Oleh Mahfudz Efendi
GIRIMU.COM — Ramadan punya pelajaran sederhana tapi bermakna. Saat sahur, umat yang berpuasa diajari senantiasa bersyukur. Kala menjalani puasa mereka diajari selalu bersabar. Sementara tatkala waktu berbuka tiba, mereka diajari merasakan nikmatnya menunggu.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam Surah Al-Kautsar ayat 1-3 Allah memberikan banyak pelajaran kepada umat manusia.
Innaa a’thainaakal-kautsar (Sesungguhnya Kami telah memberimu (Muhammad) nikmat yang banyak).
Fashalli lirabbika wanhar (Maka laksanakanlah salat karena Tuhanmu, dan berqurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah).
Inna syaani’aka huwal-abtar (Sungguh, orang-orang yang membencimu dialah yang terputus (dari rahmat Allah).
Surat Al-Kautsar adalah mukjizat sastra dan spiritual. Ia hanya terdiri atas 3 ayat dan 10 kata, menjadikannya surat terpendek dalam mushaf Al Quran. Namun, para ulama menyebutkan, bahwa surat ini mengandung “janji langit” yang turun di tengah “badai bumi”. Mari kita selami lebih dalam mengapa surat ini disebut sebagai jawaban atas ujian terberat.
1. Konteks Ujian: Luka di Atas Luka
Secara historis (asbabun nuzul), surat ini turun ketika Rasulullah ﷺ berada dalam tekanan mental yang luar biasa. Ia kehilangan putra-putranya (Qasim dan Abdullah) saat masih kecil. Di tengah suasana duka seorang ayah, musuh-musuh dakwah seperti ‘Ash bin Wa’il justru menghinanya dengan sebutan ‘Abtar’. ‘Abtar’ secara bahasa berarti hewan yang terputus ekornya. Dalam konteks sosial Arab saat itu, itu adalah hinaan paling keji bagi pria yang tidak memiliki anak laki-laki. Mereka dianggap tidak punya masa depan dan namanya akan terhapus dari sejarah. Di sinilah ujiannya: Rasulullah ﷺ diuji dengan kehilangan orang tercinta sekaligus hinaan terhadap kehormatannya. Namun, Allah menjawabnya bukan dengan hiburan biasa, melainkan dengan pernyataan kemegahan.
2. Dalil Hadits tentang Hakikat Al-Kautsar
Dalam sebuah hadits sahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Anas bin Malik RA menceritakan suasana turunnya surat ini. “Suatu hari ketika Rasulullah ﷺ berada di tengah-tengah kami, tiba-tiba beliau mengantuk sekejap, kemudian beliau mengangkat kepalanya sambil tersenyum. Kami bertanya, ‘Apa yang membuatmu tertawa, wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Baru saja turun kepadaku sebuah surat.’ Lalu beliau membacakan Bismillah dan Surat Al-Kautsar. Kemudian beliau bertanya, ‘Tahukah kalian apa itu Al-Kautsar?’ Kami menjawab, ‘Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.’ Beliau bersabda, “Al-Kautsar adalah sebuah sungai (telaga) yang dijanjikan Tuhanku kepadaku di surga. Di sana terdapat kebaikan yang banyak. Ia adalah telaga yang akan didatangi umatku pada hari kiamat. Jumlah wadahnya (gelasnya) sebanyak bintang-bintang di langit….” (HR. Muslim)
Hadits ini mengajarkan, bahwa ketika dunia “memutus” sesuatu dari kita, Allah sedang menyiapkan “kelimpahan” yang tak terbayangkan di akhirat.
3. Tiga Pilar Menghadapi Ujian dalam Al-Kautsar
Dalam tiga ayatnya, Allah memberikan formula lengkap bagi siapa pun yang sedang merasa berada di titik terendah:
A. Mengubah Sudut Pandang. Dalam ayat 1: “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak (Al-Kautsar).” Allah menggunakan kata kerja masa lampau (a’thainaaka – Kami telah memberi). Ini adalah pesan mental yang kuat: Jangan fokus pada satu yang hilang, tapi lihatlah jutaan nikmat yang masih ada dan akan datang.
Ayat kedua Al-Kautsar merupakan manifestasi ibadah. “Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu; dan berqurbanlah.” Saat hati hancur, obatnya adalah salat (hubungan vertikal) dan nahr/qurban (hubungan horizontal). Salat untuk menenangkan jiwa, berqurban untuk menyembelih ego dan rasa memiliki yang berlebihan terhadap dunia.
Sementara pada ayat ketiga Al-Kautsar merupakan keadilan Ilahi (“Sesungguhnya orang-orang yang membencimu dialah yang terputus.” Ini adalah jaminan, bahwa siapa pun yang berjalan di atas kebenaran tidak akan pernah kalah. Mereka yang menghina saat kita jatuh, merekalah yang sebenarnya sedang menghapus diri mereka sendiri dari rahmat Allah.
Maka, pelajaran untuk kita hari ini, bahwa Surat Al-Kautsar mengajarkan, bahwa standar “sukses” dan “gagal” bagi seorang mukmin tidak diukur dari apa yang nampak di mata manusia. Nabi ﷺ kehilangan anak, tapi ia diberi telaga yang memuaskan dahaga seluruh umatnya. Nabi ﷺ dihina tidak punya keturunan, tapi hari ini tidak ada satu detik pun di bumi kecuali nama Nabi Muhammad disebut dalam adzan.
Sebagaimana Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadits lain tentang ujian: “Besarnya pahala sesuai dengan besarnya ujian. Dan, sesungguhnya apabila Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menguji mereka ….” (HR. Tirmidzi).
Jika saat ini kita merasa sedang diuji dengan kehilangan, kemiskinan, atau hinaan, bacalah surat Al-Kautsar dengan hati. Sadarilah, bahwa Allah tidak sedang menghukum, melainkan sedang “mengosongkan” tangan kita dari dunia agar bisa menggenggam karunia-Nya yang jauh lebih besar di akhirat.
Semoga Allah menguatkan hati kita dalam setiap ujian dan menjadikan kita bagian dari mereka yang akan meminum air dari telaga Al-Kautsar bersama Rasulullah ﷺ. (*)
*) Mahfudz Efendi, Guru SD Alam Muhammadiyah Kedanyang (SD Almadany) Kebomas Gresik.
Post Views: 2












