Lima komunitas film lokal mengikuti ajang Kemah Sinema di Bumi Perkemahan Lembah Kidang Kuning, Desa Suci, Gresik, pada 31 Oktober hingga 1 November 2026. Kegiatan di antara kawasan bukit kapur dan bekas galian tambang ini menandai dibukanya program “Gresik Bikin Film” yang diinisiasi oleh komunitas Gresik Movie.
Kelima kelompok yang lolos tahap kurasi tersebut adalah Visit M2G, Lumens Cineart, Movie MANSAGRES, EBnG Studio, dan Klayar Studio. Hadir dengan latar belakang dan pengalaman yang beragam, seluruh peserta akan menjalani proses pembinaan serta pendampingan intensif hingga awal Januari 2027 untuk memproduksi karya film.
Selama program berlangsung, para peserta mendapatkan fasilitas lengkap mulai dari lokakarya, kelas materi, hingga dukungan produksi yang mencakup tahapan praproduksi, produksi, pascaproduksi, dan ekshibisi. Materi pembekalan diisi oleh para praktisi berpengalaman, meliputi kelas produser, pengembangan ide cerita, penyutradaraan, keaktoran, tata suara, sinematografi (Director of Photography), hingga strategi ekshibisi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Direktur Festival Gresik Movie, Ananda Shandy, menyatakan bahwa program ini dirancang untuk mendorong para sineas mengenali dan merekam potensi daerahnya sendiri melalui karya audiovisual.
“Melalui program ini, kami ingin teman-teman mampu melihat Gresik lebih dekat, menggali potensi cerita, dan mengolah pengetahuan menjadi arsip dalam bentuk film. Sekaligus, kami ingin memperkuat kolaborasi melalui pendampingan serta membuka berbagai kemungkinan untuk menunjang ekosistem film di Gresik agar terus tumbuh,” ujar Ananda.
Kabupaten Gresik memiliki keragaman kultur dan lanskap yang kaya, mulai dari budaya pesisir di kawasan utara, wilayah perkotaan berbasis industri, kawasan agraris, hingga cerita lokal khas daerah kepulauan. Keragaman tersebut menyimpan potensi narasi yang luas, baik mengenai kehidupan sosial masyarakat, peristiwa alam, tradisi, maupun pengetahuan lokal yang diwariskan secara turun-temurun.
Melalui pendekatan ini, Gresik Movie mendorong peserta untuk menggali cerita dengan terlibat langsung bersama warga dan lingkungan sekitar. Film yang dihasilkan tidak hanya diposisikan sebagai produk seni, tetapi juga sebagai medium untuk merawat memori kolektif masyarakat sekaligus memperkuat ekosistem perfilman di daerah.











