Menembus Batas, Merangkul Perbedaan – Girimu

- Editorial Team

Selasa, 7 Juli 2026 - 14:11 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

banner 468x60

Pagi baru saja merekah ketika halaman sekolah mulai terisi denyut kehidupan. Embun masih menggantung di ujung rumput, memantulkan cahaya matahari yang perlahan naik di balik gedung kelas. Dari kejauhan terdengar suara riuh rendah anak-anak yang datang satu per satu, seolah sekolah menjadi pusat semesta kecil yang menyimpan banyak cerita.

Di gerbang, guru-guru berdiri siap menyambut. Senyuman mereka menjadi salam pertama yang diterima para siswa setelah meninggalkan rumah. Ada yang berjalan berkelompok sambil tertawa. Ada yang menggandeng tangan orang tua. Ada pula yang datang dengan langkah cepat karena takut terlambat. Namun, semuanya membawa semangat yang sama: harapan untuk kehidupan yang lebih baik.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Suara riuh mereka di pagi hari selalu menjadi penyemangat tersendiri bagi para pendidik, termasuk saya. Di sebuah ruang kelas sederhana, di Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 1 Menganti, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, yang biasa kami sebut Sekolah Kreatif Menganti, cinta dan kesabaran tumbuh bersama setiap langkah pembelajaran.

Enam tahun sudah sejak 2020 saya mengajar di sekolah ini. Saya menyadari, bahwa mengajar bukan sekadar tentang mentrasfer ilmu, tetapi tentang bagaimana hati ikut bekerja, menembus batas dan merangkul setiap perbedaan yang ada. Sekolah Kreatif Menganti tak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi di dalamnya tersimpan makna kemanusiaan: bagaimana menerima, memahami, dan mencintai setiap perbedaan dalam sebuah sekolah inklusif.

Ketika gagasan mendirikan layanan inklusif pertama kali muncul, tidak sedikit suara meragukan yang mengiringinya. Sebagian pihak mempertanyakan kesiapan sekolah, bahkan “menggugat” relevansi keberadaan anak-anak berkebutuhan khusus dalam ruang kelas yang sama dengan peserta didik reguler. Ada yang khawatir, bahwa keberlangsungan proses pembelajaran akan terhambat. Ada pula yang menganggap sekolah “terlalu berani” mengambil langkah berbeda, tanpa jaminan keberhasilan.

Pada masa itu, diksi ‘inklusif’ belum menjadi istilah yang akrab di telinga banyak orang, termasuk di kalangan pendidikan. Kehadirannya terdengar asing, bahkan mengundang tanda tanya. Bahkan, tidak sedikit pihak yang memandang sekolah dengan tatapan ragu, seolah langkah berani ini hanya obsesi dan cita-cita besar yang mustahil diwujudkan. Namun, di balik “godaan” itu semua, ada keyakinan kuat yang tidak tergoyahkan, bahwa semua anak, tanpa terkecuali, berhak mendapatkan pendidikan yang bermartabat dan setara dengan anak-anak lainnya.

Keyakinan Jadi Fondasi Sekolah Inklusi

Kepala Sekolah Kreatif Menganti, Assidik Wibowo, ST, atau kami lebih akrab memanggilnya Ustadz Sidik, adalah salah satu figur sentral dalam perjalanan ini. Ketegasan dan ketenangan khasnya, berulang-ulang ia sampaikan sebagai prinsip yang menjadi nafas utama sekolah: semua anak memiliki hak yang sama dalam kacamata pendidikan.

Bagi Ustadz Sidik, inklusi bukan sekadar program tambahan, melainkan wujud nyata dari amanah pendidikan Islam, memuliakan setiap anak sesuai fitrahnya. Prinsip itulah yang menjadi pegangan seluruh guru ketika sekolah memulai langkah pertama menyediakan akses untuk anak-anak berkebutuhan khusus (ABK).

Perlahan namun pastil, langkah kecil pun berbuah keyakinan baru untuk merealisasikan obesi besar tersebu. Pada tahun-tahun awal, sekolah hanya memiliki beberapa siswa inklusi. Mereka hadir dengan beragam kebutuhan dari down syndrome, speech delay, hingga hambatan sosial-emosional.

Tidak jarang guru harus belajar dari awal untuk mencari strategi, mengikuti pelatihan khusus, dan melakukan penyesuaian metode mengajar sesuai kebutuhan. Perlahan namun pasti, rasa cinta pun menjadi jalan dalam menempuh pembelajaran.

Baca Juga :  Menyambut Ramadhan dengan Hati Bersih: Waspada Bahaya Ain, Gadget, dan Pergaulan Bebas

Perjalanan mengajar saya menjadi lebih bermakna. Di Tengah deretan anak-anak yang ceria, Allah pertemukan saya dengan satu sosok kecil dengan senyum yang khas. Naurah, namanya. Peserta didik berkebutuhan khusus dengan down syndrome. Pengalaman itu menjadi babak penting dalam perjalanan mengajar saya. Banyak pelajaran yang Allah tunjukkan lewat sosok kecil yang penuh semangat itu. Dari Naurah, saya belajar arti sabar yang sebenarnya.

Awalnya, saya sempat ragu. Saat ditunjuk menjadi wali kelas Naurah, terlintas pertanyaaan menggoda dalam hati, “Mampukah saya mendampingi Naurah dengan baik dan maksimal?”

Ada saat kondisi di tengah pembelajaran, tak jarang Naurah mengalami tantrum. Ada hari-hari ketika Naurah bersemangat sekali dalam menulis, berusaha merajut huruf demi huruf, meskipun bentuknya belum sempurna. Namun, ada juga hari ketika amarah kecil atau kecemasan tiba-tiba membuatnya menangis, menolak diajak membaca, atau menutup telinga ketika suasana kelas terlalu bising.

Ini membuat suasana kelas sedikit berbeda. Namun, justru di situlah ujian cinta itu hadir. Saya belajar, bahwa mengajar bukan hanya soal menyampaikan materi, tetapi juga tentang menyentuh hati, memahami, memberikan ruang bagi anak untuk berkembang dengan caranya sendiri. Itulah bukti nyata, bahwa cinta benar-benar menjadi jalan dalam mengajar di sekolah inklusif.

Tak hanya Naurah, dari ibundanya saya pun belajar tentang makna perjuangan tanpa lelah. Setiap hari menjadi pengingat betapa besar kuasa Allah dalam menciptakan keistimewan pada setiap diri anak-anak. Begitu juga Allah berikan ibu hebat, saya belajar untuk lebih memahami, lebih banyak mendengar daripada menilai. Perlahan tapi pasti, keraguan saya sirna digantikan rasa Syukur, karena ternyata cinta memang bisa menembus batas ruang dan waktu.

Ustad Sidik, Kepala Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 1 Menganti, juga pernah berkata, sekolah ini adalah miniatur kehidupan. Tempat di mana setiap anak belajar hidup berdampingan dan saling menghargai, dan tumbuh bersama.

Kini, saya semakin yakin, bahwa mengajar di sekolah inklusif adalah perjalan spiritual sekaligus profesional. Di sinilah saya menyaksikan kuasa Allah dalam bentuk kasih sayang dan kesabaran, baik dari orang tua, guru pendamping, maupun teman-teman sekelas yang dengan tulus menerima perbedaan.

Bagi saya, Naurah bukan sekadar siswa. Ia adalah guru kehidupan kecil yang mengajarkan arti cinta tanpa syarat. Di Sekolah Kreatif Menganti juga, kami belajar bersama, bahwa pendidikan sejati bukan hanya tentang nilai akademik saja, tetapi juga makna mendalam tentang kemanusiaan.

Menangani anak inklusif bukanlah hal mudah. Sekolah ini pun bahkan sempat diragukan oleh banyak pihak. Banyak pertanyaan, bagaimana mungkin anak berkebutuhan khusus mampu belajar dan disandingkan dengan anak-anak lain?

Namun Sekolah Kreatif Menganti justru hadir untuk menjawab keraguan itu. Di sinilah nilai sejati pendidikan inklusif hidup dan tumbuh subur. Tidak ada yang dibedakan di antara para siswa yang ada. Setiap anak berhak mendapatkan tempat untuk tumbuh dan harus dihargai.

Di tengah keterbatasan, para guru pun tak pernah berhenti berusaha. Mereka Menyusun program pembelajaran individual, memberikan pendampingan personal, dan memastikan bahwa setiap anak tetap merasa diterima. Ruang kelas menjadi ladang kesabaran, tetapi juga sekaligus ruang tumbuh bagi anak-anak yang sebelumnya mungkin tidak memiliki tempat yang aman untuk belajar.

Baca Juga :  Salurkan Zakat dan Shodaqoh dengan naik odong-odong

Lambat laun, satu per satu perubahan kecil mulai terlihat. Anak-anak inklusi mulai berani berinteraksi, mengambil peran dalam kegiatan kelas, mengikuti pembelajaran sesuai kemampuannya, bahkan menunjukkan kemajuan yang membanggakan.

Guru-guru pun merasakan kebahagiaan tersendiri. Di balik tantangan yang terus berdatangan, mereka menyaksikan bagaimana setiap anak memiliki cahaya dan potensinya masing-masing.

Kepercayaan publik pun yang mulai mengalir. Perubahan ternyata tidak hanya dirasakan oleh guru, tetapi juga oleh orang tua. Banyak dari mereka yang sebelumnya ragu, kini justru bersyukur dan menyampaikan rasa terima kasih. Mereka merasa menemukan tempat yang menerima anak mereka apa adanya, tanpa stigma negatif, tanpa penghakiman.

Dari mulut ke mulut, kabar itu menyebar. Orang tua mulai merekomendasikan SD Muhammadiyah 1 Menganti sebagai sekolah yang peduli, terbuka, dan benar-benar menjalankan pendidikan inklusif secara utuh. Pendaftaran anak berkebutuhan khusus terus meningkat dari tahun ke tahun.

Di sinilah, di sebuah sudut Kecamatan Menganti, berdiri sebuah sekolah yang kini dikenal sebagai salah satu pionir pendidikan inklusif. Namun, perjalanan SD Muhammadiyah 1 Menganti menuju kepercayaan itu tidaklah mudah. Di balik label sekolah inklusif yang kini  begitu hangat diterima masyarakat, tersimpan proses panjang penuh perjuangan, keraguan, dan pembuktian. Apa yang dulu dipandang sebelah mata, kini justru menjadi kebanggaan, menjadi sekolah inklusif yang layak dipercaya mengemban amanah.

Kini, SD Muhammadiyah 1 Menganti bukan lagi sekadar sekolah formal. Lebih dari itu, ia telah menjelma menjadi ruang yang memberikan harapan baru bagi banyak keluarga. Sekolah ini tidak hanya mengajarkan ilmu/pengetahuan, tetapi juga mengajarkan makna penerimaan, empati, dan keberanian untuk berbeda.

Siswa reguler pun tumbuh menjadi pribadi yang peka dan supportif. Mereka tidak lagi memandang teman inklusi sebagai “orang yang lain”, melainkan sebagai bagian dari perjalanan mereka Bersama dalam menimba ilmu dan makna kehidupan. Banyak dari mereka bahkan menunjukkan antusias dalam membantu, menemani bermain, atau mendampingi ketika seorang teman sedang kesulitan mengikuti pelajaran.

Di balik semua ini, prinsip Ustadz Sidik tetap menjadi jangkar yang kokoh, bahwa pendidikan adalah hak setiap anak, dan kita berkewajiban memastikan mereka mendapatkannya dengan layak.

Prinsip itu bukan hanya menjadi slogan, melainkan telah menjadi budaya yang hidup di ruang-ruang kelas, di lorong-lorong sekolah, dan dalam hati para guru yang mendedikasikan dirinya dalam lembaga pendidikan ini.

Perjalanan belum usai. Meski telah dipercaya banyak pihak, perjalanan sekolah inklusif ini tidak berhenti sampai di sini. Setiap tahun selalu ada tantangan baru, baik dari sisi sarana, kompetensi guru, maupun kebutuhan individual setiap anak. Namun, para pendidik di SD Muhammadiyah 1 Menganti meyakini, bahwa setiap tantangan adalah peluang untuk belajar dan tumbuh bersama. (*)

*) Dita Nur Oktaviani, Guru di SD Muhammadiyah 1 Menganti, Gresik.

 


Post Views: 31

sumber berita dari girimu.com

Follow WhatsApp Channel www.kabargresik.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Prodi PGSD FKIP UMG Raih Predikat Unggul dari Lembaga Akreditasi Mandiri Kependidikan, Pacu Semangat Tingkatkan Kualitas Pendidikan
Matamuda MI Islamiyah Mojopetung Hadirkan Madrasah Ramah, Murid Bahagia lewat Kegiatan Edukatif dan Menyenangkan
Tiga Keberkahan Warnai Pengajian Bulanan Muhammadiyah-Aisyiyah Ranting Srembi Kebomas
MI Mulia Gembleng Murid Baru: Lima Hari Membentuk Karakter Dan Menjelajah Asa
Meriah dan Penuh Semangat, SD Al Islam Cerme Gelar Demo Ekstrakurikuler di Bawah Terik Matahari
MPLS KB dan TK Aisyiyah Wringinanom Ditutup dengan Keceriaan Fun Game Bersama Orang Tua
Puncak MPLS Ramah, KB Aisyiyah 24 dan TK Aisyiyah 08 Melirang Gaungkan Peduli Lingkungan lewat Pawai Kostum Daur Ulang
Smamsatu Gresik Gelar Kuliah Tamu Prodistik ITS, Dorong Siswa Siapkan Karya dan Karier
Berita ini 17 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 21 Juli 2026 - 02:56 WIB

Prodi PGSD FKIP UMG Raih Predikat Unggul dari Lembaga Akreditasi Mandiri Kependidikan, Pacu Semangat Tingkatkan Kualitas Pendidikan

Senin, 20 Juli 2026 - 17:55 WIB

Matamuda MI Islamiyah Mojopetung Hadirkan Madrasah Ramah, Murid Bahagia lewat Kegiatan Edukatif dan Menyenangkan

Senin, 20 Juli 2026 - 08:54 WIB

Tiga Keberkahan Warnai Pengajian Bulanan Muhammadiyah-Aisyiyah Ranting Srembi Kebomas

Minggu, 19 Juli 2026 - 23:53 WIB

MI Mulia Gembleng Murid Baru: Lima Hari Membentuk Karakter Dan Menjelajah Asa

Minggu, 19 Juli 2026 - 14:51 WIB

Meriah dan Penuh Semangat, SD Al Islam Cerme Gelar Demo Ekstrakurikuler di Bawah Terik Matahari

Berita Terbaru

Suara Dewan

Rp13,9 Miliar Digelontorkan, DPRD Gresik Awasi Jalan Bungah

Kamis, 20 Agu 2026 - 17:37 WIB