Rebana Bungah, Berbungah Di Manca

- Editorial Team

Kamis, 10 November 2016 - 07:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

rps20161109_134033_123.jpg

kabargresik.com – Dikenal sebagai kota santri, Gresik tentu tidak asing lagi dengan rebana. Salah satu alat musik tradisional yang sering digunakan pada acara keagamaan, biasanya juga dijadikan aksesoris. Banyaknya kebutuhan rebana, membuat usaha pembuatan rebana di Gresik semakin dikenal bahkan sampai ke mancanegara.

Salah satu usaha pengrajin rebana di Gresik ada di kecamatan Bungah, tepatnya di Jl. Raya Bungah-Dukun no.41. Moh. Nashihan Sanusi (37) mengaku meneruskan usaha keluarga yang telah dirintis oleh ayahnya (Sanusi) sejak tahun 1953. Termasuk usaha pengrajin rebana tertua yang ada di daerah sekitarnya. Sejak meninggalnya sang ayah pada tahun 2002, Nashihan meneruskan usaha keluarganya tersebut. Usaha yang telah berdiri selama 63 tahun, kini menjadi salah satu UMKM binaan pemerintah kabupaten Gresik.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Meskipun usaha sudah berdiri sejak lama, kerajinan tangan yang terbuat dari kayu dan kulit kambing ini masih dibuat secara manual. Dibantu oleh 3 karyawannya, Nashihan menuturkan bahwa setiap harinya bisa memproduksi 10 rebana tergantung pada musim dan cuaca. “Untuk membuat rebana kita butuh cuaca yang panas. Soalnya untuk dapat suara yang bagus, kulitnya harus dijemur dulu”, ujarnya. Walaupun sudah mengenal pembuatan rebana sejak kecil, namun menurutnya tidak mudah untuk membuatnya. Karena memerlukan insting yang tepat untuk mendapatkan hasil suara yang bagus.

Baca Juga :  SMK Nurul Hidayah Gresik Luncurkan Sanggar Teater Al-Kaf, Angkat Seni Berbasis Nilai Keislaman

Dalam pembuatan rebana juga perlu memilih bahan yang bagus untuk medapatkan kualitas terbaik, mulai dari jenis kayu yang digunakan. Nashihan sendiri memilih beberapa jenis kayu, seperti kayu jati, mahoni, imbo, nangka, dan kayu pohon mangga. Bahkan untuk bahan kulit, hanya kulit kambing betina yang bisa digukan. “Kulit kambing betina itu memili suara yang lebih nyaring, terus kalau dipukul juga tidak terlalu kasar dan sakit ditelapak tangan”, jelas Nashihan.

Harga jual dari alat musik rebana ini terdapat berbagai macam berdasarkan permintaan pelanggan. Jika ingin membeli per biji maka harga jual mulai 200 ribu Rupiah. Namun jika dalam bentuk set, maka satu set rebana Al-banjari dijual sekisar harga Rp.1.900.000 hingga Rp.2.400.000,- tergantung pada permintaan pelanggan.

Saat ini usaha Rebana Sanusi milik Nashihan tidak hanya dipasarkan di daerah Gresik saja, namun hampir seluruh daerah di Jawa Timur, bahkan keluar pulau jawa, hingga mancanegara seperti Malaysia. Kebanyakan pelanggan rebana ini adalah pelanggan dari sang ayah (Sanusi) yang masih setia sampai sekarang. Nashihan mengaku usaha rebana yang dijalankan ini pernah mendapat omset hingga 50 juta setiap bulannya, “pernah dapat omset lebih dari 50 juta, saat peringatan bulan Islam. Seperti bulan maulid (mulutan), atau peringatan hari islam lainnya”, jelasnya.

Baca Juga :  Ada Bukit Jamur, Bungah Jadi Desa Wisata

Meskipun sudah mencapai omset tinggi dan pemasaran hingga mancanegara, pada era MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) ini Nashihan mengaku sedih dan kualahan. Bukan karena semakin banyaknya permintaan, namun hal sebaliknya. Karena di era MEA, saingannya bukan hanya di Indonesia, melainkan seluruh negara Asean. Sedangkan usaha Rebana Sanusi ini masih dijalankan dengan cara tradisional.  Dan tidak banyak orang yang memiliki kemampuan dalam membuat kerajinan ini.

Dengan berbagai kendala yang dihadapi, Nashihan berharap pihak pemerintah kabupaten memberikan dukungan yang lebih pada UMKM yang ada di Gresik. Misalnya dengan memberikan fasilitas, memberi pelatihan agar semakin banyak orang yang memiliki kemampuan usaha, atau memberikan hak paten merek pada suatu produk. Karena meskipun sudah berdiri 63 tahun, namun rebana sanusi ini belum memiliki merek yang dipatenkan oleh pemerintah. “kita belum ada merek yang paten, jadi kalau mengirim keluar pulau apalagi mancanegara ya kita tidak pakai merek”, yhar Nashihan.

Selain hak paten merek, Nashihan juga berharap ada pelatihan untuk mengembangkan usaha termasuk pemasaran. Karena ia mengaku kendala yang paling sering dihadapi sampai saat ini adalah pemasaran dan modal. (Linda/mg2/tik)

Follow WhatsApp Channel www.kabargresik.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

PetroNite Fest 2026 Putar Uang Rp14,4 Miliar
SIG Pasok Beton Ramah Lingkungan untuk Sekolah Rakyat
JIIPE Dorong Industri Berkelanjutan di Gresik
Tumpeng Nasi Krawu KWGe Masuk Rekor Dunia MURI
Foto kepala Gajah Melayang Curi Perhatian di Petronite Fest 2026
Tumpeng Nasi Krawu Gresik Habiskan 210 Kg Daging
Rektor UMG Dorong Kurikulum Baru untuk Tenaga Kerja Lokal Gresik
Investasi KEK Gresik Tembus Rp113,4 Triliun, Pemerintah Dukung Perluasan Kawasan
Berita ini 263 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 13 Juli 2026 - 21:42 WIB

PetroNite Fest 2026 Putar Uang Rp14,4 Miliar

Kamis, 2 Juli 2026 - 19:02 WIB

SIG Pasok Beton Ramah Lingkungan untuk Sekolah Rakyat

Selasa, 30 Juni 2026 - 18:11 WIB

JIIPE Dorong Industri Berkelanjutan di Gresik

Minggu, 28 Juni 2026 - 16:39 WIB

Tumpeng Nasi Krawu KWGe Masuk Rekor Dunia MURI

Minggu, 28 Juni 2026 - 00:09 WIB

Foto kepala Gajah Melayang Curi Perhatian di Petronite Fest 2026

Berita Terbaru

Muhammadiyah Gresik

Mutu Gressi Guncang Pembukaan Fortasi Spemutu

Selasa, 14 Jul 2026 - 08:34 WIB

Muhammadiyah Gresik

Evan Dimas dan Ayunda Motivasi Siswa Spemdalas Gresik

Senin, 13 Jul 2026 - 23:32 WIB

BISNIS

PetroNite Fest 2026 Putar Uang Rp14,4 Miliar

Senin, 13 Jul 2026 - 21:42 WIB