Ratusan pasang mata tertuju ke Waduk Srumbung, Desa Bulangan, Dukun, Gresik. Tanggal 16 Agustus 2026, air waduk yang baru dikuras itu bergejolak, bukan karena badai, melainkan riuh rendah warga yang berebut ikan dalam tradisi tahunan ‘Ngubek Srumbung’. Sebuah hajatan yang tak hanya menguji kecepatan tangan kosong, tapi juga merekatkan asa.
Pemerintah Desa Bulangan menggelar kegiatan ini sebagai wujud syukur dan pelestarian budaya turun temurun. Waduk Srumbung yang airnya telah dikuras, kini menjadi arena perburuan aneka ikan: dari mujair, bandeng, patin/jambal, kutuk, hingga tombro. Semua berebut hasil tebaran bibit ikan yang sudah dipersiapkan sejak beberapa bulan lalu.
Tradisi Ngubek Srumbung memiliki aturannya sendiri. Lima belas menit pertama, warga wajib menangkap ikan hanya dengan tangan kosong. Setelah itu, barulah alat tangkap tradisional seperti serok atau jaring kecil diperbolehkan untuk digunakan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Heru Budi Setiawan, Penjabat Kepala Desa Bulangan, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar ajang berebut ikan. “Ini adalah ajang silaturahmi dan bagian dari upaya ketahanan pangan warga Desa,” katanya. Ia menambahkan, “Alhamdulillah, hasil tebar bibit bisa dinikmati bersama. Semoga kebersamaan ini terus menjaga kerukunan antar warga.”
Kegembiraan terpancar jelas dari wajah warga yang membawa pulang hasil tangkapan. Ikan-ikan yang didapat rencananya akan dimanfaatkan untuk syukuran sedekah bumi. Tradisi ini, terbukti ampuh menjaga keakraban sekaligus melestarikan kekayaan alam dan budaya lokal.
Salah satu peserta, Wafa, mengaku sangat senang. “Alhamdulillah kali ini saya mendapatkan ikan lumayan besar, dapat ikan patin/jambal,” ujarnya gembira. Ia berharap kegiatan semacam ini dapat terus lestari di Desa Bulangan.
Penulis : M Syafik











