Sebuah momen bersejarah tengah ditunggu para pecinta bola voli tanah air. Tim bola voli putri Gresik Petrokimia Phonska Plus Pupuk Indonesia akhirnya memastikan diri lolos ke babak Grand Final Proliga 2026 yang akan digelar di GOR Amongrogo, Yogyakarta, pada 24–26 April mendatang. Kepastian ini diraih setelah tim berjuluk “The Bulls” tersebut menumbangkan Jakarta Electric PLN dengan skor meyakinkan 3-1 pada laga final four seri Semarang, Kamis (16/4/2026).
Namun, perjalanan menuju partai puncak ini bukanlah cerita instan. Di balik tiket final yang kini digenggam, terbentang lebih dari dua dekade perjuangan, loyalitas, dan mimpi yang tak pernah padam.
Phonska Plus: Lahir Bersama Proliga
Gresik Petrokimia Phonska Plus merupakan salah satu klub bola voli putri tertua dan paling konsisten di Indonesia. Menurut data VolleyBox, klub ini tercatat berdiri pada tahun 1972, meskipun sejarah partisipasinya di kancah profesional baru dimulai pada 2002 sebagai Gresik Phonska. Klub ini berada di bawah naungan PT Petrokimia Gresik, bagian dari holding BUMN Pupuk Indonesia, dengan markas di GOR Tri Dharma, Gresik, Jawa Timur.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Bersamaan dengan lahirnya kompetisi Proliga pada tahun 2002, Gresik Phonska langsung turut serta sebagai peserta awal. Sejak saat itu, klub ini nyaris tak pernah absen—hanya pada 2020 dan 2021 karena pandemi COVID-19—menjadikannya saksi hidup perjalanan bola voli profesional putri di Indonesia.
Sepanjang perjalanan, nama tim beberapa kali berganti mengikuti sponsor dan kebijakan perusahaan:
2002: Gresik Phonska
2005: Gresik Phonska Bank Jatim
2006: kembali Gresik Phonska
2008: Gresik Petrokimia
2020: Gresik Petrokimia Puslatda KONI Jatim (persiapan PON)
2022: Gresik Petrokimia Pupuk Indonesia (setelah bergabung holding Pupuk Indonesia)
2026: Gresik Phonskaplus Pupuk Indonesia (penekanan pada produk unggulan Phonska Plus).
Jejak Prestasi: Spesialis Runner-Up dan Dominasi Livoli
Meski konsisten di level tertinggi, Proliga menyimpan cerita pahit sekaligus manis bagi Petrokimia. Klub ini mencatatkan rekor unik: enam kali finis sebagai runner-up di ajang Proliga pada musim 2002, 2003, 2004, 2006, 2007, dan 2022—terbanyak di antara klub voli putri lainnya. Ironi “spesialis runner-up” ini menjadi motivasi yang tak henti membakar semangat tim untuk akhirnya mengangkat trofi juara.
“Kami bangga memperkenalkan tim yang diperkuat oleh kombinasi pemain berbakat lokal dan asing. Semangat muda dan pengalaman mereka menjadi modal utama untuk meraih sukses di Proliga,” ujar Dwi Satriyo Annurogo, Direktur Utama Petrokimia Gresik saat itu, dalam acara peluncuran tim menjelang Proliga 2025.
Di luar Proliga, Petrokimia justru menunjukkan dominasi di Livoli Divisi Utama. Mereka berhasil meraih gelar juara pada 2023, 2024, dan sebelumnya pada 2005—sebuah hat-trick prestisius. Keberhasilan ini juga diperkuat dengan kontribusi medali emas untuk kontingen Jawa Timur di PON XXI Aceh.
Regenerasi dan Perubahan: Dari Ayub Hidayat hingga Alessandro Lodi
Perjalanan Petrokimia di Proliga juga diwarnai dinamika di kursi pelatih. Pada musim 2024 dan awal 2025, tim ini dibesut oleh Ayub Hidayat yang sukses membawa tim meraih juara Livoli 2024. Menjelang final four Proliga 2025, klub melakukan gebrakan dengan merekrut Jeff Jiang Jie, pelatih asal Tiongkok berpengalaman yang sebelumnya membawa Jakarta LavAni juara Proliga 2022.
Musim 2025 berakhir dengan Petrokimia finis di peringkat ketiga setelah mengalahkan Jakarta Electric PLN di GOR Amongrogo, Yogyakarta. Hasil ini menjadi batu loncatan untuk perombakan skuad yang lebih serius.
Memasuki Proliga 2026, wajah baru kembali hadir di pinggir lapangan. Alessandro Lodi, pelatih asal Italia, kini memegang kendali tim. Di bawah arahannya, Petrokimia menjelma menjadi tim yang solid, dengan pertahanan kokoh dan serangan cepat yang sulit diredam lawan.
Skuad 2026: Kombinasi Maut Pemain Lokal dan Asing
Kekuatan Gresik Petrokimia Phonska Plus Pupuk Indonesia musim ini terletak pada paduan apik antara pemain lokal berpengalaman dan tenaga asing kelas atas. Duet asing Annie Mitchem dan Oleksandra Bytsenko menjadi mesin poin yang konsisten dan sulit dihentikan lawan. Di lini lokal, nama-nama seperti Shella Bernadetha (kapten), Mediol Yoku, Geofanny Eka Cahyaningtyas, Arneta Putri Amelian, hingga Putri Agustin menjadi tulang punggung permainan kolektif tim.
Kehadiran Noerma Lisa Putri, setter andalan yang direkrut dari Vita Solo, semakin memperkuat kedalaman skuad musim ini. Komposisi lengkap ini membuat Petrokimia tampil dominan sepanjang babak final four.
Jalan Menuju Grand Final
Babak final four Proliga 2026 menjadi panggung pembuktian bagi The Bulls. Pada laga krusial melawan Jakarta Electric PLN di GOR Jatidiri Semarang, Petrokimia tampil agresif sejak set pertama dengan trio Mediol Yoku, Annie Mitchem, dan Oleksandra Bytsenko yang langsung menekan pertahanan lawan. Mereka mengunci set pertama 25-18 dan melanjutkan dominasi di set kedua dengan 25-21.
Kemenangan dua set awal sudah cukup untuk memastikan tiket ke grand final, bahkan sebelum pertandingan berakhir. Pelatih Alessandro Lodi pun mengambil keputusan taktis dengan memainkan pemain pelapis di set ketiga dan keempat. “Kami sudah memastikan lolos ke grand final. Kami mencoba memainkan pemain pelapis, sekaligus menghindari cedera kepada pemain inti,” jelas Lodi usai pertandingan.
Meski Electric PLN sempat memperkecil ketertinggalan dengan merebut set ketiga 25-18, Petrokimia kembali tampil perkasa di set keempat dan menutup laga dengan skor 25-19. Kemenangan ini menempatkan Gresik Petrokimia di puncak klasemen final four putri sekaligus menjadikan mereka tim pertama yang lolos ke partai puncak.
Menatap Grand Final: Misi Membalikkan Sejarah
Di partai puncak yang akan digelar di GOR Amongrogo, Yogyakarta, pada 24–26 April 2026, Gresik Petrokimia akan berhadapan dengan Jakarta Pertamina Enduro—tim yang diperkuat oleh bintang voli nasional Megawati Hangestri dan pemain asing Irina Voronkova serta Wilma Salas. Duel ini diprediksi akan berlangsung sengit, mempertemukan dua raksasa voli putri Indonesia yang tengah berada dalam performa puncak.
“Kami tetap bermain maksimal. Ini bagian dari persiapan menuju grand final. Kami tidak ingin kehilangan momentum,” tegas Iwan Febrianto, Ketua Umum PBV Petrokimia Gresik.
Bagi Gresik Petrokimia, Grand Final 2026 bukan sekadar laga biasa. Ini adalah kesempatan emas untuk memutus “kutukan runner-up” yang telah membelenggu selama lebih dari dua dekade. Enam kali finis di posisi kedua menjadi catatan sejarah yang ingin segera ditutup. Dukungan penuh dari suporter dan jajaran direksi diharapkan menjadi tambahan energi untuk meraih gelar juara pertama di kasta tertinggi bola voli Indonesia.
Euforia pun sudah terasa di kalangan pendukung setia Petrokimia. “Final ketemu Enduro, makin panas bisa full 5 set, waktunya angkat tropi tahun ini petro,” tulis salah satu penggemar di media sosial, menggambarkan tingginya ekspektasi untuk partai puncak nanti.
Apakah The Bulls akhirnya akan mengangkat trofi Proliga pertama mereka di Yogyakarta? Jawabannya akan terungkap di akhir pekan ini. Yang pasti, perjalanan panjang Gresik Petrokimia dari Gresik menuju puncak Proliga adalah kisah tentang konsistensi, loyalitas, dan mimpi yang tak pernah mati. ***
*Akhmad Sutikhon-Wartawan)











