Kajian Jelang Buka di Ranting Giri Gajah, Yai Anas Thohir Beberkan Sikap Rendah Hati dan Karakter Mulia yang Dirindukan Surga

- Editorial Team

Rabu, 4 Maret 2026 - 11:21 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

banner 468x60

GIRIMU.COM — Suasana hangat dan sarat hikmah kembali menyelimuti Kajian Menjelang Berbuka Puasa yang diselenggarakan Pimpinan Ranting Muhammadiyah dan Aisyiyah (PRM/A) Giri Gajah, Kebomas, Gresik pada Selasa (3/3/2026). Bertempat di Musholla Al-Jihad, kegiatan ini menghadirkan KH Anas Thohir, SAg, MPdI, Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Gresik, sebagai pengasuh kajian.

Dengan penyampaian yang runtut, tenang, dan menyentuh hati, ia mengajak jamaah menelusuri pesan mendalam dalam Surat Al-Furqan ayat 63–68 tentang karakter mulia hamba-hamba Allah yang dikenal sebagai ‘ibadurrahman. Di awal kajian, pria berpenampilan kalem ini mengajak jamaah membuka Al-Quran melalui gawai masing-masing. Kemudian ia meminta salah satu jamaah membacakan QS Al-Furqan ayat 63. Ayat tersebut menjelaskan, hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih adalah mereka yang berjalan di muka bumi dengan penuh kerendahan hati dan ketika disapa oleh orang-orang jahil, mereka menjawab dengan ucapan yang baik dan menenangkan.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Yai Anas menegaskan, bahwa rendah hati bukan berarti lemah atau tidak berdaya, melainkan sikap tenang, tidak angkuh, serta mampu mengendalikan diri. Ketika menghadapi sikap kasar atau ucapan yang tidak menyenangkan, seorang mukmin sejati tidak membalas dengan emosi, melainkan dengan kata-kata yang sejuk. Sikap ini, lanjutnya, selaras dengan gambaran kehidupan penghuni surga, sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Waqi’ah ayat 25–26:
لَا يَسْمَعُونَ فِيهَا لَغْوًا وَلَا تَأْثِيمًا ۝ إِلَّا قِيلًا سَلَامًا سَلَامًا
Mereka tidak mendengar di dalamnya perkataan yang sia-sia dan tidak pula perkataan yang menimbulkan dosa, tetapi yang mereka dengar hanyalah ucapan salam, salam.”

Ayat ini menggambarkan suasana surga yang dipenuhi kedamaian. Tidak ada pertengkaran, celaan, atau kata-kata yang menyakitkan. Yang ada hanyalah salam dan ketenteraman. Inilah buah dari hati yang bersih, yang telah ditempa dengan kesabaran dan ketenangan sejak hidup di dunia. Dalam kesempatan itu pula, Yai Anas mengingatkan jamaah pada sabda Rasulullah SAW, agar umat Islam mendatangi salat dengan penuh ketenangan.

Baca Juga :  Berbagi Takjil dan Edukasi PHBS, TK Aisyiyah 5 Bungah Tanamkan Nilai Sosial di Bulan Ramadhan

“Apabila kalian mendatangi salat, janganlah tergesa-gesa. Datangilah dengan sakinah. Apa yang kalian dapati, kerjakanlah, dan apa yang tertinggal, maka sempurnakanlah. Pesan ini mengajarkan, bahwa ibadah harus dilaksanakan dengan hati yang hadir, tidak terburu-buru, dan penuh kesadaran,” tandasnya.

Memasuki ayat berikutnya, QS Al-Furqan ayat 64, ia membacakan firman Allah:
وَالَّذِينَ يَبِيتُونَ لِرَبِّهِمْ سُجَّدًا وَقِيَامًا
Dan orang-orang yang bermalam untuk Tuhan mereka dengan bersujud dan berdiri (salat).”
Ayat ini menggambarkan kebiasaan ‘ibadurrahman yang menghidupkan malam dengan qiyamul lail, sujud panjang, zikir, dan doa penuh harap. Kebiasaan mulia ini dikuatkan dalam QS Adz-Dzariyat ayat 17–18:
كَانُوا قَلِيلًا مِّنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ ۝ وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ
Mereka sedikit sekali tidur pada waktu malam, dan pada akhir malam mereka memohon ampun kepada Allah.”

Ia menekankan, bahwa waktu sahur adalah saat istimewa untuk bermunajat. Meskipun Allah tidak pernah mengantuk dan tidak pula tidur, manusia sering lalai untuk mendekat kepada-Nya. Padahal, pada saat itulah pintu ampunan terbuka luas. Penegasan tentang kemuliaan ibadah malam kembali disebutkan dalam QS As-Sajdah ayat 16:
تَتَجَافَىٰ جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا
Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, mereka berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut dan harap.”

Ibadah malam, jelasnya, membentuk keseimbangan spiritual antara rasa takut akan azab Allah dan harapan terhadap rahmat-Nya. Hal ini juga ditegaskan dalam QS Az-Zumar ayat 9 yang memuji orang-orang yang beribadah di malam hari dalam keadaan sujud dan berdiri, seraya takut akan akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhan mereka.

Kajian kemudian berlanjut pada QS Al-Furqan ayat 65 tentang doa agar dijauhkan dari azab neraka Jahannam. Yai Anas mengisahkan sebuah riwayat tentang seorang hamba yang lama menangis di neraka hingga malaikat Jibril memohon izin untuk membawanya menghadap Allah. Hamba tersebut menyadari, bahwa Jahannam adalah seburuk-buruk tempat tinggal dan menyesali kelalaiannya semasa hidup. Kisah ini menjadi pengingat, bahwa rahmat Allah sangat luas, namun kesempatan memperbaiki diri hanya ada selama di dunia.

Baca Juga :  Outbond Ceria SD Muwri Asah Kemandirian Siswa

Menjelang akhir kajian, Yai Anas membahas QS Al-Furqan ayat 67–68 tentang keseimbangan dalam berinfak, serta larangan melakukan dosa-dosa besar seperti syirik, membunuh tanpa hak, dan berzina. Ayat ini dipertegas dengan hadits Rasulullah SAW ketika ditanya tentang dosa terbesar. Tas pertanyaan itu, Nabi menjawab, bahwa dosa terbesar adalah menyekutukan Allah, kemudian membunuh anak karena takut miskin, dan berzina dengan istri tetangga.

Dalam penjelasannya, Yai Anas menekankan, bahwa dosa-dosa besar tersebut bukan hanya merusak hubungan dengan Allah, tetapi juga menghancurkan tatanan sosial dan moral masyarakat. Zina, misalnya, tidak hanya berdampak pada pelakunya, tetapi juga merusak keluarga dan menghilangkan keberkahan hidup. Dalam ungkapan hikmah disebutkan, bahwa zina adalah “utang” yang suatu saat akan dibayar, dan maksiat dapat menjadi sebab dicabutnya keberkahan oleh Allah SWT.

Kajian sore itu ditutup dengan suasana penuh perenungan. Jamaah pulang dengan membawa pesan, bahwa menjadi bagian dari ‘ibadurrahman bukan sekadar identitas, melainkan komitmen untuk hidup rendah hati, tekun beribadah, menjauhi dosa besar, dan senantiasa berharap pada rahmat Allah SWT. Menjelang azan Maghrib berkumandang, suasana hati yang hadir terasa lebih lembut dan lebih siap menyambut waktu berbuka dengan syukur dan ketundukan. (*)

 


Post Views: 1

sumber berita dari girimu.com

Follow WhatsApp Channel www.kabargresik.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Prodi PGSD FKIP UMG Raih Predikat Unggul dari Lembaga Akreditasi Mandiri Kependidikan, Pacu Semangat Tingkatkan Kualitas Pendidikan
Matamuda MI Islamiyah Mojopetung Hadirkan Madrasah Ramah, Murid Bahagia lewat Kegiatan Edukatif dan Menyenangkan
Tiga Keberkahan Warnai Pengajian Bulanan Muhammadiyah-Aisyiyah Ranting Srembi Kebomas
MI Mulia Gembleng Murid Baru: Lima Hari Membentuk Karakter Dan Menjelajah Asa
Meriah dan Penuh Semangat, SD Al Islam Cerme Gelar Demo Ekstrakurikuler di Bawah Terik Matahari
MPLS KB dan TK Aisyiyah Wringinanom Ditutup dengan Keceriaan Fun Game Bersama Orang Tua
Puncak MPLS Ramah, KB Aisyiyah 24 dan TK Aisyiyah 08 Melirang Gaungkan Peduli Lingkungan lewat Pawai Kostum Daur Ulang
Smamsatu Gresik Gelar Kuliah Tamu Prodistik ITS, Dorong Siswa Siapkan Karya dan Karier
Berita ini 13 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 21 Juli 2026 - 02:56 WIB

Prodi PGSD FKIP UMG Raih Predikat Unggul dari Lembaga Akreditasi Mandiri Kependidikan, Pacu Semangat Tingkatkan Kualitas Pendidikan

Senin, 20 Juli 2026 - 17:55 WIB

Matamuda MI Islamiyah Mojopetung Hadirkan Madrasah Ramah, Murid Bahagia lewat Kegiatan Edukatif dan Menyenangkan

Senin, 20 Juli 2026 - 08:54 WIB

Tiga Keberkahan Warnai Pengajian Bulanan Muhammadiyah-Aisyiyah Ranting Srembi Kebomas

Minggu, 19 Juli 2026 - 23:53 WIB

MI Mulia Gembleng Murid Baru: Lima Hari Membentuk Karakter Dan Menjelajah Asa

Sabtu, 18 Juli 2026 - 20:49 WIB

MPLS KB dan TK Aisyiyah Wringinanom Ditutup dengan Keceriaan Fun Game Bersama Orang Tua

Berita Terbaru

Muhammadiyah Gresik

MI Mulia Gembleng Murid Baru: Lima Hari Membentuk Karakter Dan Menjelajah Asa

Minggu, 19 Jul 2026 - 23:53 WIB