Halaman gedung timur Yayasan Pondok Pesantren Alkarimi Tebuwung Dukun Gresik, 16 Agustus 2026, riuh rendah oleh ratusan santri dan masyarakat. Mereka berkumpul untuk sebuah ziarah hidup: Gowes Napak Tilas, memperingati Haul ke-78 Musthofa bin Abdul Karim, tokoh sentral yang jejaknya mengukir sejarah dua pesantren besar di Gresik. Kegiatan ini bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan penjelajahan makna, menyusuri kembali tapak perjuangan seorang ulama penyebar ilmu.
Peserta yang memadati kawasan itu datang dari berbagai penjuru: santri Pondok Pesantren Tarbiyatut Tholabah (Tabah) Kranji, santri Pondok Pesantren Alkarimi Tebuwung, serta masyarakat umum yang tergerak mengikuti agenda tahunan ini. Raut antusiasme dan semangat perkhidmatan begitu kentara di wajah mereka, seolah siap menyerap energi dari kisah lampau.
Rangkaian acara dibuka dengan doa washilah yang ditujukan kepada para masyayikh, leluhur kedua keluarga pesantren, Pondok Tabah dan Alkarimi. Selanjutnya, pembacaan tahlil dan doa menggema, dipimpin oleh Abdul Muhshi, Pengasuh Pondok Pesantren Alkarimi, diikuti oleh sambutan dari ketua yayasan kedua pesantren yang hadir.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Jauh melampaui perjalanan fisik sejauh delapan kilometer dari Pondok Pesantren Alkarimi Tebuwung menuju Pondok Pesantren Tabah Kranji, Napak Tilas ini adalah medium untuk menanamkan nilai-nilai luhur jejak perjuangan Musthofa bin Abdul Karim. Beliau adalah putra pendiri Alkarimi sekaligus perintis Pondok Pesantren Kranji. Spirit edukasi dari perjalanan ini terangkum dalam empat poin penting.
Pertama, keteguhan dan semangat dakwah. Perjuangan menempuh jarak sekitar delapan kilometer dengan sepeda onthel demi menebar ilmu agama tanpa pamrih, mengajarkan bahwa berdakwah atau berkhidmat tidak membutuhkan kemewahan, melainkan tekad yang kuat. Kedua, cinta asal dan silaturahmi lintas lembaga. Ini merupakan upaya mempererat ikatan persaudaraan antara keluarga besar Pondok Pesantren Tabah dan Pondok Pesantren Alkarimi, sebagai wujud melestarikan ukhuwah yang telah dirintis para leluhur.
Ketiga, keikhlasan dan kepatuhan ilahi. Pelajaran penting diambil dari kisah Musthofa saat mengikuti petunjuk salat istikharah untuk mendirikan Pondok Pesantren Tabah, padahal itu bukan rencana awalnya. Ini adalah edukasi untuk selalu berserah diri dan berprasangka baik pada takdir Ilahi. Keempat, kesederhanaan yang penuh berkah. Gaya hidup sederhana namun produktif yang diemban Musthofa menjadi kunci keberhasilan perjuangannya hingga kini, patut untuk diteladani.
Fathur Rahman, Ketua Yayasan Pondok Pesantren Tabah, menyampaikan rasa syukurnya. “Alhamdulillah bisa istiqomah dalam penyelenggaraan Napak Tilas Mbah Musthofa di Pondok Pesantren Alkarimi,” ujarnya. Ia melanjutkan bahwa acara ini juga bagian dari silaturahmi keluarga kedua pondok, yang diharapkan membawa berkah dan barokah. “Kami setiap tahun dalam kegiatan Napak Tilas selalu ‘ngriwuk’ atau merepotkan keluarga Pondok Pesantren Alkarimi. Untuk itu, kami mewakili Pondok Pesantren Tabah ‘nyuwun pangapunten’ sebesar-besarnya. Semoga semuanya diganti oleh Allah dengan rezeki seluas-luasnya untuk Pondok Pesantren Alkarimi,” imbuhnya, penuh kerendahan hati.
Di sisi lain, Murtadlo, Ketua Yayasan Pondok Pesantren Alkarimi, mengucapkan selamat datang. “Ahlan wasahlan Bikhudlurikum di Alkarimi kepada peserta Napak Tilas Pondok Kranji. Semoga silaturahim ini bisa memperkuat hubungan antar keluarga pondok pesantren,” sambutnya. Ia juga menyampaikan permohonan maaf. “Bila ada sesuatu yang kurang berkenan, baik dalam melayani, menyambut, maupun tempat kegiatan, kami mohon maaf yang sebesar-besarnya. Semoga perjalanan Napak Tilas rangkaian Haul Mbah Musthofa berjalan lancar sesuai dengan harapan bersama,” harapnya.
Kebersamaan ini turut dihadiri oleh pengurus Yayasan Pondok Pesantren Alkarimi, jajaran pengurus Yayasan Pondok Pesantren Tabah, pengurus Ikbal Tabah, para Bunyai dari kedua keluarga pondok, Kepala Desa Tebuwung, serta para guru dan kepala sekolah/madrasah se-YPP Alkarimi. Pemberangkatan peserta Napak Tilas Musthofa bin Abdul Karim dipimpin langsung oleh Musfis Salam, salah satu pengasuh Pondok Pesantren Alkarimi, menandai dimulainya perjalanan spiritual dan fisik ini.
Penulis : M Syafik











