Teguran Rindumu untuk Bangku Lapuk

- Editorial Team

Rabu, 17 Juni 2026 - 16:13 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

banner 468x60

Angin menyapu jalan raya. Dedaunan berpindah ke sana dan ke mari tanpa tau tujuan. Rembulan yang ingin setiap mata melihat sinarnya. Malam itu Rengganis memahami, bahwa tidak semua rasa rindu perlu diungkapkan.

Sofa yang masih sama, tak pernah berubah. Sedari awal rumah dibangun, aku terduduk sendiri di atasnya. Ada suara serak sebuah kipas angin tua. Ditambah celotehan anak-anak dari luar pagar yang sudah berkarat.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Saat aku melihat ke arah luar dan duduk di teras, pandanganku jatuh kepada proporsi badan yang sangat aku kenal. Tak disangka aku melihat sosok yang selama ini aku rindukan dan juga mendengar suaramu kembali.

Padahal seorang Rengganis sudah membuang rasa rindunya jauh. Tetapi terkadang rasa itu kembali muncul, tanpa suruhan. Bagaikan bangkai yang sudah dibuang jauh disana tetapi terkadang baunya masih tercium samar.

“Mahda….”

Lirih. Aku tak mengalihkan pandanganku sampai Mahda benar-benar hilang dari penglihatanku. Saat Mahda kembali muncul di hadapanku, semua ingatanku tentangnya kembali berputar di kepalaku.

“Rengganis. Kau tidak pergi ke kantin?” tanyanya lembut, tetapi mendapat gelengan kecil dari Rengganis, yang sedang duduk manis di bangku kayu tua.

Ia nampak tenang. Tangannya yang memegang pensil dan bergerak rapi dan halus, menghasilkan sebuah gambar seekor burung di atas dahan pohon kenari. Mahda menatap kagum gadis di hadapannya. Ia sangat anggun dan memesona. Walaupun hanya mengunakan seragam dan rambut yang dibiarkan terurai, tetapi hal itu lolos membuat jantung Mahda berdetak lebih cepat.

“Mengapa hanya menggambar satu burung, mengapa tidak dua?”

Rengganis menghadap ke arah Mahda. Ia menatap Mahda lembut. Sudut bibirnya naik perlahan. Lesung pipinya mulai terlihat.

Sebenernya gambar ini bercerita tentang seekor burung yang terpisah dengan kawanannya. Akibat lelah mencari, ia beristirahat di sebuah pohon tanpa ia sadari itu adalah pohon kenari. Akhirnya ia beristirahat dengan memakan biji kenari tersebut,” Jelas Rengganis dengan lesung pipi yang nampak semakin dalam.

Bukan hanya Mahda yang mengaguminya. Rengganis pun mengagumi Mahda, karena parasnya yang tampan dan mengganggap Mahda seperti api unggun di musim dingin yang tak pernah padam. Sering membuat orang tertawa dengan kelakuan anehnya, membantu teman yang dibully dan itulah yang membuat Rengganis akhirnya penasaran dengan Mahda.

Kelas mulai terisi kembali. Seorang teman mengajak berbincang di meja paling tengah. Beberapa teman mulai mengambil bangku mereka. Kami semua menggabungkan bangku-bangku itu. Dua bangku berisi tiga anak. Mahda menyuruhku bergeser. Aku kira ia hanya malas mengambil bangku. Aku dengannya duduk bersebelahan. Tatapan aneh, itu sudah pasti, tetapi aku hanya berlagak cuek dengan hal itu.

Dua bangku penuh cerita. Suara gaduh anak-anak di dalam kelas saat itu. Sisa ruang kelas yang sempit mereka jadikan lapangan bola. Ada juga yang mencoret-coret papan tulis dengan spidol sisa di atas meja guru. Dua meja paling tengah diisi melingkar oleh beberapa anak lainnya. Rengganis dan Mahda berada di kumpulan bangku tersebut.

Baca Juga :  Biro Ta’arufMU Aisyiyah Jatim Berhasil Satukan Dua Peserta hingga Menikah

Keringat air es sudah siap menetes ke lantai. Bubuk cabai basreng bertebaran bebas di atas meja. Lingkaran kursi kayu tua, suara tawa mereka menggelegar satu kelas, karena candaan Mahda. Ada yang sampai menitikkan air mata saking lucunya candaan itu. Mahda melihat teman-temannya tertawa tanpa henti, hanya bisa terkekeh melihatnya.

Di sela-sela tawa, Mahda dengan santai menyandarkan kepalanya pada pundak Rengganis walaupun pundak itu bergetar akibat tawa yang belum reda. Melihat kerutan di wajah Rengganis dan mata yang menyipit sempurna seperti bulan sabit. Tatapan mata Mahda terkunci. Bahkan untuk berkedip pun ia enggan. Ia tak mau menyia-nyiakan pemandangan disampingnya itu. Rengganis? ia membiarkan Mahda melakukan apa pun yang membuatnya nyaman. Di meja itu jarak sudah pergi meninggalkannya mereka.

Ubin teras terasa semakin dingin. Bulan sudah membulat sempurna. Tubuh gadis itu bergetar, bulu kuduknya berdiri. Angin malam menghantam tubuh kecil itu dengan senyuman getir perlahan mulai muncul pada bibir. Seperti sayatan pisau dibiarkan terkena aliran air deras. Perih dadaku saat mengingatmu, dengan semua kenangan manis. Sebelum sebuah kertas bertuliskan. ‘LULUS’ dibuka. Kau selalu berusaha menegur kebiasaan burukku.

Tatapan matanya terpaku pada Rengganis yang sedang berbincang dengan teman sebangku. Tanpa pikir panjang, langkah tegap tersebut melangkah dengan yakin. Melambaikan tangan kepada dua gadis di depannya, Rengganis terkekeh geli melihat tingkahnya. Mahda sangat benci dengan suasana canggung. Ia tau jika Rengganis tidak banyak bicara kecuali dengan teman dekatnya.

Dengan segala trik yang Mahda punya, ia mencoba mengobrol dengan teman Rengganis, tetapi mata Mahda tidak pernah benar-benar berpaling dari Rengganis. Sementara Rengganis tenggelam dalam lamunannya. Tangannya bergerak kasar mencabuti kulit bibirnya yang menurutnya sedikit mengganggu, tetapi itu membuat beberapa area bibir mulai berdarah. Mahda terpaku. Alisnya mengkerut. Dengan sigap Mahda menggenggam erat pergelangan tangannya, namun tak sampai membuatnya kesakitan.

“Rengganis! Sudah cukup. Lihatlah bibir mu berdarah… tunggu sebentar.”

Mahda berlari kecil mengambil beberapa lembar tisu. Rengganis sedikit menggesek bibirnya, darah hampir memenuhi ujung telunjuk nya.

“Iya maaf… gausah panik..”

Dahiku mengkerut. Aku benar-benar tidak menyangka akan ada orang yang sangat menghawatirkanku. Aku tidak bisa berhenti melakukan kebiasaan burukku ketika aku sedang melamun atau sedang bingung. Sebelumya aku memang sering mendapat teguran untuk itu, namun baru pertama kali kulihat kamu orang yang sangat khawatir denganku. Asal kamu tau, aku belum bisa berhenti dari kebiasaan itu. Aku masih sering tertangkap olehmu, bahkan hanya ketika aku memegang bibirku, kau langsung menegurku, menghampiri ku, atau kadang hanya dengan memanggil namaku. Aku suka teguran halusmu, aku suka ketika kamu lebih memperhatikanku daripada buku yang ada di depanmu.

Baca Juga :  Puluhan Peserta Ikuti Pelatihan Perawatan Jenazah di Masjid At-Taqwa Benjeng

Semua berubah saat hari kelulusan itu tiba. Semua yang selama ini kamu lakukan untukku, terlalu masuk akal untuk sebuah kepastian Mahda. Bohong jika aku tidak menyadari semua maksud dari perilakumu. Aku hanya terlambat untuk membalas semuanya.

Setelah kelulusan, Rengganis mencoba tetap menghubungi Mahda walaupun hanya dengan mengirim pesan. Dulu saat masih sekolah, nama kontak Mahda berada paling atas, entah Mahda yang menanyakan kabar atau sekedar mengucapkan selamat pagi dan selamat malam ketika selimut sudah menutupi setengah tubuhnya. Tidak jarang mereka berbincang bincang lewat via telepon, kadang bersama teman-teman lainnya atau hanya mereka berdua.

Layar handphone dibiarkan menyala, menampilkan kontak Mahda beserta semua obrolan bersama Mahda. Ia menatap lama tanggal obrolan tersebut, ’17 Juli 2025′. Ucapan selamat tidur terakhir dari Mahda. Menatap lama layar handphone. Lidahnya terasa keluh. Rengganis menutup matanya perlahan hembusan nafasnya lebih berat dari sebelumnya. Penyesalan perlahan memenuhi dirinya. Maaf, aku tak membalas pesan terakhirmu. Aku kembali mencoba mengirim pesan singkat, namun cukup menjelaskan semua suasana hati ku saat ini.

Hey I miss you”.

Tidak ada balasan darimu. Aku mencoba memaklumi hal itu.

Tapi patut kuingat, aku lebih dulu tak membalas pesanmu dan selama ini ketika kamu mencoba membuka obrolan, aku selalu menjawab sebisanya. Dulu kamu selalu mengajakku bermain saat kamu tau rumahku tidak jauh denganmu. Tetapi aku terus menolak ajakanmu. Aku rasa kamu terlalu lelah mendapat penolakanku. Aku minta maaf untuk itu.

Keesokan harinya. Sisa rasa rindu dan penyesalan masih ada padaku. Ketika aku bersama ibuku menyusuri jalan di dekat masjid, aku melihat sekitarnya cukup membuat aku mengingatnya: ’31 Maret 2025′ Mahda melihatku, namun aku tak menyadari keberadaannya. Setelahnya ia mengirim pesan memberi tahu, bahwa dia ada di belakangku saat itu. Cat tembok kumuh saja bisa memutar kembali kenangan ku.

“Rengganis, lihat ada temanmu,” lamunanku buyar.

Saat aku berbalik badan, aku melihatnya bersama ibunya. Untuk kedua kalinya. Walaupun perasaan sudah pupus. Mahda menatapku malas lalu memalingkan wajahnya ke berbagai arah asal tatapan matanya tak bertemu denganku. Jadi apa yang kau harapkan dari rindumu selama ini?

Terakhir kali aku melihatnya dengan tatapan mata yang masih berbinar. Suara tawanya yang lepas. Mana kerutan wajahmu saat menegurku? Di mana panggilan khasku yang kau buat? Di mana ucapan selamat malam itu?

Rengganis menerima jika memang merindukan seseorang tidak perlu mendengar suaranya atau melihat sosok itu kembali. Namun, perasaan yang diakui lalu perlahan dilepaskan. (*)

*) Afika Dwi Ramadhani, siswa kelas VII SMP Muhammadiyah 1 Gresik.


Post Views: 219

sumber berita dari girimu.com

Follow WhatsApp Channel www.kabargresik.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Spirit Hijrah; Meluruskan Mitos Tahun Baru Islam
Wisuda MDTW Al Ikhlash Gresik Diikuti 33 Santri
Pelepasan Siswa SD Al Islam: Siapkan Generasi Tangguh Beriman, Berilmu, dan Berakhlak Mulia
SD Muwri Gresik Gelar Haflah Akhirussanah, 50 Siswa Diwisuda
Orang Tua Siswi Asal Bojonegoro Sebut SMAMIO GKB Layak Jadi Inspirasi Sekolah di Indonesia
SD Almadany Kunjungi Dapur SPPG Prambangan
Kadis Pendidikan Gresik Resmikan Dalaz Magazine
Classmeeting II Smamio: Tiga Hari Penuh Kebersamaan, Tawa, dan Eksplor Talenta
Berita ini 2 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 17 Juni 2026 - 16:13 WIB

Teguran Rindumu untuk Bangku Lapuk

Rabu, 17 Juni 2026 - 07:12 WIB

Spirit Hijrah; Meluruskan Mitos Tahun Baru Islam

Selasa, 16 Juni 2026 - 04:09 WIB

Wisuda MDTW Al Ikhlash Gresik Diikuti 33 Santri

Senin, 15 Juni 2026 - 19:08 WIB

Pelepasan Siswa SD Al Islam: Siapkan Generasi Tangguh Beriman, Berilmu, dan Berakhlak Mulia

Senin, 15 Juni 2026 - 01:06 WIB

Orang Tua Siswi Asal Bojonegoro Sebut SMAMIO GKB Layak Jadi Inspirasi Sekolah di Indonesia

Berita Terbaru

Muhammadiyah Gresik

Teguran Rindumu untuk Bangku Lapuk

Rabu, 17 Jun 2026 - 16:13 WIB

Muhammadiyah Gresik

Spirit Hijrah; Meluruskan Mitos Tahun Baru Islam

Rabu, 17 Jun 2026 - 07:12 WIB

komunitas

Dapur Saji, Cara Baru Membaca Gresik dari Ingatan Warga

Selasa, 16 Jun 2026 - 14:09 WIB

Muhammadiyah Gresik

Wisuda MDTW Al Ikhlash Gresik Diikuti 33 Santri

Selasa, 16 Jun 2026 - 04:09 WIB