Melihat dari Dekat Tsamrotul Ulum, Madrasah Berusia 68 Tahun di Mengare Gresik

- Editorial Team

Jumat, 16 Februari 2024 - 14:54 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BUNGAH | NUGres – Ahad pagi, tepat pukul 07.00 WIB pada 11 Februari 2024, halaman Tsamrotul Ulum Desa Tajungwidoro Kecamatan Bungah Gresik terlihat semarak. Madrasah yang berjarak tak kurang dari 13 kilometer dari Jalan Raya Daendles Gresik itu memperingati Hari Lahir (Harlah) yang ke-68.

Bagi warga Madrasah Tsamrotul Ulum, peringatan Harlah ke-68 ini bukan sekadar seremonial belaka. Akan tetapi menjadi momentum istimewa untuk menilik kembali hadirnya fungsi madrasah dari waktu ke waktu. Terlebih yang dirasakan oleh masyarakat Desa Tajungwidoro.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Berdasar penelusuran penulis, Tsamrotul Ulum berdiri sejak 10 Februari 1956 silam. Lembaga pendidikan formal ini menjadi lembaga pertama berbasis keagamaan di wilayah Mengare. Namun, Madrasah Ibtidaiyah (MI) ini baru resmi diakui dan terdaftar pada tahun 1960. Hal ini seperti yang tertera dalam Piagam Pengakuan.

Keberadaan Tsamrotul Ulum sejak berdirinya terus berkembang dan mendorong berdirinya sekolah penunjang yang berada dalam satu naungan, diantaranya yakni Madrasah diniyah (Madin), Kelompok Belajar Muslimat Nahdlatul Ulama (KBM NU), Roudlotul Athfal Muslimat Nahdlatul Ulama (RAM NU), serta beberapa sekolah lanjutan lainnya yang ada di Mengare.

Tsamrotul Ulum, Dulu dan Sekarang

Menyandang predikat madrasah pertama di Mengare, Tsamrotul Ulum tidak bisa lepas dari sosok kiai fenomenal. Kiai ini merupakan santri dari Syaikhona Kholil Bangkalan. Ia adalah KH Ahyad, yang mempunyai nama kecil Ahmad Lazim.

Baca Juga :  Jangan Mudah Menuduh Orang: Catatan Pertemuan Ketujuh Lailatul Kopdar #2 MWCNU Bungah Gresik

KH Ahyad diceritakan pernah nyantri hingga di Pulau Madura. Ia juga pernah belajar di Pesantren Maskumambang Gresik serta menimba ilmu di Pesantren Tebuireng Jombang. Ia dinikahkan dengan cucu KH Hasyim Asyari yaitu Siti Zubaidah pada saat mondok di sana.

Dalam waktu yang cukup lama, bentuk pendidikan yang ada hanya sebatas ngaji bandongan yang diampu oleh KH Ahyad. Aktifitas itu dilakukannya di atas sebidang tanah yang selanjutnya disebut Langgar Dempok, ia adalah saksi keberadaan ilmu keagamaan ditanam dan disebar dan cikal bakal Tsamrotul Ulum sekarang.

Berawal hanya sebagai pendidikan non-formal, KH Mahfudz (a Founder of The First Madarasah in Mengare) bersama beberapa tokoh masyarakat lain menganggap serius ide tentang pendidikan formal dan sepakat untuk mendirikan MI sebagai jalan menyiapkan generasi Mengare belajar secara baik dan terjamin. Ide itu pun akhirnya terealisasi pada tahun 1956.

Refleksi 68 Tahun Tsamrotul Ulum

Gus As'ad, cicit KH Ahyad saat menyampaikan amanat saat upacara. Foto: Atiq Mujahid/NUGres
Gus As’ad, cicit KH Ahyad saat menyampaikan amanat saat upacara peringatan Hari Lahir ke-68 Tsamrotul Ulum. Foto: Atiq Mujahid/NUGres

Dalam sesi upacara Harlah ke-68 Tsamrotul Ulum, Kepala Madrasah Ustadz Amali mengatakan, banyak hal yang harus terus ada dan dijaga oleh madarasah untuk menjaga kualitas. Peringatan harlah kali ini mengusung tema “Tsamrotul Ulum semakin jaya, maju dan dipercaya serta mencetak generasi yang berakhlaq budi pekerti baik,” ucapnya.

Baca Juga :  Ngaji Reboan Tempat Baru Kupas Kitab Nashoihul Ibad

Kemeriahan Harlah kali ini kian terasa lantaran dihadiri seluruh peserta didik mulai dari KBM NU 74, RAM NU 53, MI Tsamrotul Ulum, pengurus madrasah, stakeholder dan dewan guru serta mahasiswa KKN dari STIT Raden Santri Gresik, serta masyarakat sekitar madrasah. Dan diisi dengan serangkaian acara, mulai dari khatmil Qur’an, upacara, pemotongan tumpeng, seremonial pelepasan 500 balon dan tahlil.

Pelaksanaan upacara dipimpin oleh cicit KH Ahyad, Gus Muhammad As’ad. Dalam amanatnya, ia menyampaikan harapan agar semua yang terlibat dalam madrasah ini terus menjunjung tinggi nilai yang ditanam oleh para pendahulu.

Selain itu, Gus As’ad juga mengajak terus berinovasi dalam mengembangkan mutu pendidikan agar dapat bersaing dan menjadi pijakan mimpi bagi anak-anak Mengare.

“Mari pastikan menapaki tahun ke-68 ini, menjadi refleksi bagi kita untuk menjamin masa depan yang lebih cemerlang lewat masa depan kita, anak-anak MI Tsamrotul Ulum”, tutupnya.

Penulis: Atiq Mujahid
Editor: Chidir Amirullah

Advertisment

Advertisment

sumber berita ini dari nugres.or.id

Follow WhatsApp Channel www.kabargresik.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Lupa Matikan Kompor, Bengkel Tambal Ban di Gresik Terbakar
Warung Kontainer Driyorejo Gresik Terbakar
Libur Nataru, Makam Wali Kutub Gresik Dipadati Ribuan Peziarah
Pria 43 Tahun Meninggal Mendadak di Warkop Sokarno Gresik
Kecelakaan Maut di Jalur Deandles Panceng Gresik 
Angin Puting Beliung Porak-porandakan 2 Rumah di Gresik
Mawar dari Jelantah Rayakan Hari Ibu di Gresik
Pemotor Meninggal usai Tabrak Truk di Driyorejo Gresik
Berita ini 67 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 8 Januari 2026 - 00:08 WIB

Lupa Matikan Kompor, Bengkel Tambal Ban di Gresik Terbakar

Jumat, 2 Januari 2026 - 17:40 WIB

Warung Kontainer Driyorejo Gresik Terbakar

Senin, 29 Desember 2025 - 00:38 WIB

Libur Nataru, Makam Wali Kutub Gresik Dipadati Ribuan Peziarah

Minggu, 28 Desember 2025 - 16:04 WIB

Pria 43 Tahun Meninggal Mendadak di Warkop Sokarno Gresik

Kamis, 25 Desember 2025 - 17:24 WIB

Kecelakaan Maut di Jalur Deandles Panceng Gresik 

Berita Terbaru

Muhammadiyah Gresik

Hadirkan Camat Gresik, Spemdalas Jalankan Program Orang Tua Mengajar 

Selasa, 13 Jan 2026 - 21:03 WIB