Gresik di Persimpangan: Ketika Identitas Santri Digerus Industrialisasi

- Editorial Team

Rabu, 29 Juli 2026 - 11:58 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Identitas “kota santri” Gresik kini dipertanyakan di tengah gempuran industrialisasi. Label yang selama ini melekat kuat pada wilayah berjuluk bumi wali itu rupanya tak pernah secara spesifik terukir dalam visi bupati mana pun, melainkan tumbuh organik dari masyarakat. Ironisnya, saat citra religius itu menguat di benak publik, fakta lapangan bicara lain: seluruh 18 kecamatan di Gresik kini telah memiliki “zona merah” miras dan prostitusi, seiring masuknya investasi yang membawa konsekuensi sosial tak terhindarkan.

Fakta pelik itu mengemuka dalam Diskusi Kopi Gresik Episode 3 bertajuk “Red Zone Gresik: Industrialisasi Menggeser Kota Santri” yang digelar Local Media Network (LMN) di Djuwana Caffe Dukun, Selasa, 28 Juli 2026. Di sana, Nur Faqih, Ketua Bidang Dakwah dan Pengembangan Masyarakat MUI Gresik, menegaskan bahwa predikat kota santri tak pernah terangkai dalam visi bupati mana pun dalam setiap kontestasi Pemilu. Padahal, wilayah Pantura Gresik selama ini dikenal memiliki fondasi keagamaan yang kuat dengan ratusan pondok pesantren dan tradisi religius yang masih hidup. Namun, Nur Faqih mengingatkan, perkembangan kawasan industri membawa konsekuensi sosial yang harus diantisipasi sejak dini. “Saya tidak menemukan visi kota santri dalam setiap Pemilu Bupati wakil Bupati di Gresik,” terang Nur Faqih yang pernah menjadi Anggota KPU Gresik.

Ancaman terbesar industrialisasi, menurutnya, bukan sekadar berdirinya pabrik, melainkan perubahan sosial yang akan mengikuti masuknya investasi dan pendatang dari berbagai daerah. “Ketika wilayah utara mulai dipadati pendatang, maka akan muncul budaya-budaya baru yang sebelumnya tidak pernah kita temui. Ini sesuatu yang tidak bisa dihindari dan harus dipersiapkan sejak sekarang,” ujarnya.

Nur Faqih menjelaskan, masyarakat Pantura perlu menyiapkan diri menghadapi era multikultural dengan memperkuat nilai Islam rahmatan lil alamin, toleransi, serta kemampuan beradaptasi terhadap keberagaman suku, budaya, dan agama. Ia menekankan, masyarakat harus menjadi tuan rumah yang baik tanpa kehilangan identitas religius yang selama ini menjadi ciri khas Gresik.

Selain urbanisasi, ia juga menyoroti tantangan generasi muda di era digital. Penggunaan gawai, media sosial, dan kecerdasan buatan (AI) yang semakin masif berpotensi menurunkan kepekaan sosial jika tidak diimbangi dengan budaya literasi dan kemampuan berpikir kritis. “Kalau otak tidak dibiasakan berpikir dan hanya menerima informasi secara instan, maka kemampuan analisis dan kepekaan sosial bisa menurun. Karena itu pendidikan, pesantren, sekolah, dan keluarga harus bersama-sama membimbing generasi muda,” katanya.

Sementara itu, Ahmad Musfis Salam, yang akrab disapa Gus Salam, seorang tokoh masyarakat Kecamatan Dukun, menegaskan bahwa industrialisasi tidak boleh dipandang sebagai ancaman semata. Menurutnya, pesantren harus mampu beradaptasi dan mengambil peran strategis dalam menyiapkan sumber daya manusia yang siap menghadapi kebutuhan dunia industri.

Ia menyebut banyak pesantren di Gresik kini mulai membuka sekolah vokasi dan pendidikan keterampilan sebagai bentuk respons terhadap perubahan zaman. Langkah tersebut dinilai penting agar para santri memiliki kompetensi yang dibutuhkan dunia kerja tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman. “Pesantren sudah mulai menjawab tantangan zaman. Banyak yang membuka sekolah vokasi dan pendidikan keterampilan agar para santri memiliki bekal yang cukup ketika memasuki dunia kerja tanpa meninggalkan nilai-nilai keagamaan,” ujar Gus Salam, salah satu pengurus Ponpes Al Karimi Tebuwung Dukun.

Baca Juga :  Bengkel Honda Bungah Terbakar

Di sisi lain, Gus Salam mengingatkan bahwa industrialisasi juga memunculkan persoalan sosial baru, mulai dari perubahan pola pendidikan, berkurangnya pengawasan orang tua akibat jam kerja panjang, hingga tantangan moral di lingkungan masyarakat industri. Karena itu, pesantren tidak cukup hanya menjadi lembaga pendidikan agama, tetapi juga harus menjadi benteng moral dan pusat pembinaan karakter generasi muda.

Dari pengamatan Akhmad Sutikhon, penggagas Local Media Network, seluruh 18 kecamatan di Kabupaten Gresik semuanya memiliki “zona merah” baik terkait minuman keras maupun prostitusi. “Dari pengamatan kita di lapangan 18 kecamatan di Gresik ini semuanya mempunyai titik merah. Dan pemilihan kecamatan Dukun sebagai lokasi diskusi ini karena daerah di Gresik Utara, Dukun punya banyak pesantren dan juga Dukun merupakan daerah zona merah yang tebal sekali,” ujarnya.

Agustin Halomoan Sinaga, Kepala Satpol PP Gresik, mengatakan perlindungan terhadap warga sudah dilakukan oleh Pemkab Gresik dengan terus melakukan razia di tempat-tempat yang disinyalir “zona merah” sebagai upaya penegakan Peraturan Daerah. “Namun usaha kami ini perlu dukungan masyarakat, karena personel Pol PP sangat tidak ideal, pasukan kami idealnya 500 orang kalau di mapping seperti Kabupaten Gresik ini, dan lagi kita ini hanya ada di tingkat kabupaten, di tingkat kecamatan kami tidak punya, maka partisipasi aktif masyarakat sangat penting,” tutur Sinaga.

Follow WhatsApp Channel www.kabargresik.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

WAGOS Archery Cup 2026 Kembali Hadir! Ajang Panahan Pelajar Nasional Siap Digelar di Gresik
Tumpeng Nasi Krawu KWGe Masuk Rekor Dunia MURI
Foto kepala Gajah Melayang Curi Perhatian di Petronite Fest 2026
Festival Nasi Krawu Gresik Kenalkan Budaya Lokal
Tumpeng Nasi Krawu Gresik Habiskan 210 Kg Daging
Haul Masyayikh Ponpes Zainal Abidin Bungah Jadi Momentum Teladani Ulama
Dispendukcapil Gresik Akan Buka 7 Layanan Adminduk di Festival Nasi Krawu
Tumpeng Raksasa Nasi Krawu Gresik Siap Pecahkan Rekor MURI
Berita ini 7 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 29 Juli 2026 - 11:58 WIB

Gresik di Persimpangan: Ketika Identitas Santri Digerus Industrialisasi

Minggu, 28 Juni 2026 - 16:39 WIB

Tumpeng Nasi Krawu KWGe Masuk Rekor Dunia MURI

Minggu, 28 Juni 2026 - 00:09 WIB

Foto kepala Gajah Melayang Curi Perhatian di Petronite Fest 2026

Sabtu, 27 Juni 2026 - 18:58 WIB

Festival Nasi Krawu Gresik Kenalkan Budaya Lokal

Sabtu, 27 Juni 2026 - 18:45 WIB

Tumpeng Nasi Krawu Gresik Habiskan 210 Kg Daging

Berita Terbaru

Muhammadiyah Gresik

MI Mulia Gembleng Murid Baru: Lima Hari Membentuk Karakter Dan Menjelajah Asa

Minggu, 19 Jul 2026 - 23:53 WIB