah keberanian dan pengalaman kalian hari ini,” tegas Udin sembari mengacungkan jempolnya. Ia juga memuji habis-habisan performa K3S Benjeng yang berhasil menyulap ruang edukasi ini menjadi festival budaya yang begitu berkelas.
Daya pikat festival ini benar-benar membakar adrenalin para peserta. Di sudut lapangan, Clara Nathania Putri Sunandar, siswi perwakilan dari UPT SD Negeri 94 Gresik, tampak berdiri tegak dengan tatapan mata berbinar penuh rasa percaya diri. Di tengah kepungan ratusan rival dari berbagai lembaga, nyalinya sama sekali tak menciut. “Rasanya seru sekali dan bikin makin tertantang! Aku sangat antusias dan bersemangat. Aku ingin memberikan yang terbaik dan siap bersaing secara sehat dengan ratusan teman-teman dari sekolah lain,” cetus Clara dengan senyum lebar yang optimistis.
Hari itu, di bawah langit Benjeng, anak-anak tidak hanya sedang mewarnai kertas lampion. Mereka sedang menggoreskan harapan dan memastikan bahwa cahaya Damar Kurung akan terus menyala terang, melintasi zaman.
Penulis : Muhammad Syaifullah











