GIRIMU.COM — Mentari sore di Kota Batu, Jawa Timur menyambut hangat kehadiran 76 siswa SMP Muhammadiyah 12 GKB (Spemdalas) Gresik di Kusuma Agrowisata Resort & Convention Hotel. Di tengah sejuknya udara pegunungan pada Selasa (24/2/2026), para siswa tidak sekadar datang untuk berlibur, melainkan untuk menyelami kedalaman karakter melalui tema besar: “Learning to Live The Values of Ramadan“.
Sesi pembuka yang berlangsung mulai pukul 15.30 WIB ini menjadi pijakan krusial bagi para peserta. Menghadirkan Ustadz Miftachul Wahid Abdullah, SP, sebagai narasumber, para siswa diajak membedah kisah legendaris Ashabul Kahfi, tujuh pemuda beriman yang kisahnya diabadikan dalam Al-Quran.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam pemaparannya, Ustadz Miftachul membedah fenomena yang kerap menjangkiti pemuda saat ini melalui materi bertajuk “Penyakit Pemuda”. Fenomena dimaksud, mulai dari rasa malas beribadah, enggan belajar, hingga candu media sosial, dan budaya rebahan yang melenakan.
“Kenapa pemuda itu istimewa?” tanyanya memantik diskusi.
Jawaban pun mengalir dari para siswa: karena pemuda adalah lambang produktivitas (warna hijau). Mereka energik, kreatif, dan berani mengambil risiko. Di sinilah esensi Staycation yang digelar: mengubah mentalitas pasif menjadi sosok agent of change (agen perubahan) yang tangguh.
Empat Pilar Pemuda Ideal
Merujuk pada kisah perjuangan di masa Raja Dikyanus, Ustadz Miftachul menekankan, bahwa pemuda Spemdalas harus memiliki empat profil utama:
Pemuda Beriman: Memiliki keteguhan hati meski di tengah godaan zaman (QS. Al-Kahfi: 14).
Intelektual: Meneladani kegigihan ilmuwan seperti Ibnu Sina dan Al-Khawarizmi.
Organisatoris: Aktif berproses dalam organisasi seperti IPM, Tapak Suci, dan Hizbul Wathan.
Agent of Change: Berani berdiri tegak menyuarakan kebenaran demi masa depan bangsa dan agama.
Suasana semakin hangat saat siswa diminta menuliskan 10 mimpi mereka. Di atas kertas-kertas harapan, terukir cita-cita mulai dari menjadi hafidz (penghafal Al-Quran), CEO, hingga keinginan mulia memberangkatkan orang tua umroh. Pesan yang disampaikan sangat kuat: mimpi itu gratis, maka pilihlah mimpi dengan “harga” yang paling mahal agar memotivasi diri untuk terus bergerak.
Melalui kegiatan ini, Spemdalas ingin memastikan, bahwa Ramadan bukan sekadar ritual menahan lapar, melainkan momentum mengasah kecerdasan intelektual dan spiritual. Seperti kutipan penutup materi tersebut:
“Kita adalah agen perubahan yang akan mengubah wajah bangsa dan agama. Maka jika bukan hari ini, lalu kapan lagi?”.
Sesi hari pertama ini ditutup dengan keceriaan ice breaking tebak gambar, sebuah cara halus namun efektif untuk melatih ketajaman fokus dan logika berpikir seorang intelektual muda sebelum memasuki rangkaian ibadah malam di bulan suci. (*)
Post Views: 2












