Nelayan Gresik Buta Informasi Giant Sea Wall, Khawatir Dampak ke Tangkapan Ikan

- Editorial Team

Rabu, 5 Maret 2025 - 17:54 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kabargresik.com – Rencana pemerintah pusat melalui Kementerian PUPR membangun tanggul laut raksasa atau Giant Sea Wall (GSW) di pesisir Pantai Utara (Pantura) Jawa, masih minim informasi di kalangan masyarakat Gresik, khususnya nelayan. Proyek yang bertujuan melindungi pesisir dari ancaman kenaikan air laut dan banjir rob ini, dikhawatirkan berdampak pada mata pencaharian nelayan.

Proyek GSW yang membentang dari Banten hingga Gresik ini, akan dibangun bertahap dengan anggaran fantastis, diperkirakan mencapai Rp 164 triliun untuk tahap awal.

“Kami belum tahu tentang rencana pembangunan tanggul laut raksasa atau Giant Sea Wall (GSW) dari Banten sampai Gresik,” kata Mu’alif, nelayan asal Pangkahkulon, Kecamatan Ujungpangkah, Kabupaten Gresik, Rabu (5/3/2025).

Mu’alif menyebut, belum ada sosialisasi dari pemerintah terkait proyek ini. Ia khawatir, pembangunan tanggul akan mempengaruhi populasi ikan dan habitat laut, sehingga mengurangi hasil tangkapan nelayan.

“Tentu dampaknya sangat signifikan bagi nelayan, seperti menebar jaring harus semakin ke tengah dan ombak semakin besar karena terbendung tanggul,” jelas Mu’alif.

Aktivis lingkungan dari Satuan Tugas Komite Nasional Pemanfaatan dan Pelestarian Lingkungan Hidup (Satgas Komnas PPLH) Kabupaten Gresik, Mukhammad Junaidi, menilai, proyek GSW harus mengutamakan kepentingan masyarakat setempat.

Baca Juga :  Dua Petani Balongpanggang Tersambar Petir, Satu Meninggal

“Karena bisa jadi proyek Giant Sea Wall atau tanggul laut raksasa di pantai utara Jawa tersebut justru menimbulkan gangguan terhadap akses nelayan ke area penangkapan ikan tradisional, termasuk di Kabupaten Gresik. Sehingga mata pencaharian mereka berkurang,” kata Junaidi.
Ia juga menyoroti potensi kerusakan ekosistem mangrove akibat pembangunan tanggul. Junaidi menekankan pentingnya studi dampak lingkungan yang komprehensif dan partisipasi masyarakat.

“Pentingnya mencari alternatif lain selain pembangunan Giant Sea Wall yang lebih ramah lingkungan, seperti penanaman pohon mangrove,” pungkasnya.

Penulis : Daniel Andayawan

Editor : Tiko

Follow WhatsApp Channel www.kabargresik.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Banjir Kali Lamong Rendam 12 Desa Gresik Selatan
Banjir Luapan Kali Lamong Kembali Rendam Gresik
Greenpeace Soroti Mikroplastik Cemari Tubuh Warga Gresik
100 Siswa MI Dalegan Lomba Cari Kerang di Musim Baratan
Dua Petani Balongpanggang Tersambar Petir, Satu Meninggal
Banjir Menganti Meluas, Ratusan Rumah Terendam
Banjir Menganti Genangi 99 Rumah Usai Hujan Deras
101 Rumah Rusak Diterjang Puting Beliung Melirang
Berita ini 177 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 22 Desember 2025 - 13:13 WIB

Banjir Kali Lamong Rendam 12 Desa Gresik Selatan

Senin, 22 Desember 2025 - 01:16 WIB

Banjir Luapan Kali Lamong Kembali Rendam Gresik

Senin, 15 Desember 2025 - 16:23 WIB

Greenpeace Soroti Mikroplastik Cemari Tubuh Warga Gresik

Senin, 15 Desember 2025 - 13:37 WIB

100 Siswa MI Dalegan Lomba Cari Kerang di Musim Baratan

Selasa, 9 Desember 2025 - 21:26 WIB

Dua Petani Balongpanggang Tersambar Petir, Satu Meninggal

Berita Terbaru

Muhammadiyah Gresik

TPA Baitul Hidayah Sekarputih Balongpanggang Gelar Wisata Bersama

Minggu, 18 Jan 2026 - 18:18 WIB

komunitas

MUI Wringinanom 2025-2030 Dikukuhkan, Pikul Mandat Ganda

Minggu, 18 Jan 2026 - 13:59 WIB