Kolak Ayam Makin Diminati Warga

Sore ini apabila ingin menikmati kolak ayam bisa mampir di Masjid Goemeno yang terletak di Desa Gumeno Kecamatan Manyar Kabupaten Gresik Jawa Timur. tradisi kuliner tiap malam 23 ramadhan ini tiap tahun makin meriah.

Acara Pesta Kolak Ayam di Masjid Goemeno Gresik bernuansa religi diadakan pada setiap tanggal 22 Ramadhan (bulan puasa) atau “malem telulikur” (malam tanggal dua puluh tiga).

Dan telah berlangsung ratusan tahun lamanya semenjak peristiwa pertama pada 1451 Masehi. Pada tanggal tersebut masyarakat Desa Gumeno memiliki tradisi memasak kolak ayam atau orang menyebut “sanggring”. Tradisi ini bermula tatkala seorang penyebar agama Islam, Sunan Dalem namanya, datang ke Desa Gumeno dengan niat dakwah.

Ia merintis pendirian sebuah masjid pada 1451 Masehi di desa tersebut. Masjid itu sekarang dikenal dengan nama Masjid Jami’ Sunan Dalem. Sehabis bekerja keras mendirikan masjid dan mempersiapkan perkampungan baru di desa tersebut, tiba-tiba Sunan Dalem jatuh sakit. Ia memerintahkan warga yang baru pindah dan menjadi santrinya untuk mencarikan obat.

Namun setelah berbagai usaha telah dilakukan, sakitnya tak kunjung sembuh. Akhirnya, melalui “sesuatu yang gaib” Sunan Dalem menerima ilham agar sakitnya bisa sembuh. Pada moementum yang tepat, Sunan Dalem dengan arif dan bijaksana akhirnya memerintahkan warga berkumpul di masjid dengan membawa ayam jago.

Lantas dititahkan untuk menyembelih semua ayam jago yang telah terkumpul. Kepada beberapa lelaki diperintahkan pula mempersiapkan bumbu-bumbu untuk diracik menjadi resep masakan oleh Sunan Dalem. Bumbu racikan ini antara lain daun bawang merah yang diiris kecil-kecil, gula jawa, jinten dan santan kelapa.

Kepada warga Sunan Dalem mengumumkan kalau dirinya tengah membuat resep masakan Sanggring, yang tak lain adalah Kolak Ayam. Ayam yang telah dipotong dan telah disiangi, hanya diambil dagingnya saja, “disuwir-suwir” seperti orang “nyuwiri” daging ayam untuk soto. Selanjutnya daging ayam dan resep masakan diolah memakai kuali dari tanah liat dan bahan pembakaran dari kayu bakar.

Tradisinya hingga sekarang ini, hanya kaum lelaki saja dalam mempersiapkan dan mengolah kolak ayam. Sambil menunggu sanggring atau kolak ayam matang, Sunan Dalem memerintahkan warga pulang ke rumah. Karena waktu itu bulan puasa maka kepada warga diperintahkan kembali ke masjid menjelang sore hari pada saat berbuka puasa dengan membawa nasi dan ketan.

Benar juga, senja hari itu tepat tanggal 22 Ramadhan, Sunan Dalem bersama-sama warga Gumeno berbuka puasa di masjid dengan menu spesial yakni sanggring atau kolak ayam. Jadi kalau sekarang ada acara buka bersama, bisa jadi mengikuti jejak yang pernah dilakukan Sunan Dalem dengan warga Gumeno. Setelah berbuka puasa bersama dengan menu kolak ayam Sunan Dalem lantas mengumumkan kalau dirinya sembuh dari sakitnya.

Namun demikian Sunan Dalem tetap mengatakan kalau kesembuhannya tak lain berkat hidayah dan inayah Allah SWT. Sebagai ungkapan rasa syukur Sunan Dalem berwasiat kepada warga Desa Gumeno agar setiap tanggal 22 Ramadhan, yang biasanya disebut “malem telulikur”, Dengan demikian semenjak peristiwa pertama tahun 1451 Masehi itu hingga kini tradisi kolak ayam selalu diperingati warga Desa Gumeno Kecamatan Manyar Kabupaten Gresik.

Untuk tahun 2011 panitia telah menghabiskan 125 ayam kampung, 440 buah kelapa  dan 5 kwintal gula  merah (tik)

About Editor02

Check Also

Jum’at Berkah : Partai Ummat Bagikan Makan Siang Gratis Di Sidayu

Partai Ummat Pantura Gresik mulai bergerak, kali ini membagikan makan siang bagi jamaah sholat Jumat …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *